Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

11 April 2018

PT Kontak Perkasa Futures | IHSG Ditutup Menguat 1,28%


Kontak Perkasa, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang perdagangan hari ini , Selasa (10/4/2018) ditutup menguat sebesar 79,68 poin atau 1,28% ke level 6325,81. Indeks sempat menyentuh level terendah di posisi 6.243 dan tertiggi 6.244,35. Hal yang sama terjadi pada indeks LQ45 pun naik 17,71 poin atau 1,73% ke level 1.039,61.

Tercatat, para investor bertransaksi senilai Rp7,12 triliun, dengan frekuensi perdagangan mencapai 426.047 kali transaksi dan volume 7,98 miliar lembar saham yang diperdagangkan. Sebanyak 221 saham menguat, 149 melemah, dan 117 saham tak bergerak. Investor asing membukukan aksi beli bersih (nett buy) Rp10,12 miliar.

Hampir seluruh sektor saham di BEI kompak menguat, hanya sektor saham agri yang terkoreksi 1,24%. Sektor saham keuangan bahkan meroket 1,85%, sektor infra melejit 1,65%, dan sektor saham pertambangan menguat 1.27%.

Saham-saham yang mengalami kenaikan paling tinggi (top gainer) yakni TRIL naik 26 poin atau 34,67% ke Rp101 per saham, diikuti GHON yang menguat 435 poin atau 24,79% ke Rp2.190 per saham, dan TDPM naik 84 poin atau 24,56% ke Rp426 per saham.

Sementara saham-saham yang turun terdalam (top lossers) antara lain adalah CITA turun 115 poin atau 14,48% ke Rp660 per saham, disusul PTIS turun 62 poin atau 14,49% ke Rp366 per saham, dan MARI turun 210 poin atau 14% ke Rp1.290 per saham.

Saham teraktif diperdagangkan yakni INPC dengan 19.854 transaksi senilai Rp5,07 miliar, diikuti saham HELI sebanyak 13.804 kali senilai Rp29,71 miliar dan saham TLKM sebanyak 11.177 kali senilai Rp531,2 miliar.

04 April 2018

PT Kontak Perkasa Futures | Bea Cukai: Harga Rokok di Indonesia Paling Mahal


Kontak Perkasa, Jakarta - Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan menilai harga rokok di Indonesia sebenarnya sudah mahal dibandingkan sejumlah negara lain.

Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai Deni Surjantoro menyatakan harga rokok dalam lima tahun terakhir cenderung kurang terjangkau.

"Kalau secara nominal absolut memang murah. Dengan mempertimbangkan daya beli, harga rokok di Indonesia sudah mahal," kata Deni di Jakarta, Selasa.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo menambahkan harga rokok di Indonesia lebih mahal dibandingkan beberapa negara, seperti Jepang, Korea, Tiongkok, Hong Kong, Australia, Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam.

Penilaian ini berdasarkan indeks keterjangkauan yang diukur melalui rasio "Price Relative to Income" (PRI) atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.

Yustinus menjelaskan harga rokok di Indonesia jika memperhitungkan faktor daya beli, sebenarnya tidaklah murah.

"Kalau dibandingkan dengan harga dan dihitung daya beli, harga rokok Indonesia sudah mahal dibandingkan negara-negara lainnya," ujar Yustinus.

Sebelumnya Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi juga menegaskan harga jual sebatang rokok di Indonesia merupakan yang tertinggi setelah dibandingkan dengan pendapatan per kapita per hari masyarakat.

"Secara nominal harga rokok di Indonesia memang relatif lebih rendah daripada Singapura atau negara maju lain. Tapi kalau kita bandingkan secara relatif terhadap pendapatan per kapita per hari, sebenarnya harga jual satu batang rokok kita termasuk yang tertinggi," ucapnya.

Harga jual rokok di Indonesia sebesar 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) per kapita per hari.

Angka ini terbilang tinggi dibandingkan dengan negara maju, seperti Jepang. Harga jual rokok di Jepang berkisar 0,2 persen dari PDB per kapita per hari.

"Memang nominalnya lebih murah dibandingkan negara-negara maju. Tapi harus kita ingat semua, itu kan dikendalikan juga dari daya beli," ungkap Heru.

03 April 2018

PT Kontak Perkasa Futures | Dolar AS Menguat di Tengah Kekhawatiran Perdagangan

 
Kontak Perkasa, Chicago - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange melonjak 1,48 persen pada akhir perdagangan Selasa (3/4/2018) pagi WIB, didorong kekhawatiran meningkatnya ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni, naik 19,6 dolar AS atau 1,48 persen, menjadi menetap di 1.346,90 dolar AS per ounce.

Para investor kembali dari libur panjang akhir pekan Paskah untuk perkembangan baru tentang perang perdagangan, yang membantu meningkatkan permintaan emas sebagai salah satu aset "safe-haven".

Tiongkok menangguhkan konsesi tarif atas 128 item produk-produk AS termasuk daging babi dan buah-buahan mulai Senin (2/4), menurut Departemen Keuangan.

Komisi Tarif Bea Cukai Dewan Negara telah memutuskan untuk mengenakan tarif 15 persen atas 120 item produk-produk yang diimpor dari Amerika Serikat, termasuk buah-buahan dan produk-produk terkait, serta tarif 25 persen untuk delapan item produk-produk impor termasuk daging babi dan produk-produk terkait dari negara tersebut, menurut pernyataan yang dimuat di situs web kementerian.

Pernyataan itu mengatakan bahwa langkah tersebut adalah tindakan balasan sebagai tanggapan atas langkah AS sebelumnya untuk menerapkan tarif impor baja dan aluminium.

Meskipun ada keberatan di seluruh dunia, pemerintah AS memutuskan untuk mengenakan tarif 25 persen untuk impor baja dan tarif 10 persen untuk impor aluminium, dengan tarif-tarif impor dari negara-negara termasuk Tiongkok.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei naik 40,4 sen AS atau 2,48 persen, menjadi menetap di 16,672 dolar AS per ounce. Platinum untuk penyerahan Juli bertambah 3,9 dolar AS atau 0,42 persen, menjadi ditutup pada 936,50 dolar AS per ounce.