Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

04 Juni 2013

Bursa Hong Kong turun hari ke-4 pasca data manufaktur China

Bloomberg (03/06) – Bursa Hong Kong turun untuk hari keempat setelah rilis data yang bertentangan tentang manufaktur China dan di tengah kekhawatiran bahwa Federal Reserve AS akan mulai menarik kembali stimulus moneternya. Saham-saham memperpanjang penurunan setelah ekuitas Eropa dibuka lebih rendah. Indeks Hang Seng tergelincir 0,5 persen di 22,282.19 setelah naik sebanyak 0,8 persen. Sementara, Hang Seng China Enterprises Index turun 0,5 persen di 10,548.13. Indeks manufaktur resmi yang dirilis 1 Juni menunjukkan kenaikan pada pertumbuhan manufaktur, sedangkan data terpisah hari ini dari HSBC Holdings Plc dan Markit Economics menunjukan adanya kontraksi pada aktivitas manufaktur. Saham-saham memperpanjang kerugian menjelang akhir perdagangan setelah pasar saham Eropa dibuka, dengan Indeks Stoxx Europe 600 tergelincir sebanyak 1,2 persen. Indeks manufaktur resmi yang dirilis oleh China menunjukkan kenaikan pertumbuhan - naik menjadi 50,8 pada bulan Mei dari 50,6 pada bulan sebelumnya. Angka itu mengalahkan semua perkiraan dari 30 analis dalam survei Bloomberg News. Pembacaan 50 adalah garis pemisah antara ekspansi dan kontraksi. HSBC Holdings Plc dan Markit Economics hari ini merilis data yang sama secara terpisah, dengan pembacaan akhir Mei berada di 49,2, turun dari 50,4 pada bulan April. "Saat ini, tidak begitu meyakinkan apakah ekonomi China secara keseluruhan telah berjalan baik," kata Linus Yip, kepala strategist dari First Shanghai Securities di Hong Kong. (brc)

Bursa saham Tokyo jatuh 3.75% setelah data manufaktur China

Telequote (03/06) – Bursa saham Tokyo turun 3,72 persen ke level terendah enam minggu pada hari Senin menyusul penurunan tajam di Wall Street Jumat lalu dan data manufaktur China yang lemah juga membebani pasar. Indeks Nikkei 225 ditutup turun 512,72 poin pada posisi 13,261.82, level terendah sejak 18 April sedangkan indeks Topix jatuh 3,42 persen atau 38,83 poin di 1,096.95. "Faktor utama di balik penurunan besar hari ini adalah kejatuhan Wall Street hari Jumat," kata Kenzaburo Suwa, ahli strategist dari Okasan Securities, kepada AFP. "Di atas semua itu, saham-saham Jepang masih di tengah-tengah penyesuaian  menyusul lonjakan tajam pada harga sejak November lalu. Beberapa analis telah memprediksi koreksi tajam Nikkei setelah melonjak sekitar 80 persen selama enam bulan terakhir dan naik di atas level 15.000 sebelum terjadi penurunan terkini. Kerugian Nikkei pada hari Senin dibesar menjelang perdagangan sore setelah HSBC mengatakan bahwa aktivitas manufaktur di China menyusut lebih dari laporan pertama kali di bulan Mei, membenarkan adanya kontraksi aktivitas untuk pertama kali dalam tujuh bulan terakhir. Data terpisah hari Senin juga mengkonfirmasi bahwa perusahaan Jepang tetap berhati-hati dengan investasi modal yang jatuh sebesar 3,9 persen pada kuartal pertama tahun ini bahkan walaupun penurunan yen membantu perusahaan domestik di luar negeri menjadi lebih kompetitif dan memicu kepercayaan terhadap ekonomi Jepang. Di pasar forex, dolar berada di 100,40 yen, naik dari 100,37 yen di New York Jumat sore, sementara euro juga menguat terhadap mata uang Jepang tersebut pada level 130,62 yen dari posisi 130,44 yen pekan lalu. (brc)

Wall Street reli karena pejabat FOMC tetap mendukung stimulus

Bloomberg (03/06) – Saham-saham AS naik, dengan indeks Standard & Poor’s 500 menghapus penurunan di awal sesi setelah Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta, Dennis Lockhart mengatakan bahwa para pejabat bank sentral masih berkomitmen untuk menjaga langkah-langkah stimulus moneter. Index S & P 500 naik 0,6 persen di 1,640.42 pada pukul 4 pm di New York. Indeks Dow reli sebesar 138,46 poin, atau 0,9 persen, ke 15,254.03. Hampir 7,7 miliar saham yang diperdagangkan di bursa AS dengan volume 23 persen lebih tinggi dari rata-rata tiga bulan. Data yang dirilis hari ini memicu kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi masih bisa melambat, mengikuti laporan dari Institute for Supply Management yang menunjukkan kontraksi pada aktivitas manufaktur secara tak terduga di bulan Mei. Sebuah laporan terpisah dari Departemen Perdagangan juga menunjukkan belanja konstruksi naik di bulan April meningkatnya proyek swasta dan belanja publik yang merosot. "Kabar buruk dapat menjadi kabar baik untuk harga saham," ungkap John Lynch, kepala investasi daerah dari Wells Fargo Private Bank, mengatakan melalui telepon. Lockhart mengatakan laporan ISM adalah contoh yang baik bahwa data ekonomi tetap 'sangat campuran' dan menunjukkan bahwa perekonomian belum cukup kuat untuk membenarkan penurunan pembelian obligasi. "Saya belum mendapatkan gambaran yang jelas tentangperekonomian yang benar-benar berada di jalur momentum pertumbuhan yang matang," katanya. "Saya akan cenderung menjadi sedikit lebih hati-hati, dan mengatakan mungkin di bulan Agustus, September atau akhir tahun" akan menjadi waktu untuk mempertimbangkan penurunan pembelian obligasi, katanya. (brc)