Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

05 Desember 2017

Ini Alasan Presiden Jokowi Ganti Panglima TNI Gatot Nurmantyo

Kontak Perkasa, Bandung - Presiden Joko Widodo angkat bicara terkait penunjukan Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo. Menurut Jokowi, Gatot diganti lantaran sudah mau masuk masa pensiun.

“Mekanisme normal saja karena Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memasuki masa pensiun pada Maret 2018 mendatang,” kata Jokowi saat ditemui seusai meresmikan Jalan Tol Soroja (Soreang- Pasirkoja) di Gerbang Tol Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (4/12/2017).

Lebih lanjut Presiden Jokowi menambahkan, Hadi dipilih karena dinilai mampu membawa perubahan di tubuh TNI.

“Saya meyakini beliau memiliki kemampuan, kepemimpinan yang kuat, dan bisa membawa TNI ke arah profesional sesuai jati dirinya sebagai tentara rakyat, tentara pejuang tentara nasional dan tentara profesional,” ungkap dia.

 Jokowi optimistis penunjukan Hadi Tjahjanto sudah dilakukan sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku.

“Mekanismenya kami harus mengajukan ke DPR terlebih dahulu. Kami mengajukan Pak KSAU Hadi Tjahjanto ke DPR untuk mendapatkan persetujuan,” ujar dia.

04 Desember 2017

Peraih Nobel Sampai 'Angkat Bicara' Soal Bitcoin

Kontak Perkasa, Jakarta - Pemenang Nobel dan konglomerat bisnis berbaris pekan ini untuk memprotes soal ‘naik daunnya’ bitcoin, mata uang digital yang telah memecahkan rekor di atas $11.000.

Komentar paling keras datang dari peraih Nobel Joseph Stiglitz, yang mengatakan bahwa bitcoin "seharusnya dilarang."

"Bitcoin sukses hanya karena potensi pengelakannya," tegasnya kepada Bloomberg TV.

"Bitcoin tidak berfungsi secara social," ungkapnya, sebagaimana dikutip dari CNN, Minggu (3/12/2017).

Robert Shiller, yang memenangkan Nobel untuk karyanya tentang 'gelembung' atau 'bubbles', mengatakan bahwa mata uang tersebut menarik beberapa investor karena memiliki sebuah aspek yang "anti-pemerintah dan anti regulasi."

"Ini adalah kisah yang indah," tuturnya di sebuah konferensi di Lithuania, menurut Bloomberg. "Jika itu benar."

Para 'pemberontak' di bursa tidak mau kalah juga mulai melakukan aksinya.

CEO Goldman Sachs Lloyd Blankfein mengatakan kepada Bloomberg bahwa mata uang tersebut berfungsi sebagai "kendaraan untuk melakukan sebuah aksi kecurangan." Investor sekaligus miliarder Carl Icahn mengatakan di CNBC bahwa itu "tampak seperti gelembung."

Mata uang digital sebelumnya menarik cemoohan bos JPMorgan Jamie Dimon, yang menyebutnya sebuah aksi "penipuan" yang "akhirnya populer." Warren Buffett juga telah memperingatkan adanya sebuah "gelembung nyata". Kritik tersebut telah berimbas kepada kenaikan bitcoin (XBT) yang meroket jika terjadi lagi aksi kenaikan yang ‘liar’ pada pekan ini.

Mata uang virtual di atas $11.000 untuk pertama kalinya tembus pada hari Rabu dan hal tersebut membatasi sebuah rally yang meningkat lebih dari 1.000% sejak awal tahun. Namun kemudian terjerembab lebih dari $2.000, dan hal tersebut memberikan sedikit pengingat akan volatilitas ekstrimnya.

Bitcoin diperdagangkan pada $10,700 pada hari Jumat.

Beberapa ahli berpendapat bahwa kenaikan dalam beberapa pekan terakhir sebagian didorong oleh harapan bahwa investor besar seperti, hedge fund dan asset managers juga bersiap untuk mulai berinvestasi dalam mata uang digital.

CME Group, yang memiliki Chicago Mercantile Exchange, mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka akan mencantumkan masa depan bitcoin pada pertengahan Desember. Nasdaq juga tidak tinggal diam, pihaknya berencana meluncurkan futurium berjangka tahun depan. Kontrak berjangka juga memungkinkan para trader untuk bertaruh pada harga aset masa depan seperti mata uang dan logam.

Lloyd Blankfein selaku CEO Goldman Sachs Lloyd juga mengakui bahwa mata uang berpotensi terkena dampaknya jika volatilitas turun.

"Jika berhasil dan semakin mapan, kita akan sampai ke sana," pungkasnya.

Tampaknya ada sedikit antusiasme untuk bitcoin di Silicon Valley, di mana tokoh-tokoh teknologi seperti Peter Thiel dan Marc Andreessen masuk di antara pendukungnya.

30 November 2017

Ini Alasan Rina Nose Tak Lagi Bawakan Acara Dangdut Academy Asia

Kontak Perkasa, Jakarta - Satu tahun lamanya Rina Nose mantap mengenakan hijab. Namun, terhitung awal November lalu, ia memilih menanggalkan hijabnya. Terkait keputusan tersebut, sejumlah pihak menghujaninya dengan respons negatif.

Tak lama kemudian, Rina Nose pun diketahui tak lagi memandu acara Dangdut Academy Asia 3 yang tayang di Indosiar. Gosip miring pun berembus kencang. Ada yang menyebut bahwa ia telah dikeluarkan. Namun, isu ini dipatahkan oleh Director Programming SCM, Harsiwi Achmad.

Menurut penuturannya, Rina Nose tengah izin untuk istirahat sejenak sampai semua keadaan kembali kondusif. Sebab, tak semua orang menilai positif akan keputusannya melepas hijab.

"Jadi sebenarnya Rina Nose enggak tampil di D'Academy Asia karena dia mau menenangkan diri dulu. Pokoknya dia mau menenangkan diri dulu," ucap Harsiwi Achmad, seperti dilansir dari bintang.com.

Rating Anjlok?

Lantas, apakah ketiadaan Rina Nose membuat rating Dangdut Academy Asia 3 mengalami penurunan? Seperti diketahui, selama ini Rina Nose sukses menghidupkan jalannya acara berkat sisi humorisnya.

"Enggak ya, enggak terlalu (berpengaruh). Karena menurut saya penonton atau netizen pintar juga ya. Kan sebenarnya enggak ada hubungan pribadi di situ dengan acara Dangdut Academy," lanjut Harsiwi Achmad.

Sejak memutuskan rehat, posisi Rina Nose digantikan dengan presenter kondang, Okkie Lukman.