Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

18 Juni 2019

Jakarta-Bandung Cuma 36 Menit dengan Kereta Cepat


PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Kehadiran Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) bakal mempersingkat waktu tempuh antara kedua kota. KCJB bakal menggunakan tipe kereta terbaru CR400AF yang merupakan hasil pengembangan tipe CRH380A oleh CRRC Qingdao Sifang. 

Tipe tersebut memiliki kecepatan desain hingga 420km/jam dan kecepatan operasional 350 km/jam. Dengan kecepatan tinggi tersebut, CR400AF akan menempuh waktu temps untuk jarak 142,3 km Jakarta - Bandung hanya dalam waktu 36 menit bila langsung tanpa henti. 

Namun sesuai trase KCJB, terdapat empat stasiun pemberhentian dari Jakarta menuju Bandung. Dimulai dari Stasiun Halim, Karawang, Walini, hingga Tegalluar, Bandung. 

Jika ditambah waktu singgah pada empat stasiun itu, maka waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi 46 menit.

"Meskipun kecepatan tinggi, dari sisi kenyamanan CR400AF memiliki cabin noise yang lebih rendah sehingga mampu meredam getaran dan suara di dalam kereta dengan lebih optimal," kata General Manager Material/Equipment PT KCIC Jarot Ari Wibowo melalui keterangan resminya, Senin (17/6/2019). 

CR400AF memang didesain untuk beroperasi di empat iklim, salah satunya di iklim tropis dengan kondisi suhu dan kelembaban tinggi seperti di Indonesia. CR400AF juga dipastikan mampu menghadapi kondisi geografis lintasan Jakarta - Bandung yang cenderung menanjak.

"Dengan besar daya setiap rangkaian mencapai 9750 kW, CR400AF mampu memberikan akselerasi yang lebih baik saat melewati trase pada elevasi 30 per mil," katanya. (hoi/hoi)

Source : CNBC Indonesia

17 Juni 2019

Tuduhan Tim Prabowo: Kotak Suara Siluman dan TPS 'Baru'


PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Tim hukum capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Teuku Nasrullah mengungkapkan dugaan kecurangan pada Pilpres 2019 terkait kotak suara siluman dalam sidang awal gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK). 

"Ada kotak suara siluman, ditemukan juga manipulasi daftar pemilih khusus dan kemudian jumlah suara pemohon berjumlah nol," kata Nasrullah, Jumat (14/6/2019).

"Hal tersebut terjadi di Jatim, Jateng, khususnya Boyolali. [...] Ada indikasi kuat kecurangan," imbuhnya.

"[...] Jadi ada indikasi kuat terdapat 2.984 TPS siluman atau sekitar 895.200 suara siluman yang berada di TPS tersebut," jelasnya.

Menurut Nasrullah, adanya ketidakwajaran jumlah suara juga terjadi dan cukup mencolok. Ketidakwajaran ini merugikan perolehan suara dari pemohon.

Selain itu, Nasrullah juga menyebut tiba-tiba ada TPS baru. Di mana jumlahnya mencapai 37.000. 

"Dari TPS tersebut potensial angkanya digunakan untuk penggelembungan suara. Ada indikasi di TPS pada konteks ini termohon [KPU] diduga dalam pengaturan tidak sah," kata Nasrullah.

Source : CNBC Indonesia

13 Juni 2019

Inflasi AS Melambat, Dolar Masih Perkasa?


PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Dolar Amerika Serikat (AS) masih cukup kuat pada perdagangan Rabu (12/6/19), meski data inflasi menunjukkan pelambatan. Data ini merupakan salah satu acuan bagi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menentukan kebijakan moneter

Pada pukul 20:35 WIB, indeks dolar berada di level 96,77 atau menguat 0,9%. Indeks ini sering digunakan tolok ukur kekuatan dolar terhadap mata uang lainnya. 

Data yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi yang dilihat dari indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) hanya tumbuh 0,1% di bulan Mei, melambat dari bulan sebelumnya sebesar 0,3%. Persentase kenaikan harga-harga di bulan Mei tersebut sesuai dengan prediksi Forex Factory. 

Inflasi inti atau Core CPI (yang tidak memasukkan sektor makanan dan energi dalam perhitungan) juga tumbuh 0,1% sama dengan pertumbuhan bulan April, namun masih di bawah prediksi di Forex Factory sebesar 0,2%.

Data inflasi serta data tenaga kerja merupakan beberapa indikator yang dijadikan acuan untuk menentukan suku bunga. Pada Jumat (7/6/19) lalu data non-farm payroll atau penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian hanya sebanyak 75.000 orang, jauh di bawah bulan sebelumnya 224.000 orang. 

Buruknya data tenaga kerja, ditambah dengan inflasi yang melambat tentunya semakin menguatkan spekulasi The Fed suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) akan dipangkas sebanyak tiga kali di tahun ini. 

Namun meski secara keseluruhan inflasi menunjukkan pelambatan pertumbuhan, tetapi di beberapa sektor justru menunjukkan kenaikan, yakni biaya sewa dan kesehatan. Hal itu membuat The Fed masih memiliki "alasan" untuk tidak buru-buru menurunkan suku bunga, dan memberikan tenaga bagi dolar untuk bertahan. 

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar melihat ada peluang sebesar 66,8% pemangkasan FFR di bulan Juli, tidak ada perubahan dibandingkan sebelum data inflasi dirilis. 

The Fed akan mengadakan rapat kebijakan moneter pada pekan depan, dan kemungkinan akan memberikan informasi yang lebih jelas kapan dan berapa kali suku bunga bisa dipangkas di tahun ini.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20190612210626-17-78007/inflasi-as-melambat-dolar-kok-masih-perkasa