Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

16 Juli 2019

Harga Emas Diramal Meroket ke Rp 900.000/Gram, Kalau Antam?


Kontak Perkasa futures - Diprediksi naik hingga Rp 900.000 per gram di akhir tahun, harga emas domestik tak takut dan justru mempertahankan diri di kisaran atas yang masih lebih tinggi dari level psikologis Rp 650.000 per gram. 

Emas domestik itu tercermin dari harga emas Antam batangan 100 gram, sebagai acuan emas bersertifikasi yang paling umum dijadikan instrumen investasi di dalam negeri. 

Prediksi harga emas Antam yang mencapai Rp 900.000 tersebut mengemuka akhir pekan lalu, seiring dengan prediksi harga emas dunia yang diproyeksikan mencapai US$ 2.000 per troy ounce, naik dari posisi US$ 1.415 per troy ounce yang masih di atas level psikologis US$ 1.400 per troy ounce. 

Satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram. Dengan hitungan itu, besaran US$ 2.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 64,31 per gram.  

Dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.100 per dolar AS maka prediksi harga emas yakni setara dengan Rp 906.771 per gram.

David Roche, presiden dan ahli strategi global dari Independent Strategy yang berbasis di London, memprediksi tren kenaikan harga emas dapat berlanjut karena tensi perang dagang masih ada, dilansir CNBC International pada Senin (8/7/2019).  

"Saya meyakini saat ini pasar keuangan sekarang siap hancur seperti tumpukan pasir," ujar Roche, yang turut menyarankan investor global untuk menahan portofolio investasinya di emas, obligasi pemerintah Eropa, dan obligasi terbitan pemerintah AS yaitu US Treasury.  

Dia juga berpendapat bahwa perang dagang yang dipicu langkah-langkah agresif Amerika Serikat akan berdampak sangat luas, berskala besar, memicu konflik global, dan menekan ekspektasi pertumbuhan di pasar saham.  

Tren kenaikan harga emas global dimulai ketika perang dagang AS-China kembali memanas pada awal tahun ini, yang otomatis meningkatkan harga emas dunia karena pergerakan harga emas linear dengan risiko yang sedang berkembang, terutama di pasar keuangan. 

Meskipun sudah mereda, perang dagang AS-China sudah menelan korban yaitu Huawei dan beberapa perusahaan lain asal China yang kemungkinan besar dianggap terlibat dalam aktivitas yang tak sesuai dengan keamanan nasional atau kebijakan luar negeri negeri Paman Sam. 

Dalam daftar hitam bisnis AS, atau yang biasa disebut Entity List, bersama dengan Huawei terdapat 144 nama perusahaan lain yang berasal dari beragam negara. 

Selain isu perang dagang dengan China, AS juga membuka front konflik lain dengan Eropa terkait Airbus-Boeing dan dengan Iran terkait harga minyak dan penembakan pesawat nir-awak. 

Akhirnya, dampak yang timbul dari perang dagang dan kondisi AS yang belum membaik betul malah berimplikasi pada pemangkasan pertumbuhan ekonomi negara-negara dunia dan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia sendiri yang diturunkan Bank Dunia menjadi tinggal 2,6% dari sebelumnya 2,9%. 

Karena ekonomi dunia yang diprediksi melemah itu, bank sentral AS pun memberi sinyal akan adanya rencana penurunan suku bunga di akhir bulan ini. 

Pasar bereaksi dengan mulai banyaknya analis dunia yang memprediksi penurunan suku bunga Fed Fund Rate akan ditambah dua kali lagi hingga akhir tahun, sehingga totalnya tiga kali. 

Survei pasar yang dirangkum CME Fedwatch menunjukkan potensi penurunan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) atau tiga kali 25 bps sudah naik menjadi yang tertinggi hingga akhir tahun. 

Posisi penurunan suku bunga 75 bps nya sudah mencapai 37,5% di atas potensi penurunan 50 bps yang hanya 33,7% dan penurunan 25 bps sebesar 9,7%. Sisanya ada yang memprediksi penurunan terjadi hingga 100 bps atau 1% yaitu hanya 2,5%.

www.cnbcindonesia.com/investment/20190715161123-21-85058/harga-emas-diramal-meroket-ke-rp-900000-gram-kalau-antam

15 Juli 2019

Tak Ada Lagi Cebong-Kampret, IHSG dan Rupiah Siap Meroket?


PT. Kontak perkasa Futures - Kemarin, calon presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan eks pesaingnya di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Prabowo Subianto. Ini adalah pertemuan pertama mereka selepas pesta demokrasi. 

Jokowi dan Prabowo sama-sama naik kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Setelah itu, keduanya menikmati santap siang bersama

Jokowi dan Prabowo juga sempat menggelar konferensi pers. Dua kuda pacu yang juga bersaing di Pilpres 2014 itu sepakat untuk mengakhiri berbagai perbedaan dan bersatu untuk membangun Indonesia. 

"Saya ucapkan selamat bekerja, menjadi presiden itu mengabdi. Masalah yang dipikul besar. Kami siap membantu kalau diperlukan. Mohon maaf kalau kita mengkritisi Bapak sekali-sekali. Sudah tak ada cebong-cebong, tak ada kampret-kampret. Semuanya Merah Putih!" tegas Prabowo. 

"Tidak ada lagi yang namanya 01, tidak ada lagi yang namanya 02. Tidak ada lagi yang namanya cebong, tidak ada lagi yang namanya kampret. Yang ada adalah Garuda, Garuda Pancasila. Marilah kita rajut, kita gerakkan kembali persatuan kita sebagai sebagai sebuah bangsa," begitu ucap Jokowi. 

Adem. Suasana yang selama kurang lebih setahun panas kini sudah dingin. Kompetisi politik sudah selesai, dan energi bangsa Indonesia bisa dicurahkan untuk pembangunan. 

Sebelumnya, ketidakpastian dan suhu panas politik menjadi batu sandungan bagi pelaku pasar. Investor belum berani menanamkan modalnya secara agresif di Indonesia, karena faktor tersebut. 

Namun kini ketidakpastian itu sirna. Investor tidak perlu lagi khawatir dengan tensi politik yang meninggi. Oleh karena itu, ada kemungkinan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah menguat pada perdagangan esok hari. 



Belajar dari 2014, IHSG dan Rupiah Siap Ngegas!

Belajar dari pengalaman 2014, momentum pertemuan Jokowi-Prabowo membuat investor begitu bergairah. Tensi politik Pilpres 2014 kurang lebih sama dengan tahun ini, bahkan kandidat presiden pun tidak berbeda. Jokowi dan Prabowo. 

Kala itu, penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) menang Pilpres, unggul atas pasangan Prabowo-Hatta Rajasa dengan perbandingan 53,15%-46,85%. 

Tidak puas, kubu Prabowo-Hatta juga menggugat hasil Pilpres ke Mahkamah Konstutusi. Sama seperti 2019, pada 21 Agustus 2014 Mahkamah juga menolak seluruh gugatan kubu Prabowo-Hatta. Putusan MK memperkuat hasil penghitungan suara KPU dan Jokowi-JK menjadi pemimpin Indonesia untuk 2014-2019. 

Namun pertemuan Jokowi-Prabowo baru terjadi pada 17 Oktober. Pertemuan dilakukan di Kertanegara, Kebayoran Baru (Jakarta Selatan). 

Respons IHSG dan rupiah kala itu sangat positif. Pada 17 Oktober, IHSG menguat hingga 1,56% dan menjadi penguatan harian tertinggi selama bulan tersebut. 

Rupiah pun sama. Pada 17 Oktober, rupiah melesat dengan penguatan 1,14% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Seperti IHSG, ini menjadi penguatan harian tertinggi selama Oktober 2014.

Namun euforia pertemuan Jokowi-Prabowo pada 2014 tidak bertahan lama. Hari-hari berikutnya investor mulai melakukan ambil untung (profit taking) sehingga IHSG dan rupiah bergerak melemah. 

Jadi, kita boleh berharap IHSG dan rupiah bisa melesat pada perdagangan esok hari. Jika itu terjadi, berterima kasihlah kepada Jokowi dan Prabowo. Namun ya itu tadi, jangan berharap sentimen ini bisa bertahan lama.

Source - CNBC Indonesia

12 Juli 2019

Harga Emas Antam Terbang Rp12.000/Gram, Jual atau Beli Ya?



Kontak Perkasa Futures - Perlahan tapi pasti, secara bertahap harga emas yang diproduksi Antam terus naik, naik, dan naik ke Rp 665.000 per gram dan menjadi level tertinggi sepanjang masa pada 3 Juli.

Hari ini, harga emas Antam naik kembali menjadi Rp 662.000 per gram karena terdongkrak harga emas global yang juga hampir menyentuh level tertingginya sejak Mei 2013. 

Pada awal Juli, kilau emas semakin bersinar karena ademnya AS-China, dan hari ini kenaikan harga emas didorong oleh sentimen pidato Powell semalam.

Jika Anda adalah pemilik emas Antam, langkah terbaik memang menunggu hingga pasar lebih jinak, karena tidak perlu bertindak buru-buru.

Apalagi, harga pasaran emas global diprediksi masih bisa naik karena kondisi sosial ekonomi dunia belum damai benar, seperti kasus minyak dan Timur Tengah, Brexit, perang dagang AS-Eropa AS-India AS-China, serta perlambatan laju ekonomi global.

Dengan risiko tersebut, pelaku pasar memprediksi harga emas global masih bisa naik lagi ke level psikologis US$ 1.500 per troy ounce di akhir kuartal III-2019.

Jika emas global bisa naik dari kisaran US$ 1.400 per troy ounce saat ini menjadi US$ 1.500 per troy ounce, maka harga emas Antam juga masih bisa naik sekitar 5% lagi menjadi Rp 731.600 per gram.

Selain karena potensi penguatan masih terbuka, dari sisi pengelolaan keuangan, menjual satu instrumen investasi ketika harga tinggi bukanlah hal yang bijaksana.

Menjual instrumen investasi disarankan tidak seluruh jumlah total instrumen terkait, tetapi cukup keuntungannya sehingga porsi masing-masing instrumen yang ada di dalam portofolio tetap terjaga (rebalancing).

Rebalancing disarankan untuk dilakukan secara rutin, baik setengah tahun sekali atau sekurangnya setahun sekali.

Nah, bagi Anda yang belum memiliki instrumen emas, ada baiknya Anda mulai mengalokasikan sebagian investasi ke instrumen emas karena sifat emas yang unik.

Emas unik karena sifat dasarnya sebagai alat lindung nilai (hedging) dari investasi dalam bentuk lain, terutama investasi di pasar keuangan, karena pergerakannya akan berbalik dari arah pasar keuangan global.

Sehingga, jika pasar keuangan global sedang bergerak negatif, maka emas justru akan menguat. Jadi, bagi yang belum punya emas, mulailah memiliki emas dan nantinya bisa naik-naik ke puncak harga emas pada tren berikutnya. 


www.cnbcindonesia.com/investment/20190711155727-21-84258/harga-emas-antam-terbang-rp12000-gram-jual-atau-beli-ya