Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

11 April 2019

Soal Wisata Halal, Indonesia Terbaik di Dunia!


PT. Kontak Perkasa Futures - Lembaga pemeringkat Mastercard-Crescent menempatkan Indonesia pada peringkat pertama standar GMTI dengan skor 78, bersama dengan Malaysia yang sama-sama berada di ranking teratas.

Sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia, Indonesia tercatat mengalami peningkatan secara berjenjang dari ranking 6 di 2015, ranking 4 di 2016, ranking 3 di 2017, ranking 2 di 2018, akhirnya Indonesia menduduki peringkat 1 GMTI di 2019.

Source : CNBC Indonesia

10 April 2019

IHSG Berpeluang Kembali ke Zona Hijau

PT. Kontak Perkasa Futures - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan kembali menguat dengan diperdagangkan pada level support dan resistance di 6.447-6.502

Analis PT Artha Sekuritas Juan Oktavianus Harahap mengatakan, penguatan IHSG dikonfirmasikan oleh IHSG berhasil menguji weighted average Bollinger band.

Oleh karena itu, menurutnya IHSG akan kembali bergerak ke zona hijau pada kisaran 6.447-6.502.

"Untuk selanjutnya, pelaku pasar mencermati perundingan perdagangan AS-China yang semakin dekat dengan kesepakatan perdagangan," tuturnya di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Menambahkan, Head of Research PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi memprediksi IHSG akan rebound dalam jangka pendek di rentang 6415-6500.

Adapun pada hari ini ia merekomendasikan saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), dan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Kemudian Juan memilih saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), serta PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di zona hijau pada perdagangan saham Selasa pekan ini. Hal ini ditopang aksi beli investor asing di pasar regular.

Pada penutupan perdagangan saham, Selasa (9/4/2019), IHSG menguat 58,61 poin atau 0,91 persen ke posisi 6.484,34. Indeks saham LQ45 mendaki 0,89 persen ke posisi 1.024,35. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.

Sebanyak 243 saham menguat sehingga mendukung penguatan IHSG. 156 saham melemah dan 126 saham diam di tempat.

Pada perdagangan Selasa pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.484,39 dan terendah 6.429,53.

Total frekuensi perdagangan saham 431.886 kali dengan volume perdagangan 15,5 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8,2 triliun. Investor asing beli saham Rp 517,01 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.133.

10 sektor saham menguat sehingga mendukung penguatan IHSG. Sektor saham aneka industri naik 1,77 persen, dan bukukan penguatan terbesar.

Disusul sektor saham konstruksi menanjak 1,54 persen dan sektor saham perdagangan mendaki 1,34 persen.

Saham-saham catatkan top gainers antara lain saham RAJA mendaki 25 persen ke posisi Rp 300 per saham, saham DUTI melonjak 17,45 persen ke posisi Rp 6.900 per saham, dan saham BNLI menguat 10 persen ke posisi Rp 990 per saham.

Sedangkan saham-saham yang melemah antara lain saham RODA turun 24,73 persen ke posisi Rp 414 per saham, saham APII tergelincir 20,61 persen ke posisi Rp 181 per saham, dan saham GLOB terpangkas 12,61 persen ke posisi Rp 402 per saham.

Bursa Saham Asia


Bursa saham Asia sebagian besar menguat kecuali indeks saham Shanghai susut 0,16 persen. Sementara itu, indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,27 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,13 persen, indeks saham Jepang Nikkei menguat 0,19 persen.

Selain itu, indeks saham Thailand mendaki 0,71 persen, indeks saham Singapura bertambah 0,31 persen dan indeks saham Taiwan menguat 0,47 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, pergerakan IHSG relatif menguat di tengah sentimen negatif dari global ketidakpastian Brexit dan negosiasi dagang a lot antara Amerika Serikat dan China.

"Kenaikan cadangan devisa Indonesia dari USD 123,3 miliar menjadi USD 124,5 miliar turut memberikan sentimen positif bagi penguatan indeks saham," ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

Source :w w w . l i p u t a n 6 . c o m

09 April 2019

Mengenal Lebih Dekat Investasi Saham

PT. Kontak Perkasa Futures - Saham merupakan salah satu instrumen yang bisa digunakan untuk menyimpan dana atau uang anda dengan harapan mendapat keuntungan besar di masa depan. Keuntungan yang ditargetkan investor saham, biasanya lebih tinggi dari bunga deposito atau lebih tinggi dari inflasi sehingga nilai uang tidak berkurang.

Namun, masih banyak masyarakat kita yang tak paham dengan instrumen satu ini. Bahkan dari total penduduk Indonesia, baru 0,2% jumlah penduduk yang berinvestasi di pasar saham.

Apa itu saham? Saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan yang merupakan klaim atas penghasilan dan kekayaan perseroan. Masyarakat bisa membeli bebas saham perusahaan-perusahaan yang sudah menjadi perusahaan publik dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).


Berinvestasi di saham artinya membeli saham dengan harga saat ini dan berharap di kemudian hari harga ini akan mengalami peningkatan. Keuntungan dari kenaikan harga ini dinamakan capital gain.

Selain capital gain, keuntungan berinvestasi pada saham adalah memperoleh dividen dari perusahaan. Dividen adalah bagian laba perusahaan yang diperoleh perusahaan dan dibagikan kepada pemegang saham sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki.

Sebagai contoh, Andi membeli saham PT Unilever Tbk (UNVR) awal tahun lalu di harga Rp 44.500 per sahamnya sebanyak 1 lot (100 unit). Hingga Jumat (8/6) lalu harga sahamnya sudah meningkat hingga Rp 58.100, artinya Andi sudah memperoleh capital gain sebesar Rp 13.600 dari awal tahun ini.

Selain itu, Andi juga akan menerima pembagian dividen dari Unilever di akhir bulan ini sebesar Rp 505 per sahamnya.

Artinya, Andi sudah menerima keuntungan 30,56% dari capital gain. Sementara dividen yield yang diterima mencapai 0,86%. Artinya total keuntungan dari investasi Andi pada saham Unilever mencapai 31,42%.

Namun, berinvestasi di saham juga tak sepenuhnya selalu menguntungkan. Ada dua hal yang perlu diantisipasi oleh calon investor, yakni kerugian atas penurunan harga (capital loss) dan risiko likuidasi jika perusahaan bangkrut. Tapi hal ini tidak akan menjadi soal jika calon investor pintar dalam memilih saham yang cocok untuk dijadikan instrumen investasi. (hps)


Source : CNBC Indonesia