Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

30 Mei 2013

Saham Hong Kong menuju level terendah dalam sebulan terakhir

Bloomberg, (30/5) - Saham-saham Hong Kong jatuh, dengan indeks patokan Hang Seng menuju penutupan terendah dalam sebulan terakhir karena tertekan sktor properti lokal dan utilitas di tengah kekhawatiran pengurangan pembelian obligasi dari the Fed Amerika Serikat. Hang Seng Index turun sebanyak 1 persen menjadi 22,322.24 pada pukul 1:38 pm di Hong Kong, menuju penutupan terendah sejak 24 April lalu. Sementara, Hang Seng China Enterprises Index turun sebesar 1,6 persen menjadi 10,584.69. "Ada kekhawatiran ketika kapan Federal Reserve akan menghentikan pelonggaran kuantitatifnya, dan ada risiko penurunan perekonomian China juga," kata Ben Kwong, chief operating officer dari KGI Asia Ltd di Hong Kong. "Saya pikir saat ini tidak ada insentif segar untuk pasar Hong Kong bisa bergerak ke atas, meski penurunan juga relatif maish kecil." Sun Hung Kai turun 2,8 persen di HK$102,80. Cheung Kong (Holdings) Ltd merosot 1,7 persen di HK$109,60. Tingkat suku bunga diperkirakan akan meningkat di Asia seiring dengan turunnya tingkat tabungan dan kendali the Fed atas pelonggaran kuantitatif, kata Morgan Stanley dalam catatan kemarin. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10-tahun memperpanjang kenaikannya hari ini setelah melonjak kemarin ke level tertinggi 13-bulan. Suku bunga di Hong Kong biasanya akan mengikuti perubahan yang ada di AS karena mata uangnya yang dipatok terhadap dolar AS. Meningkatnya imbal hasil obligasi juga membebani saham utilitas, yang jatuh yang paling dalam di antara 11 kelompok industri pada Hang Seng Composite Index. CLP turun 3,5 persen di HK$66,80, sementara Power Asset Holdings Ltd mundur 3,7 persen menjadi HK$70,50. "Orang-orang khawatir bila suku bunga akan naik," kata Kenny Tang, general manager dari AMTD Financial Planning Ltd di Hong Kong. "Itu merusak daya tarik saham utilitas karena tahun lalu." Investor seharunya merealisasikan keuntungan di saham utilitas seiring meningkatnya imbal hasil obligasi, kata para analis dari CLSA Asia-Pacific Markets Ltd yang dipimpin oleh Rajesh Panjwani. (brc)