Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

15 Maret 2018

Kontak Perkasa Futures | Tumpukan Utang RI dari Zaman Soeharto hingga Jokowi

Kontak Perkasa – Terbatasnya Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN dibandingkan target dari capaian pembangunan nasional membuat pemerintah akhirnya harus menutup defisit dengan sejumlah kebijakan pinjaman atau utang.

Sejak pemerintahan Presiden Soeharto hingga Jokowi, tambal sulam APBN terus dilakukan guna menjaga target pembangunan nasional tercapai. Upaya tersebut diakui pemerintah terus dijaga kesehatannya sehingga APBN tetap prudent.

Bahkan, pemerintahan Presiden Jokowi terang-terangan menyatakan bahwa bertambahnya utang pemerintah dilakukan hanya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di bidang infrastruktur dari negara tetangga.

Adapun berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga 30 September 2017 total outstanding utang pemerintah telah mencapai Rp3.866,4 triliun atau setara US$286,5 miliar.

Angka tersebut naik sekitar Rp1.257,6 triliun dibandingkan jumlah utang yang ditinggalkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada akhir 2014 lalu yang sebesar Rp2.608,8 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, jumlah utang RI saat ini memang secara nominal meningkat dari tahun ke tahun. Namun hal itu tentu harus dilihat secara keseluruhan karena utang digunakan untuk mengejar tujuan APBN.

Menurut dia, utang RI saat ini jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju di dunia secara nominal sangat kecil. Bahkan, seperti Jepang dan AS saja utang RI justru kecil sekali dan secara GDP terus menurun.  

"Jadi APBN dan utang itu instrumen bukan tujuan. Dan jika ada yang bilang nominal utang semakin tinggi, kita tidak menuju ke sana. Sebab, UU kita tidak bolehkan utang lebih dari 60 persen PDB," tegasnya beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun VIVA, sejak krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 Presiden Soeharto telah meninggalkan utang pemerintah sebesar Rp551 triliun atau setara US$68,7 miliar.

Kemudian, utang berlanjut di pemerintahan Presiden BJ Habibie pada akhir 1999 dengan outstanding mencapai Rp938,8 triliun atau setara US$132,2 miliar. Lalu, Presiden Gus Dur pada akhir 2001 naik menjadi Rp1.232,8 triliun.

Sementara, pada era Presiden Megawati utang yang ditinggalkan pada 2004 mencapai Rp1.298 triliun atau setara US$139,7 miliar. Dan pada era SBY selesai pada 2014 utang ditinggalkan sebesar Rp2.608,8 triliun.

14 Maret 2018

Kontak Perkasa Futures | 20 Maret, Pemerintah Bakal Lelang Lagi SBSN Rp8 Triliun


Kontak Perkasa, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan kembali melakukan Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 20 Maret mendatang. Hal itu dilakukan sebagai salah satu strategi untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN.

Mengacu pada keterangan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Selasa (13/3/2018), target dana indikatif dari lelang SBSN tersebut mencapai Rp8 triliun dari enam seri SBSN yang akan dilelang. Adapun seri yang akan dilelang adalah seri SPN-S 07092018 (reopening) yang jatuh tempo 7 September 2018 dengan imbalan diskonto.

Kemudian, PBS016 (reopening) yang jatuh tempo 15 Maret 2020 dengan imbalan 6,2500%. Seri PBS002 (reopening) yang jatuh tempo 15 Januari 2022 dengan imbalan 5,4500% juga bakal dilelang.

Ada juga seri PBS017 (reopening) yang jatuh tempo 15 Oktober 2025 dengan imbalan 6,12500%, PBS012 (reopening) yang jatuh tempo 15 November 2031 dengan imbalan 8,87500% dan PBS004 (reopening) yang jatuh tempo 15 Februari 2037 dengan imbalan 6,1000%.

13 Maret 2018

BEI Kalteng Dorong Pedagang Tradisional Jadi Investor

Kontak Perkasa, - Palangka raya, Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Palangka Raya, Kalimantan Tengah mendorong para pedagang di pasar tradisional menjadi investor di pasar modal Indonesia.

"Untuk triwulan pertama tahun ini kita targetkan satu galeri investasi di area pasar tradisional dapat terbentuk. Ini guna mendorong minat para pedagang tradisional untuk menjadi investor baru di pasar modal," kata Kepala Kantor BEI Kantor Perwakilan Palangka Raya, Cahyanto Kristadi, di Palangka Raya, Senin (12/3/2018).

Cahyanto Kristadi mengatakan satu galeri di Pasar Kahayan, "Kota Cantik" Palangka Raya segera terbentuk.

Untuk itu, saat ini terus berkoordinasi dengan pihak terkait terutama pemerintah daerah selaku penanggung jawab pengelolaan pasar tradisional.

"Ke depan, tidak hanya pasar tradisional di Palangka Raya namun kita harap juga bisa merambah ke pasar tradisional lain di Kalteng," katanya.

Dia menerangkan, salah satu syarat utama pendirian galeri di pasar tradisional ialah ketersediaan dan dukungan pemerintah daerah untuk membentuk galeri investasi itu.

Selain pasar tradisional, BEI Kantor Perwakilan Palangka Raya yang wilayah kerjanya mencakup Provinsi Kalimantan Tengah juga menargetkan minimal membentuk dua galeri investasi di tingkat universitas.

"Sampai saat ini, untuk wilayah Kalteng sudah terbentuk empat galeri investasi dan untuk tahun ini minimal dua galeri investasi di tingkat universitas juga akan terbentuk lagi," katanya.

BEI Kantor Perwakilan Palangka Raya pun mengaku siap memfasilitasi pembentukan galeri investasi maupun pemberian materi investasi di pasar modal jika ada pihak lain baik instansi swasta dan pemerintah yang memintanya.

Masyarakat pun diimbau jeli dan berhati-hati saat berinvestasi agar terhindar dalam praktik-praktik investasi bodong yang menawarkan keuntungan besar dalam jangka pendek. Pada 2018, BEI Kantor Perwakilan Palangka Raya menargetkan 1.200 orang yang akan menjadi investor baru di pasar modal. Pihaknya pun mencatat hingga akhir 2017 sebanyak 2.459 masyarakat di Kalimantan Tengah telah bergabung menjadi investor di pasar modal Indonesia.