Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

05 Maret 2018

PT Kontak Perkasa Futures | Bill Gates Tak Lagi Jadi Orang Terkaya di Dunia, Gara-Gara Apa?


Kontak Perkasa, New York - Untuk pertama kalinya sejak lima tahun terakhir, Bill Gates tergeser dari posisinya sebagai orang terkaya di dunia. Baru-baru ini, lembaga riset kekayaan global asal China, Hurun Research Institute merilis daftar peringkat 2.694 miliarder dari 68 negara di dunia dan nama Gates tidak berada di urutan pertama.

Melansir laman khaleejtimes.com, Minggu (4/3/2018), hasil riset bertajuk Hurun Global Rich List 2018 tersebut mencatat Jeff Bezos sebagai miliarder terkaya di dunia dengan total kekayaan mencapai US$ 123 miliar.

Tahun ini, Bezos berhasil menambahkan total US$ 51 miliar ke dalam jumlah kekayaannya. Sementara itu, salah satu miliarder tertua Warren Buffet tercatat berada di posisi kedua dengan peningkatan kekayaan sebesar 31 persen dari tahun sebelumnya.

Tak lagi berada di posisi pertama, Bill Gates ternyata berada di urutan ketiga daftar orang terkaya dunia versi Hurun. Bezos berhasil menembus urutan pertama orang terkaya dunia setelah saham Amazon meningkat tajam sebear 70 persen dibanding tahun lalu.

Sementara Buffett yang berada di posisi kedua setelah total harta kekayaannya melebihi nilai US$ 100 miliar. Gates sendiri turun ke posisi ketiga setelah mendonasikan saham Microsoft senilai US$ 4,6 miliar ke yayasan miliknya.

Meski begitu, harta kekayaan Gates tercatat meningkat sebesar 11 persen menjadi US$ 90 miliar. "Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Gates bukan lagi orang terkaya di planet ini," tulis keterangan Hurun Report.

Laporan yang baru dirilis ini menyebutkan, total kekayaan seluruh orang terkaya dunia mencapai jumlah yang fantastis senilai US$ 10,5 triliun. Itu setara dengan 13,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) global.

"Tak pernah ada kekayaan sebanyak ini yang dimiliki hanya segelintir orang di dunia. Pencapaian yang luar biasa dari para miliarder, sebanyak 1508 orang meningkatkan kekayaannya dan terdapat 567 wajah baru dalam daftar ini," tutur pimpinan penelitian Hurun Report, Rupert Hoogewerf.

China Melampaui AS

Tahun ini, jumlah miliarder dari China juga berhasil melampaui total yang dimiliki Amerika Serikat yakni 819 banding 571 orang. Dua tahun lalu, selisih kedua negara tersebut sangat tipis dan terus saling susul.

"Para miliarder di China sedang mengalami periode kewirausahaan yang luar biasa. Negara tersbut berhasil menambah 210 miliarder hanya dalam waktu setahun," terang Hoogewerf.

Sementara India terlihat semakin berkembang setelah berhasil menambah 31 miliarder di negaranya. Saat Ini India menjadi negara ketiga dengan jumlah miliarder terbanyak di dunia.

Sekadar informasi, Hurun Research Report mengurutkan total kekayaan 2.694 miliarder dari 2.157 perusahaan di 68 negara.

Tahun ini, jumlah miliarder dari China juga berhasil melampaui total yang dimiliki Amerika Serikat yakni 819 banding 571 orang. Dua tahun lalu, selisih kedua negara tersebut sangat tipis dan terus saling susul.

"Para miliarder di China sedang mengalami periode kewirausahaan yang luar biasa. Negara tersbut berhasil menambah 210 miliarder hanya dalam waktu setahun," terang Hoogewerf.

Sementara India terlihat semakin berkembang setelah berhasil menambah 31 miliarder di negaranya. Saat Ini India menjadi negara ketiga dengan jumlah miliarder terbanyak di dunia.

Sekadar informasi, Hurun Research Report mengurutkan total kekayaan 2.694 miliarder dari 2.157 perusahaan di 68 negara.

02 Maret 2018

PT Kontak Perkasa Futures | Bursa Asia Melemah Dibayangi Kekhawatiran Perang Dagang

Kontak Perkasa, Tokyo - Bursa Asia melemah di akhir pekan ini, dipicu investor yang khawatir jika kebijakan Presiden Donald Trump yang mengumumkan bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengenakan tarif impor produk baja dan aluminium, bisa meningkatkan momok perang perdagangan global.

Melansir laman Reuters, Jumat (2/3/2018), indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2 persen. Sementara Nikkei Jepang jatuh 2,4 persen.

Sebelumnya Wall Street tercatat melemah dengan indeks S&P 500 kehilangan 36,16 poin atau 1,33 persen menjadi 2.677,67. Ini sehari setelah para investor melakukan aksi jual akibat kekhawatiran bahwa Federal Reserve mungkin akan menaikkan suku bunga lebih dari yang diperkirakan pada tahun ini.

Trump menyebutkan jika besaran pengenaan bea impor masing-masing 25 persen untuk baja dan 10 persen aluminium. Kebijakan ini akan diumumkan secara resmi minggu depan.

Investor khawatir keputusan Trump bisa memicu aksi balasan dari mitra dagang utama seperti China, Eropa dan negara tetangga Kanada yang bisa memukul perekonomian global.

Kecemasan itu digarisbawahi terkait respons cepat Kanada, di mana para pejabat di Ottawa mengatakan bahwa mereka akan membalas terhadap kebijakan tarif produk baja dan aluminium AS tersebut.

Kekhawatiran perang dagang dinilai berbahaya saat data ekonomi AS dilaporkan membaik. Dari laporan yang keluar Kamis, indeks manufaktur naik ke level tertinggi dalam 14 tahun. Jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran juga mencapai level terendah dalam 48 tahun.

"Bahkan jika Anda memproduksi barang, jika seseorang tidak membelinya, Anda harus mengurangi produksi Anda, yang menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi global," kata Daisuke Uno, Kepala Ahli Strategi di Sumitomo Mitsui Bank.

Pasar Mata Uang

Di pasar mata uang, dolar menguat menyusul komentar bullish terkait perekonomian Amerika dari Gubernur Federal Reserve baru Jerome Powell.

Mata uang Euro melonjak kembali ke posisi US$ 1,2271, setelah mencapai level terendah tujuh minggu di US$ 1,21545.

Terhadap Yen, Dolar tergelincir ke posisi 106,12, merayap kembali ke level terendah 15 bulan di 105,545 pada 16 Februari.

Harga minyak juga berada di bawah tekanan, setelah turun lebih dari satu persen pada hari sebelumnya karena kebijakan perdagangan Trump yang menimbulkan kekhawatiran tentang ekonomi global.

Minyak mentah AS diperdagangkan pada posisi US$ 61,23 per barel, naik 0,4 persen pada hari Jumat setelah turun ke level terendah dua minggu di US$ 60,18 pada hari Kamis. Harga minyak turun 3,7 persen sejauh minggu ini.

01 Maret 2018

PT Kontak Perkasa Futures | BEI Lakukan Sosialisasi Agar Startup Bisa Go Public


Kontak Perkasa, Jakarta - Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal Indonesia yang terdiri dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar sosialisasi terkait proses untuk menjadi Perusahaan Tercatat (go public) bagi perusahaan rintisan dengan judul "Startup #GoPublic".

Direktur Utama BEI Tito Sulistio berharap dengan penyelenggaraan Startup Go Public ini dapat menambah jumlah perusahaan tercatat atau emiten di BEI, khususnya perusahaan rintisan atau startup yang belum mencatatkan sahamnya di BEI.

"Kondisi perekonomian Indonesia yang prospektif juga mendukung masifnya pertumbuhan perusahaan rintisan di dalam negeri," ungkap Tito saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Tito menyatakan bahwa dewasa ini terjadi fenomena munculnya perusahaan startup, yang tumbuh pesat berkat dukungan perkembangan teknologi, khususnya penggunaan internet dalam 10 tahun terakhir.

"Startup menjadi tren yang sangat diperhatikan oleh seluruh pelaku industri mengingat konsep bisnisnya yang mampu membawa kepraktisan dan keunikanbagi seluruh pelaku ekonomi," ucapnya.

Indonesia telah resmi masuk ke dalam golongan negaradengan Produk Domestik Bruto (PDB) melebihi USD1 triliun, dengan jumlah PDB Indonesia di 2017 lalu sebesar Rp13.588 triliun. Lalu, ditambah lagi faktor fundamental Indonesia yang kuat menjadi sentimen positif lain bagi tumbuhnya perusahaan rintisan di dalam negeri.

"Dari sisi demografi, Indonesia terus menjadi basis kekuatan ekonomi selama ini, seperti negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan rata-rata usia penduduknya berada di antara 29 hingga 30 tahun. Itu jadi kekuatan bagi perusahaan rintisan," ungkapnya.

Menurut Tito, startup di Indonesia banyak yang berniat untuk menjadi perusahaan terbuka. Dengan kehadiran startup diharapkan akan dapat lebih menyemarakkan perdagangan saham di pasar modal Indonesia.

"Sehingga pasar modal Indonesia dapat semakin menjadi cerminan maupun tolak ukur bagi kemajuan perekonomian Indonesia," tandasnya.