Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

18 Juni 2014

Rupiah Rabu pagi melemah menjadi Rp11.955

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi melemah sebesar 63 poin menjadi Rp11.955 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.892 per dolar AS. "Masih adanya kekhawatiran peningkatan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Irak akan mengganggu APBN sehingga nantinya dapat mempengaruhi outlook pertumbuhan Indonesia, situasi itu mendorong rupiah terus mengalami tekanan," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Rabu. Di sisi lain, lanjut dia, meningkatnya harga minyak mentah dunia itu juga akan mengganggu perbaikan neraca perdagangan Indonesia, kondisi itu memunculkan persepsi bahwa defisit di neraca perdagangan akan membesar. Ia menambahkan bahwa meningkatnya yield surat utang pemerintah, terutama imbal hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) turut menambah sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Meningkatnya yield obligasi pemerintah memberi kekhawatiran investor di dalam negeri," katanya. Dari eksternal, Reza Priyambada menambahkan bahwa meningkatnya inflasi Amerika Serikat menambah sentimen bagi mata uang dolar AS menguat terhadap mayoritas nilai tukar dunia. "Meningkatnya inflasi AS akan mendorong bank sentral AS (the Fed) untuk menaikkan suku bunga lebih awal dari yang diperkirakan," katanya. Ia menambahkan bahwa naiknya inflasi AS akan membuat the Fed kembali mengurangi program pembelian obligasi bulanannya menjadi 35 miliar dolar AS.

Minyak AS datar dan Brent naik karena ketidakpastian Irak

Harga minyak mentah patokan Amerika Serikat (AS), Selasa pagi WIB, diperdagangkan sedikit berubah di tingkat tertinggi sembilan bulan, sementara Brent North Sea naik moderat karena investor mengamati meningkatnya konflik sekterian di Irak sebagai tanda yang dapat mengganggu pasokan minyak. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, merosot satu persen menjadi ditutup pada 106,90 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Di London, minyak mentah Brent North Sea, yang cenderung bereaksi lebih besar terhadap faktor geopolitik internasional dibandingkan WTI, naik 48 sen menjadi menetap di 112,94 dolar AS per barel. Ini adalah hari pertama perdagangan kontrak berjangka untuk pengiriman Agustus. Kedua kontrak acuan telah ditutup di tertinggi sembilan bulan pada Jumat (13/6), karena pedagang mengamati kekerasan yang meningkat di Irak, pengekspor minyak mentah terbesar kedua OPEC. Kemajuan cepat serangan kelompok militan Sunni dari Negara Islam di Irak dan di Suriah (ISIL) yang menguasai hampir seluruh Irak yang dimulai seminggu lalu, telah mendekati pemerintah di Baghdad yang dipimpin Syiah. Serangan itu telah mengambil alih wilayah di bagian utara negara itu, di mana produksi yang relatif kecil telah hilang dari pasar sejak Maret karena kekerasan. Pada Senin, ketakutan bahwa pemberontakan bisa menyebar ke selatan, di mana terletak sebagian besar infrastruktur minyak Irak, sudah dimasukkan ke harga pasar, kata Bart Melek dari TD Securities. "Selama tentara mempertahankan posisinya dan kecuali jika kita melihat pemberontakan sudah lebih jauh ke selatan, tampaknya tidak ada ancaman langsung terhadap produksi Irak 3,3 juta barel per hari," katanya. James Williams dari WTRG Economics memperingatkan skenario kasus yang lebih buruk akan membuat semua produksi minyak Irak diblokir. "Kalau semua dihentikan tidak ada kapasitas cadangan yang cukup di dunia untuk mengganti persediaan jika Anda menggunakan angka EIA," katanya, merujuk ke Badan Informasi Energi Amerika Serikat, unit statistik Departemen Energi AS.  "Kami hanya bisa menunggu perkembangan di Irak untuk menentukan dampaknya. Sejauh ini harga lebih digerakkan karena faktor aktual daripada dampak perang sipil yang diantisipasi ini."

17 Juni 2014

Dolar AS melemah jelang pertemuan Fed

Kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya, Selasa pagi WIB, karena para pedagang menunggu petunjuk dari pertemuan dua hari Federal Reserve (Fed) yang dimulai Rabu WIB. Para analis memperkirakan bank sentral AS bisa memberikan petunjuk baru tentang waktu kenaikan suku bunga ketika mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari pada Rabu (18/6). Setelah pertemuan pada Mei, Federal Reserve mengumumkan pemotongan lebih lanjut program pembelian obligasi bulanannya sebesar 10 miliar dolar AS menjadi 45 miliar dolar AS, mengacu pada pertumbuhan ekonomi AS yang telah meningkat sebagai prasyarat. Data ekonomi AS datang bergairah pada Senin. Aktivitas manufaktur di wilayah New York pada Juni meningkat secara signifikan untuk bulan kedua berturut-turut, dengan indeks kondisi bisnis umum Empire State mencatat 19,3, setelah mendekati tertinggi empat tahun dari 19,0 pada Mei, Federal Reserve New York melaporkan. Selain itu, produksi industri AS naik 0,6 persen pada Mei setelah turun 0,3 persen pada April, kata Federal Reserve AS. Sementara kepercayaan pengembang AS di pasar untuk bangunan baru, rumah keluarga tunggal, naik menjadi 49 pada Juni, menurut Indeks Pasar Perumahan Asosiasi Nasional Pengembang Perumahan/Wells Fargo yang dirilis Senin. Indeks kepercayaan tetap satu poin di bawah ambang batas untuk apa yang dianggap kondisi bangunan baik, tapi masih mengalahkan ekspektasi pasar. Pada akhir perdagangan di New York, euro naik menjadi 1,3570 dolar dari 1,3533 dolar pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,6979 dolar dari 1,6970 dolar. Dolar Australia turun menjadi 0,9395 dolar dari 0,9398 dolar. Dolar AS dibeli 101,83 yen Jepang, lebih rendah dari 102,02 yen pada sesi sebelumnya. Greenback bergerak turun menjadi 0,8974 franc Swiss dari 0,9005 franc Swiss dan turun menjadi 1,0853 dolar Kanada dari 1,0855 dolar Kanada.