19 Juni 2014
Rupiah Kamis pagi menguat 63 poin menjadi Rp11.933
Juni 19, 2014
News Market
Nilai tukar rupiah
yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Kamis pagi menguat sebesar 63
poin menjadi Rp11.933 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.996 per
dolar AS. Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta,
Kamis mengatakan bahwa dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang
utama dunia, termasuk rupiah pasca bank sentral AS (the Fed) memangkas
outlook pertumbuhan ekonominya untuk tahun ini menjadi 2,1-2,3 persen,
dan mempertahankan suku bunganya di level 0,25 persen.
Ia menambahkan bahwa sesuai perkiraan, the Fed juga mengurangi
target pembelian obligasi bulanan menjadi 35 miliar dolar AS.
"Sepertinya the Fed masih akan terus mempertahankan sikap kebijakan
akomodatif, sehingga fluktuasi pasar keuangan di dalam negeri kembali
stabil setelah mengalami tekanan cukup signifikan," katanya.
Ia mengatakan bahwa melebarnya defisit neraca transaksi berjalan AS
menjadi 111,2 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun ini juga masih
menjadi salah satu sentimen negatif bagi dolar AS.
Kendati demikian, lanjut dia, penguatan rupiah masih dibayangi oleh
konflik di Irak yang memicu peningkatan harga minyak dunia. Di sisi
lain, masih berlanjutnya krisis di Ukraina juga akan mendorong harga gas
naik.
"Kondisi itu masih menjadi kekhawatiran investor di dalam negeri
karena dapat menambah beban subsidi bahan bakar minyak sehingga dapat
memperbesar defisit neraca perdagangan Indonesia dan dampaknya kepada
transaksi berjalan,"
18 Juni 2014
Saham bursa Tokyo menguat, indeks Nikkei ditutup naik
Juni 18, 2014
Nikkei 225
Bursa saham Tokyo
ditutup naik 0,93 persen pada Rabu, karena dolar yang lebih kuat
mendukung pengekspor saat para investor menunggu keputusan pertemuan
kebijakan Federal Reserve AS hari ini. Indeks acuan Nikkei 225
naik 139,83 poin menjadi 15.115,80 dan indeks Topix dari semua saham
papan utama ditutup naik 0,88 persen atau 10,95 poin ke posisi 1.249,15.
Volume perdagangan rendah karena banyak investor di luar pasar
menjelang keputusan kebijakan Fed dan konferensi pers berikutnya.
"Saat ini tidak ada arah yang jelas ke pasar, dan orang-orang ingin
tahu apa yang diharapkan, terutama karena BoJ (bank sentral Jepang)
tampaknya tak melakukan apa-apa untuk membantu saham," seorang direktur
perdagangan ekuitas di perusahaan pialang Eropa mengatakan kepada Dow
Jones Newswires.
BoJ pekan lalu menahan diri untuk memperluas program stimulusnya
dan mengatakan ekonomi nomor tiga di dunia itu mulai pulih, meski ada
kekhawatiran kenaikan pajak penjualan baru-baru ini akan menghambat
pertumbuhan.
The Fed diperkirakan tidak akan membuat perubahan kebijakan saat
ini -- suku bunga federal fund akan tetap mendekati nol dan pembelian
obligasi stimulus bulanan kemungkinan akan kembali dikurangi 10 miliar
dolar AS menjadi 35 miliar dolar AS di jalur untuk disudahi pada akhir
tahun ini.
Tetapi dealer akan mempelajari proyeksi ekonominya untuk petunjuk
tentang kapan bank sentral akan mulai menaikkan suku bunga acuannya. Para pembuat kebijakan akan mengambil data Selasa yang menunjukkan
inflasi AS pada 2,1 persen pada Mei, tingkat tertinggi sejak Oktober
2012.
Dalam perdagangan valuta asing, dolar dibeli 102,27 yen di Tokyo, terhadap 102,13 yen di New York.
Pengekspor utama Jepang naik karena yen yang lebih lemah,
meningkatkan profitabilitas mereka. Saham Toyota naik 1,06 persen
menjadi 5.884 yen dan Canon naik 0,32 persen menjadi 3.402 yen.
Saham-saham kelas berat juga naik, dengan operator seluler SoftBank
bertambah 1,69 persen menjadi 7.610 yen, demikian mengutip laporan AFP.
Langganan:
Postingan (Atom)














