Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

22 Maret 2018

Kontak Perkasa Futures | Keseringan Dicekoki Mars Perindo, Jokowi: Sampai Saya Hafal


Kontak Perkasa, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengaku sampai hafal Mars Perindo lantaran seringnya lagu tersebut diputar di televisi.

"Setiap saya menghidupkan TV saya kalau sampai rumah kan sudah malam, lihat-lihat TV saya mendengar lagu Mars Partai Perindo," kata Presiden Jokowi saat berpidato dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Persatuan Indonesia (Perindo) II di di Jakarta Covention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Rabu malam (21/3/2018).

Ia mengaku sampai hafal mars partainya Hary Tanoesoedibjo tersebut. Namun ketika diminta menyanyikan lagu tersebut di depan publik Jokowi enggan melantunkannya.

"Tapi di sini jangan saya disuruh nyanyi," katanya.

Partai Persatuan Indonesia (Perindo) menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional II sebagai langkah konsolidasi partai untuk Pemilu 2019.

21 Maret 2018

Kontak Perkasa Futures | Emas Berjangka Turun Karena Pertemuan Fed


Kontak Perkasa - Chicago, Kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun pada akhir perdagangan Rabu (21/3/2018) pagi WIB, karena dolar AS menguat menjelang pertemuan Federal Reserve yang diperkirakan secara luas akan menaikan suku bunga.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman April turun 5,9 dolar AS atau 0,45 persen, menjadi ditutup pada 1.311,9 dolar AS per ounce.

The Fed akan mengakhiri pertemuan kebijakan moneter dua hari pada Rabu waktu setempat atau Kamis (22/3) pagi waktu Indonesia, dengan keputusan tentang suku bunga dan konferensi pers akan mengikutinya.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,6 persen menjadi 90,32 pada pukul 17.30 GMT.

Emas dan dolar AS biasanya bergerak berlawanan arah, yang berarti jika dolar AS menguat maka emas berjangka akan jatuh, karena logam mulia yang dihargakan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya.

Sedangkan untuk logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei turun 14 sen atau 0,86 persen, menjadi menetap di 16,128 dolar AS per ounce. Platinum untuk penyerahan April turun 9,4 dolar AS atau 0,98 persen, menjadi ditutup pada 945 dolar AS per ounce.

15 Maret 2018

Kontak Perkasa Futures | Tumpukan Utang RI dari Zaman Soeharto hingga Jokowi

Kontak Perkasa – Terbatasnya Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN dibandingkan target dari capaian pembangunan nasional membuat pemerintah akhirnya harus menutup defisit dengan sejumlah kebijakan pinjaman atau utang.

Sejak pemerintahan Presiden Soeharto hingga Jokowi, tambal sulam APBN terus dilakukan guna menjaga target pembangunan nasional tercapai. Upaya tersebut diakui pemerintah terus dijaga kesehatannya sehingga APBN tetap prudent.

Bahkan, pemerintahan Presiden Jokowi terang-terangan menyatakan bahwa bertambahnya utang pemerintah dilakukan hanya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di bidang infrastruktur dari negara tetangga.

Adapun berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga 30 September 2017 total outstanding utang pemerintah telah mencapai Rp3.866,4 triliun atau setara US$286,5 miliar.

Angka tersebut naik sekitar Rp1.257,6 triliun dibandingkan jumlah utang yang ditinggalkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada akhir 2014 lalu yang sebesar Rp2.608,8 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, jumlah utang RI saat ini memang secara nominal meningkat dari tahun ke tahun. Namun hal itu tentu harus dilihat secara keseluruhan karena utang digunakan untuk mengejar tujuan APBN.

Menurut dia, utang RI saat ini jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju di dunia secara nominal sangat kecil. Bahkan, seperti Jepang dan AS saja utang RI justru kecil sekali dan secara GDP terus menurun.  

"Jadi APBN dan utang itu instrumen bukan tujuan. Dan jika ada yang bilang nominal utang semakin tinggi, kita tidak menuju ke sana. Sebab, UU kita tidak bolehkan utang lebih dari 60 persen PDB," tegasnya beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun VIVA, sejak krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 Presiden Soeharto telah meninggalkan utang pemerintah sebesar Rp551 triliun atau setara US$68,7 miliar.

Kemudian, utang berlanjut di pemerintahan Presiden BJ Habibie pada akhir 1999 dengan outstanding mencapai Rp938,8 triliun atau setara US$132,2 miliar. Lalu, Presiden Gus Dur pada akhir 2001 naik menjadi Rp1.232,8 triliun.

Sementara, pada era Presiden Megawati utang yang ditinggalkan pada 2004 mencapai Rp1.298 triliun atau setara US$139,7 miliar. Dan pada era SBY selesai pada 2014 utang ditinggalkan sebesar Rp2.608,8 triliun.