Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

22 Juli 2019

Benarkah FaceApp Curi Data Pengguna?



Pt. kontak perkasa futures - FaceApp kembali populer di media sosial. Satu di antara fungsi adalah mengubah foto wajah seseorang menjadi tua dengan wujud realistis.

Tak mengherankan, bila kemudian banyak orang termasuk warganet berlomba memakai FaceApp. Mereka pun membagikan hasil aplikasi edit atau rekayasa foto wajah tersebut di media sosial.

Namun, di balik ketenaran FaceApp, banyak orang mempertanyakan soal keamanan data para pengguna. Bahkan, seorang senator Amerika Serikat sampai meminta Biro Penyelidik Federal atau FBI menyelidiki FaceApp.

Apa saja kekhawatiran terhadap FaceApp? Bagaimana pula klarifikasi dari pengembang aplikasi edit foto berbasis kecerdasan buatan itu? Simak dalam Infografis berikut ini:



www.liputan6.com/news/read/4016962/benarkah-faceapp-curi-data-pengguna?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2F

19 Juli 2019

Asyik! Kabar Terbaru The Fed akan Buat Indonesia Makin Seksi



PT. Kontakperkasa Futures - Pasar keuangan Indonesia bergerak cukup impresif pada penutupan perdagangan kemarin (18/7/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nilai tukar rupiah sama-sama menguat, hanya harga obligasi pemerintah saja yang melanjutkan tren penurunan.

Pada perdagangan kemarin, IHSG finis di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,14% ke level 6.403,29. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,18%, di mana US$ 1 dibanderol Rp 13.900 kala penutupan pasar spot.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik tipis 3,8 basis poin (bps) ke 7.143%. Penguatan yield menandakan harga obligasi sedang turun karena rendahnya permintaan.

Rilis Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia menjadi katalis penyelamat yang mendongkrak mood investor Tanah Air di tengah hawa mendung yang menyelimuti pasar keuangan global.

Gubernur BI Perry Warjiyo dan kolega akhirnya luluh dan memenuhi ekspektasi pasar dengan memangkas dengan memangkas suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI Repo Rate) 25 basis poin (bps) ke level 5,75%.

"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juli 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps (menjadi) 5,75%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Penurunan tersebut sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh CNBC Indonesia bahwa tingkat suku bunga acuan akan diturunkan 25 bps pada rapat RDG kemarin.

Keputusan tersebut sontak disambut hangat oleh investor Tanah Air, karena untuk pertama kalinya sejak 22 September 2017 BI kembali melonggarkan kebijakan moneternya. 

Perry menyampaikan alasan penurunan BI Repo Rate adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan penurunan suku bunga acuan akan mengerek tingkat suku bunga kredit ke level yang lebih rendah, sehingga sektor rumah tangga dan dunia usaha dapat berekspansi.

"BI akan mendorong peningkatan kredit untuk mendorong pertumbuhan yang masih di bawah level optimum," kata Perry usai RDG BI di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Terlebih, BI masih membuka ruang untuk kebijakan akomodatif ke depan.

"BI memandang masih terbuka ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif, sejalan dengan rendahnya inflasi dan momentum mendorong pertumbuhan ekonomi. Kami sudah akomodatif dalam beberapa bulan terakhir dan tetap akomodatif ke depannya. Kita longgarkan kebijakan atau bisa juga penurunan suku bunga," papar Perry.

Di lain pihak, meski pasar keuangan Indonesia finis di zona hijau pada perdagangan kemarin, tapi bisa dibilang penguatannya cukup terbatas.

Hal ini dikarenakan masih ada hawa mencekam dari memanasnya tensi dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, AS dan China.

Melansir laporan dari Wall Street Journal, negosiasi dagang antara Washington dan Beijing mandek karena kedua pihak tidak mencapai kata sepakat terkait dengan kasus Huawei, dilansir dari CNBC International.

Informasi ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa jalan masih panjang untuk mencapai kesepakatan dagang.

Head of Economics and Strategy di Mizuho Bank, Vishnu Varathan menyampaikan ini adalah waktu yang tepat untuk mengingatkan bahwa jangan terlalu berpuas diri dan menganggap resiko AS-China akan menurun sering dengan dimulainya babak baru pembicaraan bilateral, dikutip dari CNBC International.

www.cnbcindonesia.com/market/20190718183514-17-85976/asyik-kabar-terbaru-the-fed-akan-buat-indonesia-makin-seksi

18 Juli 2019

Kurang Gizi, IHSG Lemas & Ditutup di Zona Merah



PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Mengawali perdagangan dengan koreksi tipis sebesar 0,01% ke level 6.395,46, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nyaris tak pernah merasakan manisnya zona hijau pada hari ini. Per akhir sesi dua, IHSG melemah 0,11% ke level 6.394,61.

Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam mendorong IHSG melemah di antaranya: PT Astra International Tbk/ASII (-4,7%), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk/CPIN (-3,26%), PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (-1,24%), PT Indonesian Paradise Property Tbk/INPP (-12,2%), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-0,24%).

Kinerja IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang juga ditransaksikan di zona merah: indeks Nikkei jatuh 0,31%, indeks Shanghai melemah 0,2%, indeks Hang Seng turun 0,09%, dan indeks Kospi terpangkas 0,91%.

IHSG sedang kurang gizi pada hari ini, minim asupan sentimen positif. Dari sisi eksternal, sentimen negatif datang dari potensi memanasnya hubungan AS-China di bidang perdagangan.

Dalam rapat kabinet di Gedung Putih yang digelar kemarin (16/7/2019), Presiden AS Donald Trump menekankan bahwa AS dapat mengenakan bea masuk baru bagi produk impor asal China senilai US$ 325 miliar jika diperlukan.

"Ada produk impor senilai US$ 325 miliar yang bisa kita kenakan bea masuk baru jika kita mau," kata Trump, dilansir dari Bloomberg.

Komentar pedas dari Trump tersebut datang sehari pasca Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menebar optimisme bahwa delegasi AS bisa menyambangi Beijing dalam waktu dekat guna menggelar negosiasi dagang.

Berbicara di Gedung Putih dalam sesi briefing dengan reporter pada hari Senin (15/7/2019), Mnuchin mengatakan bahwa negosiasi tatap muka di Beijing mungkin terjadi jika perbincangan melalui sambungan telepon yang akan digelar pada minggu ini berlangsung produktif.

"Kami berencana menggelar perbincangan tingkat tinggi melalui sambungan telepon pada pekan ini dan jika kami membuat kemajuan yang signifikan, saya rasa ada peluang yang besar bahwa nantinya kami (Mnuchin & Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer) akan bertandang ke sana," kata Mnuchin seperti dikutip dari Bloomberg.

Dengan komentar pedas dari Trump tersebut, dikhawatirkan pihak China bisa tersulut dan menyebabkan perang dagang justru tereskalasi. Jika ini yang terjadi, dampaknya terhadap laju perekonomian dunia dipastikan akan signifikan, mengingat AS dan China merupakan dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di planet bumi.

Sejauh ini, AS telah mengenakan bea masuk baru terhadap produk impor asal China senilai US$ 250 miliar, sementara China membalas dengan mengenakan bea masuk baru bagi produk impor asal AS senilai US$ 110 miliar.

Sebagai informasi, pada awal pekan ini biro statistik Negeri Panda mengumumkan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China periode kuartal II-2019 berada di level 6,2% secara tahunan (year-on-year/YoY), menandai laju pertumbuhan ekonomi terlemah dalam setidaknya 27 tahun, seperti dilansir dari CNBC International.


www.cnbcindonesia.com/market/20190717162130-17-85648/kurang-gizi-ihsg-lemas-ditutup-di-zona-merah