Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

01 Oktober 2014

Harga emas turun karena dolar menguat

Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun ke tingkat terendah dalam sembilan bulan pada Rabu pagi, karena dolar AS kembali menguat terhadap mata uang lainnya. Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Desember turun 7,2 dolar AS, atau 0,59 persen, menjadi menetap di 1.211,6 dolar AS per ounce, lapor Xinhua. Emas turun hampir enam persen selama September dan mencatat kerugian kuartalan pertama tahun ini. Dolar AS telah mencatat rekor kenaikan 11 minggu berturut-turut didukung ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya lebih cepat dari mitranya di Jepang dan zona euro. Berkat terus meningkat, dolar telah mencapai tertinggi empat tahun terhadap sekeranjang mata uang utama, dengan indeks dolar naik 7,8 persen pada kuartal ketiga, kenaikan kuartalan terkuat sejak 2008. Sejauh ini, emas telah melaporkan kerugian mingguan selama empat minggu berturut-turut. Analis pasar berpendapat bahwa emas memiliki beberapa rintangan teknis yang membuat kebangkitannya sulit, dan karenanya sangat mungkin emas akan berakhir di merah pada tahun ini. Namun demikian, penurunan emas pada Selasa telah dibatasi karena data menunjukkan laju pertumbuhan aktivitas bisnis di Midwest AS sedikit melambat pada September. Investor juga memantau kerusuhan politik di Hong Kong. Fokus pasar berikutnya adalah rilis data penggajian (payrolls) non pertanian AS untuk September pada Jumat (3/10). Perak untuk pengiriman Desember turun 51 sen, atau 2,9 persen, menjadi ditutup pada 17,057 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari kehilangan sembilan dolar AS, atau 0,69 persen, menjadi ditutup pada 1.300,5 dolar AS per ounce.

Wall Street jatuh setelah data ekonomi mengecewakan

Saham-saham di Wall Street berakhir lebih rendah pada Rabu, setelah data ekonomi mengecewakan, termasuk penurunan besar dalam kepercayaan konsumen AS.  Pada hari terakhir kuartal ketiga, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup pada 17.042,90, turun 28,21 poin (0,17 persen). Indeks berbasis luas S&P 500 turun 5,51 poin (0,28 persen) menjadi 1.972,29, sedangkan indeks komposit teknologi Nasdaq merosot 12,46 poin (0,28 persen) menjadi 4.493,39. Meskipun turun pada Selasa, ketiga indeks berakhir dengan keuntungan secara kuartalan. Dow naik 1,29 persen, S&P naik 0,62 persen dan Nasdaq naik 1,93 persen. Setelah naik selama empat bulan, indeks kepercayaan konsumen AS dari Conference Board jatuh menjadi 86,0 dari 93,4 pada Agustus, karena meningkatnya kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja. Laporan-laporan lain termasuk angka mengecewakan pada manufaktur Tiongkok dan penurunan inflasi zona euro pada September ke tingkat terendah sejak krisis keuangan. EBay melonjak 7,5 persen setelah mengumumkan akan melakukan pemecahan (spin off) PayPal untuk meningkatkan daya saingnya dalam industri pembayaran daring (online) yang berkembang pesat. Sebelumnya eBay telah menolak permintaan aktivis investor Carl Icahn untuk memecah PayPal. Perusahaan minyak jatuh karena harga minyak mentah AS turun 3,6 persen. Anggota Dow, ExxonMobil dan Chevron, masing-masing turun 0,4 persen dan 1,0 persen, sementara ConocoPhillips kehilangan 1,7 persen. Harga obligasi turun. Imbal hasil pada obligasi 10-tahun AS naik menjadi 2,51 persen dari 2,49 persen pada Senin, sementara pada obligasi 30-tahun meningkat menjadi 3,21 persen dari 3,18 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak terbalik.

Harga minyak turun karena pasokan diperkirakan meningkat

Harga minyak mentah turun pada Rabu, di tengah perkiraan meningkatnya persediaan di Amerika Serikat. Minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman November turun 3,41 dolar AS menjadi ditutup pada 91,16 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, lapor Xinhua. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman November kehilangan 2,53 dolar AS menjadi menetap di 94,67 dolar AS per barel di perdagangan London. Badan Informasi Energi (EIA), unit statistik Departemen Energi AS, pada Rabu akan merilis laporan persediaan minyak mentah AS selama pekan lalu. Ekspektasi peningkatan pasokan minyak Amerika telah menekan pasar. Para pedagang memperkirakan bahwa persediaan minyak mentah AS akan meningkat lebih dari satu juta barel. Teknologi dan harga tinggi telah mendorong banyak pembukaan sumber daya baru minyak. Produksi minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi baru-baru ini. Peningkatan produksi minyak dari Amerika Utara telah mengurangi peran Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam memuaskan dahaga dunia untuk minyak. Harga minyak mentah juga turun karena pasar mengabaikan kekhawatiran geopolitik atas Ukraina dan Timur Tengah. Pedagang merasa lega karena ketegangan di Ukraina dan Timur Tengah belum berdampak pada pengiriman minyak. Selain itu harga minyak AS jatuh karena dolar menguat terhadap sebagian besar mata uang lainnya di tengah data zona euro yang suram pada Selasa. Sebuah penguatan greenback membuat minyak mentah yang dihargakan dalam dolar lebih mahal dan kurang menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Rupiah Selasa sore menguat 47 poin

Nilai tukar rupiah di pasar sport antarbank Jakarta, Selasa sore, menguat 47 poin menjadi Rp12.122 dari posisi penutupan sebelumnya Rp12.169 per dolar AS. "Mata uang rupiah menguat terhadap dolar AS menjelang dirilisnya data inflasi September oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Oktober 2014," kata Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova, di Jakarta, Selasa. Menurut dia, angka inflasi September 2014 diperkirakan masih stabil sehingga target laju inflasi pada tahun ini sebesar 4,5 plus minus satu persen dapat tercapai. Naiknya harga gas elpiji 12 kg diprediksi tidak terlalu signifikan. Kendati demikian, ia mengatakan bahwa peluang dolar AS untuk kembali bergerak menguat terhadap rupiah masih cukup terbuka, pasar keuangan domestik masih dibayangi oleh kenaikan suku bunga bank sentral AS (the Fed). "Naiknya suku bunga AS akan membuat dolar AS diminati pelaku pasar karena dinilai dapat memberikan gain tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga masih kuat seiring berlanjutnya momentum pemulihan ekonomi AS," katanya. Analis Monex Investindo Futures Zulfirman Basir menambahkan bahwa penguatan rupiah masih tertahan seiring dengan investor juga sedang mewaspadai risiko politik Indonesia. Sebagian kalangan pelaku pasar ragu akan kemampuan Presiden Indonesia berikutnya dalam menjalankan program reformasi struktural yang dicanangkannya mengingat koalisi partai pendukung yang minim. Di sisi lain, lanjut dia, investor juga terlihat berhati-hati menjelang publikasi data neraca perdagangan, dan manufaktur Indonesia pada 1 Oktober mendatang. Sementara menurut kurs tengah Bank Indonesia, rupiah berada pada 12.212 per dolar AS, lebih lemah dari posisi sebelumnya 12.120 per dolar AS.