Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

25 Maret 2013

Bursa Jepang catat penurunanmingguan kedua ditengah masalah Siprus


Bloomberg (22/03) –- Bursa saham Jepang akhiri perdagangan pekan ini pada teritori negatif, dengan Nikkei 225 Stock Average mencatat kejatuhan mingguan terbesar sejak November karena penguatan yen setelah permintaan bailout Siprus ditolak oleh Rusia dan Gubernur baru Bank of Japan, Haruhiko Kuroda gagal mengumumkan stimulus baru seperti yang diharapkan pasar. Index Nikkei 225 turun 2,4 persen di 12,338.95 pada penutupan perdagangan di Tokyo, turun 1,7 persen selama pekan ini, penurunan mingguan terbesar sejak periode yang berakhir 9 November. Indeks Topix turun 1,9 persen menjadi 1,038.57, dengan semua dari subindexmengalami penurunan. "Kuroda tidak mengumumkan sesuatu yang konkret dan market berada di posisi sedikit lebih depan dari fundamentalnya dirinya sendiri dalam hal ekspektasi," kata Ayako Sera, ahli strategi pasar dari Sumitomo Mitsui Trust Bank Ltd. "Rasa hati-hati dari para investor meningkat karena masalah Siprus, dan kini berada dalamsuasana risk-off." Kuroda, berbicara kemarin dalam konferensi pers pertamanya dengan mengulangjanjinya untuk mengejar kebijakan pelonggaran yang berani guna mencapai target inflasi 2 persen danmelanjutkan program pembelian aset secara terbuka (tanpa batas waktu). Ia menolak untuk mengomentari apakah ia akan mengadakan pertemuan darurat sebelum pertemuan kebijakan bank sentral tanggal 3-4 April mendatang. Siprus gagal mengamankan bailout setelah Rusia menolak permintaan untuk pendanaan seperti yang dikatakan Menteri Keuangan Siprus, Michael Sarris hari ini. Negara dengan ekonomi terkecil ketiga di kawasan euro tersebut sedang mencoba untuk mencari pembiayaan darurat setelah anggota parlemen menolak pungutan pada tabungan bank yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai syarat untukmendapatkan bailout. (brc)