Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

24 Juni 2019

Optimalkan Instagram Jadi Ladang Duit, Begini Tipsnya!


PT. Kontak Perkasa Futures - Saat ini, aktivitas di media sosial tak sekedar untuk pamer kegiatan sehari-hari. Tapi bisa juga jadi sumber penghasilan jika bisa mengelolanya dengan tepat. 

Sebut saja seperti yang dilakukan oleh Anya Geraldine, wanita muda yang kini dijuluki sebagai selebgram karena memiliki pengikut 2,1 juta di akun instagramnya. 

Meski enggan membuka soal jumlah penghasilannya, Anya mengakui instagram adalah salah satu pintu rezeki awalnya. Dari instagram, tawaran lain berdatangan dan ia pun mematok tarif untuk endorsement dengan kisaran beragam. 

Untuk menciptakan sosial media menjadi ladang bisnis ternyata ada beberapa hal yang harus dilakukan. Selebgram ternama Anya Geraldine pun memberikan beberapa tips.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah, Anda harus mengenal segmentasi. Ini meliputi umur dan kriteria para followers Anda.

"Kalian harus tahu bagaimana segmentasi followers Anda. Orang nya seperti apa dan kelas nya gimana, umur berapa dan kriteria nya juga," kata Anya Geraldine kepada CNBC Indonesia.

Dia menambahkan bahwa bila menerima beberapa endorse pastikan yang sesuai dengan pribadi Anda. Hal ini agar Anda mendapatkan ikatan yang tepat antara produk dan Anda.

"Dengan itu kamu tahu apa yang akan kamu jual dan tawarkan ke followers. Kaya aku followers aku 50:50 wanita dan pria mereka semua usianya dibawah 35 tahun," kata dia.

Anya pun cukup pemilih terhadap barang endorse yang ditawarkan kepada nya. Bila itu tidak sesuai dengannya maka dia pun tak akan mengambilnya.

"Aku sebenarnya picky terima endorse tapi aku punya admin dan dia yang sortir semua. Aku picky terhadap skin care, obat pelangsing, dan pembesar payudara," kata dia.

Source : CNBC Indonesia

21 Juni 2019

Gara-gara The Fed & Harga Minyak, Wall Street Reli Kencang


PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Indeks-indeks Wall Street mencetak reli, Kamis (20/6/2019), setelah para pelaku pasar menyambut baik kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve menurunkan suku bunganya bulan depan.

Dow Jones Industrial Average melesat naik 0,94%, S&P 500 melompat 0,95%, dan Nasdaq Composite melejit 0,8% di akhir perdagangan.

The Fed mengumumkan kebijakan moneternya Rabu waktu setempat dan mengatakan bank sentral siap menghadapi risiko-risiko ekonomi global dan dalam negeri. Sebagian besar pejabat The Fed menurunkan proyeksi tingkat suku bunga acuannya tahun ini hingga sekitar 0,5 poin persentase.

Selain itu, Gubernur The Fed Jerome Powell juga mengatakan beberapa pejabat setuju bahwa alasan penurunan suku bunga semakin kuat.

Para pelaku pasar melihat secara umum bank sentral AS telah bersikap lebih dovish dari yang diharapkan. Mereka kini memperkirakan peluang The Fed menurunkan bunganya bulan depan mencapai 100%, menurut FedWatch, dilansir dari CNBC International.

Sementara itu, sektor energi naik lebih dari 2% pada perdagangan Kamis dan menjadi sektor berkinerja terbaik di indeks S&P 500 akibat melejitnya harga minyak. Harga minyak melesat naik 5% lebih setelah para pejabat AS mengatakan sebuah drone militernya ditembak jatuh oleh Iran.

Ketegangan meningkat di Timur Tengah setelah serangan yang terjadi pekan lalu terhadap dua kapal tanker di dekat Selat Hormuz. Selat ini adalah jalur pengiriman pasokan minyak dunia yang sibuk.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah Washington menyalahkan Teheran atas serangan terhadap kapal tanker itu. Iran menyangkal bertanggung jawab atas serangan itu.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20190621062051-17-79709/gara-gara-the-fed-harga-minyak-wall-street-reli-kencang

20 Juni 2019

Kala Facebook Ingin Jadi Bank Sentral

PT. Kontak Perkasa Futures - Perusahaan media sosial Facebook mengumumkan akan meluncurkan cryptocurrency atau mata uang digital yang diberi nama Libra. Cryptocurrency ini akan dikontrol oleh Facebook dan beberapa perusahaan besar lainnya yang tergabung dalam Libra Association.

Mata uang digital yang didukung sistem blockchain ini rencananya terbit pada semester I-2020. Libra akan memungkinkan pengguna untuk menabung, mengirim, dan membelanjakan uang semudah mengirimkan pesan singkat.

Pada tahap awal, Libra bakal lebih banyak digunakan untuk mengirimkan uang dari satu individu ke individu lain yang punya akses ke bank tradisional. Namun ke depannya, Libra ditujukan untuk menjadi sistem pembayaran yang nilainya stabil seperti mata uang konvensional.

Proyek terbaru dari Facebook ini terbilang sangat ambisius yang dapat merevolusi metode transaksi finansial. Facebook memiliki pengguna aktif bulanan sebanyak 2,38 miliar per 21 Maret 2019. Belum termasuk pengguna WhatsApp, Instagram, dan platform lain di bawah naungan Facebook. 

Sementara itu laporan dari PBB menunjukkan populasi penduduk dunia mencapai 7,7 miliar di tahun 2019. Ini berarti lebih dari 30% populasi penduduk dunia adalah pengguna aktif Facebook dkk, yang tentunya tersebar di berbagai negara, bayangkan jika semua beralih menggunakan Libra, bagaimana nasib mata uang konvensional?

Penggunaan Libra sebagai alat pembayaran atau transaksi tentunya akan mendapat tantangan dari segi trust atau kepercayaan para penggunanya. Cryptocurrency tidak seperti mata uang konvensional yang nilainya dijamin oleh negara melalui bank sentral. 

Misalnya, satu lembar uang kertas yang tertera tulisan Rp 50.000 (nilai nominal) akan dipercaya oleh masyarakat sebagai alat transaksi barang ataupun jasa dengan nilai yang sama, karena ada jaminan dari bank sentral. 

Seandainya Facebook dengan Libra-nya berhasil memperoleh trust pengguna, maka salah satu peran bank sentral yang menjamin nilai nominal mata uang akan tergantikan. Libra akan menjadi mata uang global yang diterima di mana saja.

Namun, tidak akan mudah bagi Facebook untuk memperoleh trust mengingat cryptocurrency rentang mengalami peretasan. Pada September 2018 lalu misalnya, bursa jual beli cryptocurrency asal Jepang bernama Zaif dirampok dan mengalami kerugian sebesar US$ 60 juta. Lalu pada Januari 2018, bursa Coincheck bernasib serupa, mengalami peretasan dengan kerugian hingga US$ 534 juta. 

Masih banyak lagi kasus-kasus peretasan yang menimpa bursa cryptocurrency seperti BitFinex dan MtGox dengan kerugian jutaan hingga ratusan juta dolar, yang tentunya merugikan para investor. 

Libra juga akan diperjualbelikan di bursa cryptocurrency, yang namanya belum diungkapkan Facebook. Tingkat keamanan akan menjadi isu krusial bagi Libra.

Selain itu, cryptocurrency juga mendapat kritik dari tokoh-tokoh top di dunia finansial. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Chirstine Lagarde pada April lalu mengatakan mata uang digital akan mengguncang sistem perbankan dan harus dimonitor untuk menjaga stabilitas.

Lagarde memperingatkan perubahan industri finansial harus diikuti dengan regulasi. "Kita tidak ingin inovasi menguncang sistem sehingga mengganggu stabilitas yang diperlukan," tegasnya.

https://www.cnbcindonesia.com/fintech/20190619222029-37-79445/kala-facebook-ingin-jadi-bank-sentral