Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

14 Agustus 2019

Waspada! Harga Emas Hari Ini Rentan Koreksi, Ambil Untung?



Pt. kontak perkasa futures - Harga emas dunia melanjutkan penguatan perdagangan Selasa (13/8/19). Kekhawatiran para pemilik modal akan terjadinya perlambatan ekonomi global dan resesi di Amerika Serikat (AS) semakin memuncak. 

Pada perdagangan tengah hari kemarin, harga emas dunia sudah tembus US$ 1.519,75/troy ons pada pukul 12:50 WIB, melansir data investing.com. 



Sercara teknikal, jika melihat grafik harian harga emas masih bergerak di atas rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), dan MA 21 hari (garis merah), dan atas MA 125 hari (garis hijau). 

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif dan bergerak naik, histogram juga di area positif. Indikator ini memberikan gambaran peluang penguatan emas dalam jangka menengah.



Pada time frame 1 jam, emas bergerak di atas MA 8, dan MA 21 namun masih di atas MA 125. Indikator stochastic bergerak naik dan berada di wilayah jenuh beli (overbought). Indikator terakhir tersebut membuka peluang koreksi harga emas emas. 

Resisten terdekat berada di kisaran US$ 1.521, selama tertahan di bawah level tersebut, emas berpotensi turun ke area US$ 1.515. Penembusan di bawah level tersebut akan membuka peluang penurunan ke area US$ 1.508. 

Selama tidak menembus ke bawah US$ 1.508, logam mulai masih berpotensi kembali menguat, apalagi jika mampu bertahan di atas US$ 1.515. Penembusan ke atas resisten US$ 1.521 akan membawa emas ke resisten kuat US$ 1.526. Jika mampu menembus resisten kuat tersebut, emas akan terbang lebih tinggi lagi.

Selain faktor teknikal, sentimen lain yang mempengaruhi harga logam mulia ini adalah kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia yang semakin nyata.

Sejumlah sentimen negatif menghantui pelaku ekonomi, mulai dari perang dagang plus bumbu potensi currency war (perang mata uang), kebijakan moneter longgar dari banyak bank sentral dunia, dan adanya kerusuhan di Hong Kong, yang merupakan salah satu hub finansial global. 

Faktanya para ekonom, pelaku pasar, pengusaha dan pejabat pemerintahan kini semakin pesimistis perang dagang antara AS dengan China akan segera berakhir. Efeknya perekonomian global akan semakin melambat, dan ancaman resesi semakin nyata.

Bahkan Goldman Sachs sudah sangat pesimistis akan terjadikesepakatan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu terjadi sebelum pemilihan presiden AS tahun 2020 nanti. Bahkan lembaga keuangan asal AS ini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Paman Sam untuk kuartal IV-2019 menjadi 1,8% dari sebelumnya 2,0%.

Sementara itu, bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) kembali mendepresiasi nilai tukar yuan terhadap dolar AS pada hari ini. Langkah dari PBoC tersebut dikhawatirkan akan membuat AS ikut melemahkan dolar, dan currency war akan segera dimulai. 

PBoC menetapkan nilai tengah yuan di level 7,0362/US$ lebih lemah dari kemarin 7,0136/US$. Penasehat perdagangan Presiden Trump, Peter Navaro, pada Jumat (9/8/19) lalu mengatakan AS akan mengambil tindakan keras jika Beijing terus mendepresiasi mata uangnya. 

"Jelas, mereka (China) memanipulasi mata uangnya dari sudut pandang perdagangan" kata Navaro dalam acara Closing Bell CNBC International pada Jumat lalu. "Jika mereka terus melakukannya, kita (AS) akan mengambil tindakan keras pada mereka" tegas Navaro.

Jika perang mata uang terjadi, ancaman resesi akan semakin menjadi nyata. Kondisi ketidakpastian global yang sangat tinggi membuat bank sentral AS akan kembali agresif dalam memangkas suku bunga di tahun ini. 

Data piranti FedWatch milik CME Group menunjukkan probabilitas suku bunga The Fed 1,25%-1,5% di bulan Desember sebesar 42%, menjadi yang tertinggi dibandingkan probabilitas level lainnya. Persentase tersebut tidak terlalu jauh dengan probabilitas suku bunga sebesar 1,5%-1,75% sebesar 40,5%. 

Data tersebut menunjukkan pelaku pasar melihat The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali lagi tahun ini. Pemangkasan suku bunga paling cepat akan dilakukan pada September sebesar 25 basis poin menjadi 2%-2,25% dengan probabilitas sebesar 81,2%, berdasarkan peranti FedWatch siang ini. 

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, juga aset lindung nilai terhadap inflasi sehingga penurunan suku bunga oleh The Fed akan menguntungkan bagi emas karena opportunity cost yang berkurang. 

Pada pekan lalu ada empat bank sentral yang memangkas suku bunga acuannya, tiga diantaranya lebih besar dari prediksi pelaku pasar. Kebijakan bank sentral di berbagai negara tersebut menunjukkan perekonomian global sedang mengalami pelambatan yang serius.

www.cnbcindonesia.com/market/20190813203459-17-91820/waspada-harga-emas-hari-ini-rentan-koreksi-ambil-untung

13 Agustus 2019

Rekor Terus! Sampai Level Berapa Harga Emas Meroket?




PT. Kontak Perkasa Futures - Harga emas terus dan terus mencetak rekor selama 6 hari berturut-turut. Pada perdagangan Kamis lalu (8/8/2019), emas telah mencetak rekor menembus harga psikologis ke Rp 704.000/gram.

Harga tersebut bahkan naik 1% dibanding dengan harga di perdagangan Rabu (7/8/2019) di 697.000/gram. Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung di situs logammulia milik Antam Kamis kemarin, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram menguat menjadi Rp 70,4 juta dari harga kemarin Rp 69,7 juta per batang. 

Kenaikan harga emas Antam ini sejalan dengan naiknya harga emas di pasar spot global yang juga menembus level psikologis US$ 1.500 per troy ounce. 


Namun setelah rekor 6 hari, pada Jumat kemarin (9/8/2019), harga emas Antam turun Rp 1.000 menjadi Rp 703.000/gram.

Apa penyebab harga emas ini sebelumnya terus menguat dalam 6 hari? Apa mungkin harganya terus menguat dan tembus ke Rp 900.000/gram? 

Perlu diketahui, harga emas pernah mencapai harga tertingginya di US$ 1.920,30 per troy ounce pada September 2011, berdasarkan data Refinitiv. 

Pendongkrak kenaikan harga ini adalah adanya krisis keuangan Amerika yang akrab disebut subprime mortgage yang terjadi sejak 2008. 

Kondisi ini membuat The Fed agresif menurunkan suku bunga. Dalam 2 tahun, Federal Reserve telah menurunkan suku bunga sebanyak lima kali dengan total penurunan 500 basis poin atau 5%. 

Nah, saat ini global sedang dihantui kembali terjadinya perlambatan ekonomi. Beberapa faktor yang sama sudah mulai muncul, terutama langkah bank sentral untuk menurunkan suku bunga. 

Pada Rabu (7/8/2019), beberapa bank sentral mengambil keputusan untuk menurunkan suku bunga acuannya. 

Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) menurunkan suku bunga acuan 35 bps ke 5,4%. Kemudian Bank Sentral Thailand (BoT) juga menurunkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 1,5%. Bank Sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ) secara mengejutkan juga memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). 

Perkiraan kenaikan harga emas yang menembus Rp 900.000/gram ini ternyata bukan barang baru. Pendapat yang sama pernah disampaikan pada Juli lalu seiring dengan prediksi harga emas dunia yang diproyeksikan mencapai US$ 2.000 per troy ounce. 

Satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram. Dengan hitungan itu, besaran US$ 2.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 64,31 per gram. 

Dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.100 per dolar AS maka prediksi harga emas yakni setara dengan Rp 906.771 per gram. 

David Roche, Presiden dan ahli strategi global dari Independent Strategy yang berbasis di London, memprediksi tren kenaikan harga emas dapat berlanjut karena tensi perang dagang masih ada. 

"Saya meyakini saat ini pasar keuangan sekarang siap hancur seperti tumpukan pasir," ujar Roche, dilansir CNBC International. Dia juga turut menyarankan investor global untuk menahan portofolio investasinya di emas, obligasi pemerintah Eropa, dan obligasi terbitan pemerintah AS yaitu US Treasury. 

Dia juga berpendapat bahwa perang dagang yang dipicu langkah-langkah agresif Amerika Serikat akan berdampak sangat luas, berskala besar, memicu konflik global, dan menekan ekspektasi pertumbuhan di pasar saham. 

Tim Riset CNBC Indonesia memperkirakan secara analisis teknikal, secara jangka menengah outlook emas masih sama yakni menguat dengan target ke US$ 1.569 per troy ounce, sebelum level tersebut ada dua resisten (tahanan atas) yang kuat yakni US$ 1.526, dan US$ 1.540. 

Pada perdagangan Jumat kemarin, CNBC International mencatat harga emas dunia turun 0,09% di level US$ 1.508 per troy ounce. Jika mengacu kurs Bank Indonesia per Jumat kemarin, Rp 14.195/US$, maka besaran per gram yakni US$ 48.48/gram atau Rp 688.174/gram.  

Dengan kondisi tersebut dan sentimen yang mewarnainya, apakah sejarah harga emas menuju Rp 900.000/gram ini akan kembali terjadi?

Tak terbendung, harga emas 6 hari rekor.

www.cnbcindonesia.com/investment/20190810101755-21-91097/rekor-terus-sampai-level-berapa-harga-emas-meroket

12 Agustus 2019

Anak Muda Ini Bisa Cuan Rp 1 M/Bulan, Emang Beli Saham Apa?




PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Investasi saham kian mendapat tempat di kalangan anak muda alias milenial. Beberapa di antaranya bahkan sudah mendapatkan cuan atau keuntungan dari investasi mereka di pasar modal, terutama lewat instrumen saham perusahaan terbuka (emiten) yang mereka beli.

Salah satu di antara anak muda itu yakni Belvin Tannadi, seorang investor muda yang sukses di pasar saham Tanah Air. Belvin merupakan pemuda asal Medan yang awalnya bingung mencari investasi di tengah banyaknya pilihan.

Dia pun akhirnya menentukan pilihan yakni memilih investasi saham emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga akhir Juli lalu, sudah ada lebih dari 649 emiten di BEI yang bisa dipilih. Terakhir pencatatan saham perdana dari PT Hensel Davest Indonesia Tbk. (HDIT) pada Jumat 12 Juli lalu.


"Awalnya mau mencari investasi tapi kebanyakan pilihan, ada teman saya bilang kok tidak coba yang legal soalnya baru terjun jadi takut ada bodong jadi teman saya cari legal yakni di BEI," kata Belvin kepada CNBC Indonesia, belum lama ini.

Pemilik situs Ilmusaham.com ini mulai berinvestasi saham sejak tahun 2014 dengan modal awal Rp 12 juta. Selama setahun pertama atau 2015 menurutnya terjadi fluktuasi di tengah perlambatan ekonomi sehingga dia pun berusaha memahami terlebih dulu saham dan risikonya agar tidak panik saat pasar sedang turun.

Adapun alasan dia memilih saham karena saham memiliki potensi pertumbuhan paling tinggi dari semua jenis instrumen lain dibandingkan dengan obligasi dan reksa dana. Pengetahuan ini dia pelajari secara otodidak dengan mempelajari analisis teknikal double bottom dan rajin membaca buku tentang saham.

Lulusan Sastra China dari STBA Persahabatan Internasional Asia ini mengatakan jangan pernah berinvestasi ke sesuatu yang tidak diketahui risiko maksimalnya.

Sebab itu, strateginya yakni memilih perusahaan atau emiten yang besar dan fundamental baik yang masuk dalam Indeks LQ45 seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).

Indeks LQ45 adalah salah satu indeks patokan di BEI yang berisi 45 saham emiten paling likuid diperdagangkan. Indeks ini selalu diperbaharui oleh BEI setiap 6 bulan.

Belvin pun membagi pengalamannya menuai keuntungan dari investasi saham.

"Sekarang saya beli saham Sampoerna [PT HM Sampoerna Tbk/HMSP] untuk investasi," ujar dia. 

ak ingin salah langkah, dia pun mulai menganalisa pasar dan tidak langsung berinvestasi dengan uang besar. Hingga hampir 5 tahun berinvestasi saham dia pun mendapatkan keuntungan hampir Rp 1 miliar per bulan, tentu dengan selalu melakukan top up atau penambahan modal. 

"Jadi dari Rp 12 juta selalu di top up dan cuan-nya naik turun per bulan. Kalau saya enggak tentu dari saham untung nya ada miliaran. Dari untung itu saya sudah dapatkan, mobil, tanah, dan properti lainnya," kata dia yang menekankan bahwa Rp 12 juta tersebut adalah modal awal saja, yang kemudian ditambah terus sesuai dengan tingkat keuntungan.

Untuk tips bagi calon investor, Belvin menyarankan agar calon investor mempelajari juga tentang saham blue chip alias saham-saham unggulan di BEI. 

Belvin menjelaskan bahwa blue chip adalah istilah pasar modal yang mengacu pada saham dari perusahaan besar yang memiliki pendapatan stabil dan liabilitas dalam jumlah tidak terlalu banyak. 

"Saran bagi yang ingin investasi cari yang blue chip itu didapat dari saham [yang masuk anggota] Indek LQ45 yang ROE rata-rata 4 tahunnya di atas 15%, laba stabil dan ekuitas bertumbuh. Saham blue chip biasanya akan memberikan dividen [keuntungan dari laba yang dibagikan kepada investor] secara reguler sekalipun bisnis berjalan lebih buruk dari biasanya," paparnya. 

Selain itu, katanya, lakukanlah deposit 30% cash terlebih dahulu dari keseluruhan dana investor. "Setelah itu jika ada saham yang bagus belilah maksimal dana 10% dari total dana yang disetorkan [di deposit] dan jangan langsung dibelikan semua," katanya.

"Jika Anda sudah merasa mahir dalam bisnis ini maka lakukan top-upsecara berkala. Terakhir, bukalah komunikasi dengan komunitas saham agar Anda mendapatkan banyak informasi," kata Belvin.

YUK INVESTASI


www.cnbcindonesia.com/market/20190811211317-17-91203/anak-muda-ini-bisa-cuan-rp-1-m-bulan-emang-beli-saham-apa