Nilai tukar rupiah
yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi melemah sebesar
63 poin menjadi Rp11.955 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.892 per
dolar AS.
"Masih adanya kekhawatiran peningkatan harga minyak mentah dunia
akibat konflik di Irak akan mengganggu APBN sehingga nantinya dapat
mempengaruhi outlook pertumbuhan Indonesia, situasi itu mendorong rupiah
terus mengalami tekanan," kata Kepala Riset Trust Securities Reza
Priyambada di Jakarta, Rabu.
Di sisi lain, lanjut dia, meningkatnya harga minyak mentah dunia
itu juga akan mengganggu perbaikan neraca perdagangan Indonesia, kondisi
itu memunculkan persepsi bahwa defisit di neraca perdagangan akan
membesar.
Ia menambahkan bahwa meningkatnya yield surat utang pemerintah,
terutama imbal hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) turut
menambah sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Meningkatnya yield obligasi pemerintah memberi kekhawatiran investor di dalam negeri," katanya.
Dari eksternal, Reza Priyambada menambahkan bahwa meningkatnya
inflasi Amerika Serikat menambah sentimen bagi mata uang dolar AS
menguat terhadap mayoritas nilai tukar dunia.
"Meningkatnya inflasi AS akan mendorong bank sentral AS (the Fed)
untuk menaikkan suku bunga lebih awal dari yang diperkirakan," katanya.
Ia menambahkan bahwa naiknya inflasi AS akan membuat the Fed
kembali mengurangi program pembelian obligasi bulanannya menjadi 35
miliar dolar AS.
18 Juni 2014
Minyak AS datar dan Brent naik karena ketidakpastian Irak
Juni 18, 2014
News Market
Harga minyak mentah
patokan Amerika Serikat (AS), Selasa pagi WIB, diperdagangkan sedikit
berubah di tingkat tertinggi sembilan bulan, sementara Brent North Sea naik moderat karena investor mengamati meningkatnya konflik sekterian
di Irak sebagai tanda yang dapat mengganggu pasokan minyak.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, merosot satu persen menjadi ditutup pada
106,90 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent North Sea, yang cenderung
bereaksi lebih besar terhadap faktor geopolitik internasional
dibandingkan WTI, naik 48 sen menjadi menetap di 112,94 dolar AS per
barel. Ini adalah hari pertama perdagangan kontrak berjangka untuk
pengiriman Agustus.
Kedua kontrak acuan telah ditutup di tertinggi sembilan bulan pada
Jumat (13/6), karena pedagang mengamati kekerasan yang meningkat di
Irak, pengekspor minyak mentah terbesar kedua OPEC.
Kemajuan cepat serangan kelompok militan Sunni dari Negara Islam di
Irak dan di Suriah (ISIL) yang menguasai hampir seluruh Irak yang
dimulai seminggu lalu, telah mendekati pemerintah di Baghdad yang
dipimpin Syiah.
Serangan itu telah mengambil alih wilayah di bagian utara negara
itu, di mana produksi yang relatif kecil telah hilang dari pasar sejak
Maret karena kekerasan.
Pada Senin, ketakutan bahwa pemberontakan bisa menyebar ke selatan,
di mana terletak sebagian besar infrastruktur minyak Irak, sudah
dimasukkan ke harga pasar, kata Bart Melek dari TD Securities.
"Selama tentara mempertahankan posisinya dan kecuali jika kita
melihat pemberontakan sudah lebih jauh ke selatan, tampaknya tidak ada
ancaman langsung terhadap produksi Irak 3,3 juta barel per hari,"
katanya.
James Williams dari WTRG Economics memperingatkan skenario kasus
yang lebih buruk akan membuat semua produksi minyak Irak diblokir.
"Kalau semua dihentikan tidak ada kapasitas cadangan yang cukup di
dunia untuk mengganti persediaan jika Anda menggunakan angka EIA,"
katanya, merujuk ke Badan Informasi Energi Amerika Serikat, unit
statistik Departemen Energi AS.
"Kami hanya bisa menunggu perkembangan di Irak untuk menentukan
dampaknya. Sejauh ini harga lebih digerakkan karena faktor aktual
daripada dampak perang sipil yang diantisipasi ini."
17 Juni 2014
Dolar AS melemah jelang pertemuan Fed
Juni 17, 2014
News Market
Kurs dolar AS
melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya, Selasa pagi
WIB, karena para pedagang menunggu petunjuk dari pertemuan dua hari
Federal Reserve (Fed) yang dimulai Rabu WIB.
Para analis memperkirakan bank sentral AS bisa memberikan petunjuk
baru tentang waktu kenaikan suku bunga ketika mengakhiri pertemuan
kebijakan dua hari pada Rabu (18/6).
Setelah pertemuan pada Mei, Federal Reserve mengumumkan pemotongan
lebih lanjut program pembelian obligasi bulanannya sebesar 10 miliar
dolar AS menjadi 45 miliar dolar AS, mengacu pada pertumbuhan ekonomi AS
yang telah meningkat sebagai prasyarat.
Data ekonomi AS datang bergairah pada Senin. Aktivitas manufaktur
di wilayah New York pada Juni meningkat secara signifikan untuk bulan
kedua berturut-turut, dengan indeks kondisi bisnis umum Empire State
mencatat 19,3, setelah mendekati tertinggi empat tahun dari 19,0 pada
Mei, Federal Reserve New York melaporkan. Selain itu, produksi industri
AS naik 0,6 persen pada Mei setelah turun 0,3 persen pada April, kata
Federal Reserve AS.
Sementara kepercayaan pengembang AS di pasar untuk bangunan baru,
rumah keluarga tunggal, naik menjadi 49 pada Juni, menurut Indeks Pasar
Perumahan Asosiasi Nasional Pengembang Perumahan/Wells Fargo yang
dirilis Senin. Indeks kepercayaan tetap satu poin di bawah ambang batas
untuk apa yang dianggap kondisi bangunan baik, tapi masih mengalahkan
ekspektasi pasar.
Pada akhir perdagangan di New York, euro naik menjadi 1,3570 dolar
dari 1,3533 dolar pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi
1,6979 dolar dari 1,6970 dolar.
Dolar Australia turun menjadi 0,9395 dolar dari 0,9398 dolar. Dolar
AS dibeli 101,83 yen Jepang, lebih rendah dari 102,02 yen pada sesi
sebelumnya. Greenback bergerak turun menjadi 0,8974 franc Swiss
dari 0,9005 franc Swiss dan turun menjadi 1,0853 dolar Kanada dari
1,0855 dolar Kanada.
Langganan:
Postingan (Atom)














