Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

08 Desember 2020

Jelang Pencoblosan Pilkada Serentak 2020, Bawaslu Sebut 49.390 TPS Rawan

 


Kontak Perkasa Futures - Badan Pengawas Pemilihan Umum atau Bawaslu memetakan sebanyak 49.390 tempat pemungutan suara (TPS) Pilkada Serentak 2020 memiliki kerawanan. Menurut Bawaslu, kerawanan TPS tersebut terbagi dalam sembilan indikator.

Anggota Bawaslu RI Mochammad Afifuddin mengatakan, pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap kerawanan TPS Pilkada Serentak 2020.

"Bawaslu merekomendasikan KPU untuk mengantisipasi kerawanan tersebut mengingat pemungutan dan penghitungan suara merupakan tahapan utama penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah 2020," ujar Afifuddin dilansir Antara, Senin (7/12/2020).

Dia menjelaskan, pemetaan kerawanan tersebut diambil dari sedikitnya 21.250 kelurahan dan desa di 30 provinsi (kecuali Provinsi Papua) yang melaporkan kerawanan TPS di wilayahnya.

"TPS dengan kategori sulit dijangkau kondisi geografis, cuaca dan keamanan berjumlah 5.744 TPS. Lokasi tidak akses bagi pemilih penyandang disabilitas sebanyak 2.442 TPS," papar Afifuddin. Kemudian, lanjut dia, penempatan tidak sesuai standar protokol kesehatan berjumlah 1.420 TPS.

"TPS terdapat pemilih tidak memenuhi syarat yakni meninggal dunia, terdaftar ganda, atau tidak dikenali yang terdaftar di DPT berjumlah 14.534 tempat pemungutan suara," kata Afifuddin.

Lalu, lanjut dia, TPS terdapat pemilih memenuhi syarat namun tidak terdaftar di DPT sebanyak 6.291 TPS dan terdapat kendala jaringan internet di lokasi berjumlah 11.559 TPS.

"Persoalan kendala aliran listrik di lokasi sebanyak 3.039 TPS, penyelenggara pemilihan positif terinfeksi Covid-19 di 1.023 TPS. Dan berikutnya, penyelenggara pemilihan tidak dapat daftar (log in) sirekap saat simulasi di 3.338 TPS," papar Afifuddin.


PT Kontak perkasa Futures

PT Kontak Perkasa

PT KP Press

07 Desember 2020

Penjelasan Telkom Indonesia Soal Penyesuaian Nama di Bursa Efek Indonesia

 


Kontak perkasa Futures - Telah dilakukan penyesuaian penyebutan emiten TLKM menjadi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penyesuaian penyebutan ini terhitung mulai tanggal 4 Desember 2020.

Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan Anggaran Dasar perusahaan, di mana penulisan yang benar untuk penyebutan nama panjang Perusahaan adalah Perusahaan Perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk atau dapat disingkat menjadi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk

Senior Vice President Corporate Communication and Investor Relation Telkom Indonesia Ahmad Reza menyampaikan, pada prinsipnya, Telkom Indonesia tidak melakukan mengubahan nama, tetapi hanya penyesuaian penyebutan dalam pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia.

"Tujuan kami melakukan permohonan penyesuaian nama ini semata-mata agar penulisan atau penyebutan nama Perusahaan adalah benar mengacu ke Anggaran Dasar kami," jelas Ahmad Reza dalam keterangan tertulis, Jumat (4/12/2020). 

"Bursa Efek Indonesia telah menyetujui dan baru mengumumkan penyesuaian penyebutan nama ke publik sebagaimana yang biasa dilakukan jika ada penyesuaian nama emiten.” lanjut dia. 

Sebagai perusahaan publik, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk senantiasa menjunjung tinggi kepatuhan terhadap compliance dan tata kelola perusahaan yang baik.


PT Kontak perkasa Futures

PT Kontak perkasa

PT KP Press

04 Desember 2020

Ekonomi Dunia akan Tumbuh 4,2 Persen di 2021

 


Kontak Perkasa Futures - The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan ekonomi global akan pulih dari pandem Covid-19 di 2021. Pada tahun tersebut ekonomi dunia akan tumbuh 4,2 persen.

Sekretaris jenderal OECD Angel Gurria menyatakan, OECD mengestimasi pertumbuhan ekonomi naik 4,2 persen di 2021 setelah diperkirakan minus 4,2 persen di tahun ini.

Gurria sendiri melihat bahwa prospek kedepannya akan terlihat kuat, tetapi dirinya memperkirakan hampir semua pertumbuhan ekonomi negara-negara dunia akan lebih kecil pada akhir 2021 jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2019.

Bermunculannya pengumuman baru-baru ini tentang vaksin corona Covid-19, dianggap oleh Gurria memberikan sebuah harapan yang sangat dibutuhkan. Walaupun begitu, dirinya mengatakan, "Kita masih belum keluar dari hutan dan masih banyak negara saat ini sedang memerangi gelombang susulan virus serta kembalinya penerapan kebijakan-kebijakan penahanan penyebaran virus, akan merusak pemulihan ekonomi yang perlahan sudah mulai terlihat," kata dia mengutip dari VOA News, Jumat (4/11/2020).

OECD sendiri memperkirakan pemulihan ekonomi di 2021 akan dipimpin China. Ekonom OECD Laurence Boone mengatakan, China dan Korea menangani pandemi lebih baik daripada kebanyakan negara. Selain itu dirinya juga yakin bahwa ekonomi kedua negara tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi global sangat signifikan.

Dari wilayah Eropa dan Amerika Serikat sendiri di ekspektasi hanya memberikan kontribusi yang tidak banyak pada pemulihan dibandingkan dengan bobot ekonomi global mereka.


PT Kontak Perkasa Futures

PT Kontak Perkasa

PT KP Press


Source liputan6