Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

03 Juni 2020

Pasca Covid-19, Bisakah Ekonomi RI Langsung Tancap Gas?


Kontak Perkasa Futures - Morgan Stanley memprediksi Indonesia bakal pulih lebih cepat dari masa pandemi Covid-19. Bersama Filipina dan India, Indonesia diperkirakan akan terkena dampak resesi global yang lebih rendah, berkat pertumbuhan struktural yang tinggi.

Peneliti INDEF Wahyudi Askar mengatakan, itu bisa saja berubah jika kebijakan-kebijakan dari dalam negeri tidak berjalan dengan baik. Apalagi, penelitian yang dibuat Morgan Stanley bersifat modelling dan dilakukan ketika kondisi ekonomi Indonesia masih dalam keadaan baik.

"Itu berdasarkan model kemarin, model hari ini. Semua bisa terjadi ke depan. Itu yang tidak bisa diprediksi oleh modelling secanggih apapun. Jadi ketika kemudian pemerintah salah mengambil ekonomi kesehatan ke depan, pemodelan itu berarti sia-sia," kata Wahyudi dalam sesi diskusi virtual INDEF, Selasa (2/6/2020).

Salah langkah kebijakan yang dimaksud adalah tidak pro dalam mendukung usaha kecil masyarakat. Jika hanya mementingkan urusan pengusaha besar, maka Wahyudi menilai akan ada harga mahal yang harus dibayar.

"Misal pemerintah lakukan kebijakan yang tidak pro ke masyarakat rentan, tidak pro ke usaha mikro atau mungkin petani dan lebih mengutamakan kepentingan pengusaha. Di jangka pendek itu cukup bagus untuk recovery ekonomi Indonesia, tapi setelah dua tahun bsia jadi outputnya ketimpangan ekonomi yang semakin besar," paparnya.

Waktu beberapa bulan ke depan menjadi sangat krusial. Wahyudi optimis ekonomi bisa cepat pulih, namun waktu beberapa bulan ke depan harus bisa dimaksimalkan dan jangan sampai salah langkah.

"Proses beberapa bulan ke depan harus berlandaskan sains dan berpihak kepada kepentingan ke masyarakat luas," sebutnya.

Tidak jauh berbeda, Peneliti INDEF lainnya Zulfikar Rahmat pun menilai recovery Indonesia bisa terjadi cepat jika pemerintah bisa serius dalam menanganinya.

"Perlu dicatat, studinya itu mengatakan apabila covid-19 tidak memuncak pada kuartal kedua 2020. Jadi jika pemerintah malah membuat kebijakan yang kemungkinan akan membuat kasus Covid-19 memuncak lagi bisa jadi studi ini ngga jadi kenyataan," katanya.


Source CNBC Indonesia

02 Juni 2020

Sempat Sentuh Rp859 Ribu/Gram, Inilah Pergerakan Emas Sepekan


Kontak Perkasa Futures - Pergerakan harga emas sepanjang pekan ini (26 Mei hingga 29 Mei) fluktuatif. Harga emas antam di awal pekan sempat menyentuh Rp 859.120/gram sebelum ditutup di level Rp 855.120/gram pada Jumat (29/5/2020).

Sedangkan emas global menyentuh 1.726,30/troy ons pada penutupan akhir pekan ini. Simak selengkapnya dalam infografik berikut.



Source CNBC Indonesia




29 Mei 2020

Efek Corona ke Ekonomi Diyakini Reda, Wall Street Dibuka Naik


Kontak Perkasa Futures - Bursa saham Amerika Serikat (AS) menghijau pada pembukaan perdagangan Kamis (28/5/2020), menyambut data klaim pengangguran yang mengindkasikan efek terburuk corona terhadap ekonomi telah dilalui.
Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 50 poin (+0,2%) pada pembukaan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), dan selang 30 menit kemudian berlanjut menjadi 64,22 poin (+0,25%) ke 25.612,49. Indeks Nasdaq naik 4,55 poin (-0,05%) ke 9.407,8 dan S&P 500 melambung 5,8 poin (+0,19%) ke 3.041,93.

Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan adanya 2,1 juta klaim pengangguran baru per 23 Mei, lebih buruk dari konsensus ekonom dalam polling Dow Jones yang memprediksi angka 2,05 juta.

Meski demikian, lajunya melemah dibanding pekan sebelumnya sebanyak 2,44 juta klaim dan juga 4 juta klaim pada pekan pertama ketika efek corona tercermin dalam data pengangguran pada akhir Maret.

Saham-saham yang bakal diuntungkan dari kebijakan tersebut pun menguat, seperti saham sektor perbankan, di antaranya JPMorgan Chase, Citigroup, Wells Fargo dan Bank of America yang menguat lebih dari 1%.

Sebaliknya, saham-saham teknologi yang telah menguat berkat karantina wilayah (lockdown)  kini terkoreksi, seperti misalnya Netflix yang turun lebih dari 1%, Zoom (anjlok 1,8%), Shopify (drop 2,6%), dan Amazon (tertekan 1,1%).

"Stimulus terbesar bagi perekonomian adalah pembukaan kembali ekonomi secara aman.. Pada akhirnya, pembukaan kembali ini secara bertahan menunjukkan perbaikan meski tingkat permintaan yang sebenarnya masih belum jelas," tulis Gregory Faranello, Kepala Trading AmeriVet Securities, dalam laporan riset, yang dikutip CNBC International.

Investor hari ini mengabaikan kenaikan tensi hubungan Beijing dan Washington, meski Negeri Panda telah memberlakukan undang-undang baru tentang keamanan nasional di Hong Kong yang berpeluang memantik sanksi baru dari AS.



Source CNBC Indonesia