Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

22 Januari 2014

Outlook Tapering Off, Emas Turun Tajam Dalam 3 Pekan Terakhir

Bloomberg (21/01) – Emas turun tajam dalam tiga pekan terakhir sejalan dengan spekulasi bahwa Federal Reserve akan melanjutkan pengurangan stimulus yang mendorong dollar dan mempengaruhi daya tarik logam sebagai sebuah alternatif investasi.Indeks Spot Dollar Bloomberg, indeks mata uang dollar terhadap 10 mata uang lainnya, menuju rally tertingginya sejak bulan November lalu. Federal Reserve memangkas pembelian obligasi bulanannya menjadi $75 miliar dari $85 miliar di bulan Desember dan kemungkinan akan memangkas pembelian sebesar $10 miliar pada setiap pertemuan hingga akhir program pada tahun ini, berdasarkan pada survei Bloomberg yang dilakukan pada tanggal 10 Januari lalu. Pertemuan bank sentral mendatang pada tanggal 28-29 Januari.Emas untuk pengiriman langsung turun 1.3% ke level $1,238.89 per ounce pada pukul 10:05 pagi di New York, menuju ke level penurunan tertingginya sejak tanggal 30 Desember lalu.Sementara di Comex, New York, emas berjangka untuk pengiriman bulan Februari turun 1.1% ke level $1,238.50. Perdagangan sebesar 69% lebih tinggi dari 100 hari rata-rata untuk saat ini, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg. Logam mulia tergelincir sebesar 28% pada tahun lalu, penurunan tajam sejak tahun 1981, pasca beberapa investor kehilangan kepercayaan pada logam sebagai tempat lindung nilai. Emas naik 70% dari bulan Desember 2008 hingga June 2011 sejalan dengan Federal Reserve memompa dana lebih dari $2 triliun ke sistem keuangannya.Perak untuk pengiriman langsung turun 2.4% ke level $19.8281 per ounce di London. Palladium turun 1% ke level $741.75 per ounce. Platinum tergelincir 1.8% ke level $1,442.38 per ounce. Logam mencapai level $1,472 kemarin, tertinggi sejak tanggal 7 November lalu, sejalan dengan beberapa pekerja tambang berencana untuk melakukan pemogokan di Afrika Selatan. (bgs)