Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

15 Agustus 2019

Harga Emas Antam Lebih Murah Rp 1.000 per Gram


PT. Kontak Perkasa Futures - Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau emas Antam turun Rp 1.000 menjadi Rp 754 ribu per gram, pada perdagangan Rabu (14/8/2019). Pada hari sebelumnya, harga emas mencapai Rp 755 ribu per gram.

Sedangkan untuk harga buyback emas Antam, pada hari ini juga turun Rp 1.000 menjadi Rp 682 ribu per gram. Harga buyback ini adalah jika Anda menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 682 ribu per gram.

Saat ini, Antam menjual emas dengan ukuran mulai 0,5 gram hingga 1.000 gram. Hingga pukul 08.03 WIB, mayoritas ukuran emas Antam masih tersedia.

Harga emas Antam ini berlaku di kantor Antam Pulogadung, Jakarta. Sementara, di gerai penjualan emas Antam lain bisa berbeda.

Sementara untuk harga emas Antam bercorak batik dengan ukuran 10 gram ditetapkan Rp 7.780.000. Sedangkan untuk ukuran 20 gram dijual Rp 15.010.000.

Harga emas Antam sudah termasuk PPh 22 sebesar 0,9 persen. Sertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) untuk memperoleh potongan pajak lebih rendah (0,45 persen).

* Pecahan 0,5 gram Rp 401.500

* Pecahan 1 gram Rp 754.000

* Pecahan 2 gram Rp 1.457.000

* Pecahan 3 gram Rp 2.164.000

* Pecahan 5 gram Rp 3.590.000

* Pecahan 10 gram Rp 7.115.000

* Pecahan 25 gram Rp 17.680.000

* Pecahan 50 gram Rp 35.285.000

* Pecahan 100 gram Rp 70.500.000

* Pecahan 250 gram Rp 176.000.000

* Pecahan 500 gram Rp 351.800.000

* Pecahan 1.000 gram Rp 703.600.000


www.liputan6.com/bisnis/read/4037216/harga-emas-antam-lebih-murah-rp-1000-per-gram?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Ftag%2Fharga-emas

14 Agustus 2019

Waspada! Harga Emas Hari Ini Rentan Koreksi, Ambil Untung?



Pt. kontak perkasa futures - Harga emas dunia melanjutkan penguatan perdagangan Selasa (13/8/19). Kekhawatiran para pemilik modal akan terjadinya perlambatan ekonomi global dan resesi di Amerika Serikat (AS) semakin memuncak. 

Pada perdagangan tengah hari kemarin, harga emas dunia sudah tembus US$ 1.519,75/troy ons pada pukul 12:50 WIB, melansir data investing.com. 



Sercara teknikal, jika melihat grafik harian harga emas masih bergerak di atas rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), dan MA 21 hari (garis merah), dan atas MA 125 hari (garis hijau). 

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif dan bergerak naik, histogram juga di area positif. Indikator ini memberikan gambaran peluang penguatan emas dalam jangka menengah.



Pada time frame 1 jam, emas bergerak di atas MA 8, dan MA 21 namun masih di atas MA 125. Indikator stochastic bergerak naik dan berada di wilayah jenuh beli (overbought). Indikator terakhir tersebut membuka peluang koreksi harga emas emas. 

Resisten terdekat berada di kisaran US$ 1.521, selama tertahan di bawah level tersebut, emas berpotensi turun ke area US$ 1.515. Penembusan di bawah level tersebut akan membuka peluang penurunan ke area US$ 1.508. 

Selama tidak menembus ke bawah US$ 1.508, logam mulai masih berpotensi kembali menguat, apalagi jika mampu bertahan di atas US$ 1.515. Penembusan ke atas resisten US$ 1.521 akan membawa emas ke resisten kuat US$ 1.526. Jika mampu menembus resisten kuat tersebut, emas akan terbang lebih tinggi lagi.

Selain faktor teknikal, sentimen lain yang mempengaruhi harga logam mulia ini adalah kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia yang semakin nyata.

Sejumlah sentimen negatif menghantui pelaku ekonomi, mulai dari perang dagang plus bumbu potensi currency war (perang mata uang), kebijakan moneter longgar dari banyak bank sentral dunia, dan adanya kerusuhan di Hong Kong, yang merupakan salah satu hub finansial global. 

Faktanya para ekonom, pelaku pasar, pengusaha dan pejabat pemerintahan kini semakin pesimistis perang dagang antara AS dengan China akan segera berakhir. Efeknya perekonomian global akan semakin melambat, dan ancaman resesi semakin nyata.

Bahkan Goldman Sachs sudah sangat pesimistis akan terjadikesepakatan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu terjadi sebelum pemilihan presiden AS tahun 2020 nanti. Bahkan lembaga keuangan asal AS ini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Paman Sam untuk kuartal IV-2019 menjadi 1,8% dari sebelumnya 2,0%.

Sementara itu, bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) kembali mendepresiasi nilai tukar yuan terhadap dolar AS pada hari ini. Langkah dari PBoC tersebut dikhawatirkan akan membuat AS ikut melemahkan dolar, dan currency war akan segera dimulai. 

PBoC menetapkan nilai tengah yuan di level 7,0362/US$ lebih lemah dari kemarin 7,0136/US$. Penasehat perdagangan Presiden Trump, Peter Navaro, pada Jumat (9/8/19) lalu mengatakan AS akan mengambil tindakan keras jika Beijing terus mendepresiasi mata uangnya. 

"Jelas, mereka (China) memanipulasi mata uangnya dari sudut pandang perdagangan" kata Navaro dalam acara Closing Bell CNBC International pada Jumat lalu. "Jika mereka terus melakukannya, kita (AS) akan mengambil tindakan keras pada mereka" tegas Navaro.

Jika perang mata uang terjadi, ancaman resesi akan semakin menjadi nyata. Kondisi ketidakpastian global yang sangat tinggi membuat bank sentral AS akan kembali agresif dalam memangkas suku bunga di tahun ini. 

Data piranti FedWatch milik CME Group menunjukkan probabilitas suku bunga The Fed 1,25%-1,5% di bulan Desember sebesar 42%, menjadi yang tertinggi dibandingkan probabilitas level lainnya. Persentase tersebut tidak terlalu jauh dengan probabilitas suku bunga sebesar 1,5%-1,75% sebesar 40,5%. 

Data tersebut menunjukkan pelaku pasar melihat The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali lagi tahun ini. Pemangkasan suku bunga paling cepat akan dilakukan pada September sebesar 25 basis poin menjadi 2%-2,25% dengan probabilitas sebesar 81,2%, berdasarkan peranti FedWatch siang ini. 

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, juga aset lindung nilai terhadap inflasi sehingga penurunan suku bunga oleh The Fed akan menguntungkan bagi emas karena opportunity cost yang berkurang. 

Pada pekan lalu ada empat bank sentral yang memangkas suku bunga acuannya, tiga diantaranya lebih besar dari prediksi pelaku pasar. Kebijakan bank sentral di berbagai negara tersebut menunjukkan perekonomian global sedang mengalami pelambatan yang serius.

www.cnbcindonesia.com/market/20190813203459-17-91820/waspada-harga-emas-hari-ini-rentan-koreksi-ambil-untung

13 Agustus 2019

Rekor Terus! Sampai Level Berapa Harga Emas Meroket?




PT. Kontak Perkasa Futures - Harga emas terus dan terus mencetak rekor selama 6 hari berturut-turut. Pada perdagangan Kamis lalu (8/8/2019), emas telah mencetak rekor menembus harga psikologis ke Rp 704.000/gram.

Harga tersebut bahkan naik 1% dibanding dengan harga di perdagangan Rabu (7/8/2019) di 697.000/gram. Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung di situs logammulia milik Antam Kamis kemarin, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram menguat menjadi Rp 70,4 juta dari harga kemarin Rp 69,7 juta per batang. 

Kenaikan harga emas Antam ini sejalan dengan naiknya harga emas di pasar spot global yang juga menembus level psikologis US$ 1.500 per troy ounce. 


Namun setelah rekor 6 hari, pada Jumat kemarin (9/8/2019), harga emas Antam turun Rp 1.000 menjadi Rp 703.000/gram.

Apa penyebab harga emas ini sebelumnya terus menguat dalam 6 hari? Apa mungkin harganya terus menguat dan tembus ke Rp 900.000/gram? 

Perlu diketahui, harga emas pernah mencapai harga tertingginya di US$ 1.920,30 per troy ounce pada September 2011, berdasarkan data Refinitiv. 

Pendongkrak kenaikan harga ini adalah adanya krisis keuangan Amerika yang akrab disebut subprime mortgage yang terjadi sejak 2008. 

Kondisi ini membuat The Fed agresif menurunkan suku bunga. Dalam 2 tahun, Federal Reserve telah menurunkan suku bunga sebanyak lima kali dengan total penurunan 500 basis poin atau 5%. 

Nah, saat ini global sedang dihantui kembali terjadinya perlambatan ekonomi. Beberapa faktor yang sama sudah mulai muncul, terutama langkah bank sentral untuk menurunkan suku bunga. 

Pada Rabu (7/8/2019), beberapa bank sentral mengambil keputusan untuk menurunkan suku bunga acuannya. 

Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) menurunkan suku bunga acuan 35 bps ke 5,4%. Kemudian Bank Sentral Thailand (BoT) juga menurunkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 1,5%. Bank Sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ) secara mengejutkan juga memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). 

Perkiraan kenaikan harga emas yang menembus Rp 900.000/gram ini ternyata bukan barang baru. Pendapat yang sama pernah disampaikan pada Juli lalu seiring dengan prediksi harga emas dunia yang diproyeksikan mencapai US$ 2.000 per troy ounce. 

Satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram. Dengan hitungan itu, besaran US$ 2.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 64,31 per gram. 

Dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.100 per dolar AS maka prediksi harga emas yakni setara dengan Rp 906.771 per gram. 

David Roche, Presiden dan ahli strategi global dari Independent Strategy yang berbasis di London, memprediksi tren kenaikan harga emas dapat berlanjut karena tensi perang dagang masih ada. 

"Saya meyakini saat ini pasar keuangan sekarang siap hancur seperti tumpukan pasir," ujar Roche, dilansir CNBC International. Dia juga turut menyarankan investor global untuk menahan portofolio investasinya di emas, obligasi pemerintah Eropa, dan obligasi terbitan pemerintah AS yaitu US Treasury. 

Dia juga berpendapat bahwa perang dagang yang dipicu langkah-langkah agresif Amerika Serikat akan berdampak sangat luas, berskala besar, memicu konflik global, dan menekan ekspektasi pertumbuhan di pasar saham. 

Tim Riset CNBC Indonesia memperkirakan secara analisis teknikal, secara jangka menengah outlook emas masih sama yakni menguat dengan target ke US$ 1.569 per troy ounce, sebelum level tersebut ada dua resisten (tahanan atas) yang kuat yakni US$ 1.526, dan US$ 1.540. 

Pada perdagangan Jumat kemarin, CNBC International mencatat harga emas dunia turun 0,09% di level US$ 1.508 per troy ounce. Jika mengacu kurs Bank Indonesia per Jumat kemarin, Rp 14.195/US$, maka besaran per gram yakni US$ 48.48/gram atau Rp 688.174/gram.  

Dengan kondisi tersebut dan sentimen yang mewarnainya, apakah sejarah harga emas menuju Rp 900.000/gram ini akan kembali terjadi?

Tak terbendung, harga emas 6 hari rekor.

www.cnbcindonesia.com/investment/20190810101755-21-91097/rekor-terus-sampai-level-berapa-harga-emas-meroket