Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

02 Juli 2020

Harga Emas Antam Rp 861.120/gram, Waktunya Beli atau Jual?


Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk, atau yang sering disebut emas Antam hari ini naik tipis pada perdagangan Rabu (1/7/2020). Kenaikan tersebut mengikuti pergerakan harga emas dunia kemarin.
Berdasarkan data dari logammulia.com, di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung emas batangan 100 gram yang dijadikan acuan dibanderol Rp 86.112.000/batang atau Rp 861.120/gram. Harga tersebut naik Rp 1.000/gram atau 0,12% dibandingkan dengan Selasa kemarin.

Naik turunnya harga emas Antam salah satunya dipengaruhi pergerakan harga emas dunia. Harga emas dunia pada perdagangan Rabu kemarin menguat 0,52% ke US$ 1.780,66/troy ons.

Untuk diketahui, 1 troy ons setara dengan 31,1 gram, sehingga jika melihat kurs rupiah kemarin Rp 14.180/US$, maka harga emas dunia Rp 811.889/gram.

Memang ada selisih dengan harga emas Antam hari ini, tetapi wajar mengingat tidak hanya emas dunia yang mempengaruhi harga emas Antam, ada faktor lain seperti supply-demand.

Namun yang pasti, harga emas Antam biasanya mengikuti arah harga emas dunia. Jika harga emas dunia menguat harga emas Antam cenderung naik, apalagi jika kurs rupiah mengalami pelemahan. Kurs rupiah juga mempengaruhi harga emas Antam, mengingat emas dunia dibanderol dengan dolar AS.

Harga emas dunia saat ini diprediksi masih akan terus menguat bahkan mencetak rekor tertinggi, sehingga ada kemungkinan harga emas Antam juga akan terus menanjak.

Salah satu yang memprediksi emas dunia akan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa adalah Bank of America Merril Lynch (BofA), salah satu bank investasi ternama di dunia.

BofA menargetkan emas mencapai US$ 2.000/US$ di kuartal III-2020, melewati rekor sebelumnya US$ 1.920/troy ons yang dicapai pada September 2011 lalu. Artinya dalam 3 bulan ke depan, harga emas dunia akan mencapai Rp 911.897/gram (kurs Rp 14.180/US$).  

Dalam 18 bulan ke depan, BofA memprediksi emas mencapai US$ 3.000/troy ons atau Rp 1.367.845/gram.

Jika prediksi tersebut jadi nyata, harga emas Antam tentunya berpeluang menanjak mengikuti pergerakan emas dunia.




Source CNBC Indonesia

01 Juli 2020

Corona di AS Menggila, Makin tak Bisa Dikontrol


Kasus corona (Covid-19) di AS disebut semakin meningkat. Bahkan "tak bisa dikontrol".

Angka infeksi per hari diprediksi mencapai 100.000 orang per hari terutama jika penyebaran terus berlanjut seperti sekarang.

"Saya tak bisa membuat prediksi yang akurat tapi ini akan sangat mengganggu," kata ilmuan top AS yang juga ahli virus Dr Anthony Faucy, dikutip dari CNBC International, Selasa (30/6/2020).

"Kita mencatat 40 ribu lebih kasus setiap hari. Saya tidak akan terkejut jika angka ini naik menjadi 100.000 ... Saya menekankan ini," tegasnya.

Saat ini, AS memang mencatat 40 ribu kasus baru setiap hari. Angka ini merupakan dua kali lipat dibanding data tertinggi di bulan Mei yakni 22.800.

Saat ini hotspot penularan ada di negara bagian Selatan dan Barat AS. Sebanyak 50% kasus datang dari empat negara bagian, yakni Florida, California, Texas dan Arizona.

Ada pergeseran dari pusat infeksi semula yakni Washington dan sebagai negara bagian di Timur Laut seperti New York.

Mengutip riset CNBC International, rata-rata kasus baru di AS adalah 39.750 per hari, selama tujuh hari terakhir. Angka ini naik lebih dari 40% dibandingkan seminggu sebelumnya.

Di Selasa, angka rata-rata laporan kasus baru selama tujuh hari naik lebih dari 5% selama seminggu di 40 negara bagian.

"Saya sangat prihatin dan saya tidak puas dengan apa yang terjadi karena kita berada di arah yang salah, terutama jika Anda melihat kurva dari kasus-kasus baru," kata Fauci lagi.

"Jadi kita benar-benar harus melakukan sesuatu tentang itu dan kami perlu lakukan dengan cepat."

Ia bahkan berujar hal ini akan mempengaruhi negara bagian lain yang sudah berusaha maksimal pada kasus di wilayahnya. Ini akan membahayakan seluruh bagian dari AS.

Menurutnya, AS mungkin mendorong pembukaan ekonominya, dari penguncian, terlalu cepat. Sehingga mengabaikan beberapa pedoman federal agar memulai aktivitas dengan aman.

"Di negara-negara di mana pemerintah negara bagian melakukan dengan benar, kita melihat secara visual "fenomena tak terjadi apa-apa"," katanya,

"Meski negara itu dalam status penguncian atau dibuka, kamu melihat orang-orang tidak bermasker, tidak menghindari kerumunan dan tidak menjaga jarak secara fisik."

Saat ini kasus corona di AS secara total sebanyak 2,7 juta pasien. Dari data Worldometers, ada 130 ribu orang yang meninggal karena Covid-19 di Negeri Paman Sam.




Source CNBC Indonesia

30 Juni 2020

Banjir Berita Baik, Wall Street Happy Monday


Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup di zona hijau pada perdagangan Senin (29/6/2020). Kenaikan didorong oleh berita baik dari Boeing yang mulai melakukan ujian sertifikasi pada Senin.
Dow Jones Industrial Average ditutup naik 580,25 poin atau 2,3%, menjadi 25.595,80. Itu adalah kenaikan terbaik Dow sejak 5 Juni, ketika melonjak lebih dari 3%. Sementara S&P 500 menguat 1,5% menjadi 3.053,24 dan Nasdaq Composite naik 1,2% dan ditutup menjadi 9.874,15.

Rata-rata indeks utama mencapai level tertinggi dalam perdagangan hanya beberapa menit jelang penutupan.

Kenaikan Dow sendiri tidak lepas dari baiknya kinerja Boeing yang mencatatkan penguatan 14,4%. Itu terjadi setelah Administrasi Penerbangan Federal (FAA) mengijinkan perusahaan untuk memulai penerbangan sertifikasi ulang Boeing 737 Max pada Senin.

Langkah ini dipandang berbagai pihak sebagai kunci yang bisa membuat perusahaan pesawat yang berbasis di AS itu untuk kembali memperoleh izin terbang bagi salah satu pesawat terlarisnya tersebut. Pesawat Boeing 737 Max telah dilarang terbang sekitar setahun terakhir setelah terlibat dua kecelakaan fatal yang menewaskan ratusan orang.

Selain itu, rata-rata indeks juga mendapat angin segar dari pengumuman National Association of Realtors yang mengatakan penjualan rumah yang tertunda melonjak dengan rekor 44,3% pada Mei.

Kenaikan itu juga terjadi karena investor mengabaikan data kasus infeksi virus corona (COVID-19) yang buruk di AS. Di mana per Senin, AS secara nasional telah mengonfirmasi ada sebanyak 2.631.806 kasus, 128.412 meninggal, 1.090.433 orang sembuh dari COVID-19.

"Statistik virus corona AS memburuk selama akhir pekan ... tetapi para pedagang akhirnya mengabaikan hal negatif ini lagi," kata Erik Bregar, kepala strategi FX di Exchange Bank of Canada, dalam sebuah catatan, sebagaimana dilaporkan CNBC International.


Source CNBC Indonesia