Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

29 Maret 2013

BursaHK Ditutup Turun Pada Regulasi Perbankan Baru



Bloomberg (28/03) – Pasar saham Hong Kong berakhir rendah, dengan indeks acuan HK mencatat penurunan kuartalan pertamanya sejak Juni, dipimpin oleh perbankan China setelah regulator perbankan China memperketat aturan tentang produk manajemen kekayaan (wealthmanagement). Indeks Hang Seng tergelincir 0,7 persen di posisi 22,299.63 pada penutupan perdagangan di Hong Kong, dengan sekitar empat saham jatuh untuk setiap satu yang naik. Hang Seng China Enterprises Index turun 1,3 persenmenjadi 10,897.22. "Pembatasan itu mengejutkan pasar," kata Yoji Takeda, dari RBC Investment Management (Asia) Ltd. "Pemerintah China bahwa merasa inflasi telah menjadi masalah baru dan mereka harus mengambil beberapa langkah-langkah preventif. Untuk jangka pendek ada sedikit kejutan untuk pasar, namun untuk jangka panjang, masih ada lingkungan yang sangat baik untuk ekuitas denganmembaiknya perekonomian global." Pasar saham akan ditutup selama libur Paskah menjelang akhir pekan empat hari mulai besok dan melanjutkan perdagangan pada 2 April mendatang. Indeks ini jatuh sebesar 1,6 persen selama kuartal pertama 2013, akibat kekhawatiran China yang akan menambah kebijakan pembatasan properti dan bahwa krisis perbankan Siprus akan menyalakan kembali krisis utang Eropa yang lebih luas. Saham-saham finansial menjadi kontributor penurunan terbesar pada indeks Hang Seng setelah regulator perbankan China mengatakan kepada bank-bank kemarin untuk membatasi investasi dana klien dalam aset kredit hingga 35 persen dari semua uang yang diperoleh dari penjualan produk wealth management. Pengembang properti China jatuh di tengah laporan pembatasan properti. Shenzhen akan meningkatkan uang muka untuk pembelian rumah kedua menjadi 70 persen dari 60 persen saat ini,menurut laporan 21th Century Business Herald. (brc)