Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

22 April 2020

Polling Harga Emas Dunia, Berapa Harganya di Akhir Tahun Ini?


Kontak Perkasa Futures - Harga emas dunia pada perdagangan Selasa pagi kemarin (21/4/2020) melorot karena dilibas dolar AS alias greenback yang menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya. Padahal pada Senin malam, harga emas dunia sempat reli karena kejatuhan harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI).

Pada perdagangan Senin, harga emas global di pasar spot mencoba merangkak naik lebih dari 1% saat harga minyak mentah kontrak berjangka pengiriman Mei acuan Negeri Paman Sam yakni WTI anjlok lebih dari 100% dan berada di zona negatif.

"Harga emas naik karena berbagai stimulus moneter yang digelontorkan olah bank sentral global serta kejatuhan harga minyak yang semakin mengingatkan kita bahwa periode pemulihan ekonomi masih terlihat jauh" kata Edward Moya, analis senior di Broker OANDA, sebagaimana diberitakan Reuters.

"Susah rasanya membayangkan aset-aset berisiko untuk bersinar pada pekan ini, dan sentimen ini akan menjadi support [batas bawah] untuk harga emas. Jika harga emas berhasil kembali naik ke US$ 1.700 maka bukan tak mungkin harga emas bisa menuju level selanjutnya di US$ 1.800," tambahnya.

Polling


Kelonggaran moneter yang diterapkan bank sentral global telah memicu turunnya imbal hasil obligasi dan kemungkinan terjadinya inflasi.

Ketika obligasi tak menawarkan imbal hasil yang menarik serta nilai dari aset akan tergerus akibat inflasi, investor akan cenderung lari ke emas. Hal ini memberikan ruang yang leluasa untuk harga emas kembali meningkat.

Namun yang terjadi pada Selasa pagi Kemarin adalah sebaliknya. Pada 09.35 WIB, Selasa, harga emas dunia spot turun 0,35% ke level US$ 1.687,67/troy ons.

Mengacu data Kitco, harga emas spot juga masih turun 1,06% di level US$ 1.677/troy ons pada Selasa malam waktu Indonesia, pukul 23.00 WIB. Sementara, berdasarkan data CNBC International, tadi malam, harga emas berjangka (futures) untuk pengiriman Juni di bursa COMEX melemah 1,07% di level US$ 1.692/troy ons.

Secara year to date harga emas dunia di pasar berjangka sudah melesat 29,12%, dengan harga futures tertinggi US$ 1.718/troy ons secara harian.

Terkoreksinya harga emas tak lepas dari penguatan dolar AS. Penguatan dolar AS tercermin dari kenaikan indeks dolar yang mengukur mata uang greenback di hadapan enam mata uang lain. Selasa pagi, indeks dolar menguat 0,18% dan memantapkan posisinya di 100,132.

Namun di sisi lain, berdasarkan polling yang dihimpun Reuters dari 37 analis dan trader, rata-rata harga emas untuk tahun 2020 dan 2021 akan berada di level yang lebih rendah dari harga tertingginya sekarang.

Pada 2020 harga rata-rata logam mulia diperkirakan mencapai US$ 1.639/troy ons. Sementara untuk harga rata-rata pada 2021 diperkirakan berada di US$ 1.655/troy ons. Sekedar mengingatkan ini adalah harga rata-rata, bukan berarti harga emas tak bisa naik tinggi lagi.

Emas ditransaksikan dalam mata uang dolar, sehingga penguatan dolar membuat harga emas yang sudah mahal makin mahal terutama untuk pemegang mata uang lainnya. Sehingga berpotensi menggerus harga emas.

Beberapa analis bahkan memperkirakan harga emas bisa terbang tinggi seperti pada 2011 yang sempat mencapai US$ 1.920,3/troy ons. 

PT Kontak Perkasa Futures
PT kontak perkasa
PT kp press

Source CNBC Indonesia

21 April 2020

Harga emas Tertekan Penguatan Dolar AS


Kontak Perkasa Futures - Harga emas turun ke level terendah dalam lebih dari satu pekan pada penutupan perdagangan Senin karena dolar AS perkasa. Penguatan dolar AS ini karena investor cukup optimistis bahwa ekonomi AS akan segera berjalan karena lockdown bakal dibuka.

Mengutip CNBC, Selasa (21/4/2020), harga emas di pasar spot turun 0,5 persen menjadi USD 1.675,92 per ounce, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 9 April di awal sesi. Harga logam mulia tersebut merosot sekitar 2 persen pada perdagangan hari Jumat.

Sedangkan harga emas berjangka AS tergelincir 0,7 persen menjadi USD 1.687,20 per ounce.

Nilai tukar dolar AS menguat 0,1 persen terhadap rival utama lainnya, membuat harga emas lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lainnya.

Perhatian investor saat ini tertuju pada pasar saham Asia dengan laporan pendapatan perusahaan dan data ekonomi.

Permintaan emas fisik di China terus melesu karena pembatasan yang dilakukan akibat pandemi Corona yang menghentikan semua aktivitas. Saat ini beberapa pedagang menawarkan diskon besar-besaran.

PT Kontak Perkasa
PT KP Press

20 April 2020

Harga Emas Diprediksi Tertekan Pekan Ini


Kontak Perkasa Futures - Analis menilai, saat ini pasar rupanya telah fokus pada apa yang akan terjadi ke depannya, yang mana ekonomi akhirnya dibuka kembali. Untuk emas, hal tersebut berarti berlanjutnya tekanan pada pekan ini.

"Sentimen adalah pendorong yang lebih besar daripada fundamental makro. Jelas benar bahwa prospek makro sangat menguntungkan untuk emas saat ini. Tapi saya tidak berpikir itu akan menjadi radar semua orang sampai kita berada dalam fase pemulihan," kata pakar logam mulia Gainesville Coins, Everett Millman dikutip dari laman Kitco, Senin (20/4/2020).

Beberapa optimisme di pasar telah membangkitkan kembali investor, mengurangi lebih dari USD 80 dari 7,5-years high emas di atas USD 1.780 per ons yang dicapai awal pekan ini. Sementara itu, ekuitas AS membaik dengan Dow bertahan hampir 500 poin pada Kamis (16/4) pekan lalu.

Sentimen risk-on, yang membebani emas, datang di tengah laporan bahwa obat dari Gilead Sciences telah menunjukkan beberapa efektivitas dalam mengobati virus corona, yang memberi investor harapan bahwa ekonomi AS dapat dibuka kembali lebih cepat dari yang diharapkan.

Banyak analis telah menggambarkan mundurnya harga emas sebagai hal yang wajar. Kepala strategi pasar Blue Line Futures, Phillip Streible membeberkan bahwa level kritis itu untuk bertahan sekitar USD 1,7 ribu. Level USD 1,704 per ons menandai titik resistensi utama untuk sementara waktu.

Kepala strategi global TD Securities, Bart Melek melihat support di sekitar USD 1.670 dengan resistance tidak jauh di atas USD 1.724.

"Ini akan menjadi kisaran yang cukup sempit di sini," katanya. "Kami memiliki perkiraan harga USD 1.800, tapi itu tidak segera. Untuk kuartal ini, kami melihat rata-rata USD 1.625. Kami tidak mendapatkan USD 1.800 rata-rata sampai Q2 2021," jelasnya.



Liputan 6