Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

13 Oktober 2017

PT KONTAK PERKASA FUTURES | Saham Telekomunikasi Tertekan, Ini Kata Telkom


Kontak Perkasa - Jakarta Sejumlah saham di sektor telekomunikasi tertekan pada perdagangan Rabu pekan ini. Salah satunya saham milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), akibat keluarnya investor asing di bursa lokal sejak Rabu (11/10/2017).

Investor asing melakukan nett selling untuk saham berkode TLKM sebesar Rp 225,7 miliar, pada Rabu pagi (11/10/2017). Kemudian saat penutupan, saham TLKM di posisi Rp 4.400 atau turun 130 basis poin.

Adapun perdagangan saham Rabu (11/10/2017), ditutup turun ke level 5,882.78 (-0.38 perse) atau 22 poin, IHSG diwarnai net sell foreign lebih kurang Rp 800 miliar.

Kemudian pada Kamis ini (12/10/2017), hingga penutupan perdagangan sesi I, TLKM mulai menghijau dengan naik 40 basis poin di Rp 4.440 basis poin.

VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo menyatakan, operator pelat merah ini merupakan saham big cap paling likuid di bursa lokal. Ini membuat investor asing ingin mengurangi exposure-nya terhadap market Indonesia, di mana paling mudah menjual saham TLKM, karena bisa cepat terjual dalam jumlah besar.

Dia mengaku, pelemahan nilai tukar Rupiah dalam 2 minggu terakhir juga memberikan tekanan lebih tinggi, mengingat sebagian besar investor asing berbasis di Amerika Serikat. Adapun pada 28 September, nilai tukar dolar AS menembus Rp 13.500.

“Di semester I-17, saham Telkom tumbuh cukup baik mencapai 20 persen year to date Juni, di antaranya didorong kenaikan dividen menjadi 70 persen di awal tahun serta kinerja di kuartal I dan kuartal kedua yang sangat baik. Sehingga valuasi Telkom saat ini cukup tinggi, dengan PE Ratio sekitar 20x dan EV/Ebitda sekitar 7.5x.,” jelas dia.

Kepala Riset PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menuturkan, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk alami tekanan didorong aksi jual investor asing.

"Bulan ini saja tercatat aksi jual (saham Telkom) Rp 2 triliun. Sedangkan net sell investor asing di saham EXCL dan ISAT tidak cukup banyak. Kita perkirakan aksi jual itu menekan saham Telkom dalam dua hari ini," jelas Alfred sebelumnya.

Ia menambahkan, faktor yang mendorong aksi jual investor asing tersebut pun belum cukup jelas. Apalagi dilihat secara fundamental, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, menurut Alfred, mencatatkan kinerja baik.

Saham Telkom diprediksi akan menguat pada hari ini karena sektor telekomunikasi masih menarik hingga akhir tahun. "Ini didukung dari dominasi Telkom dibandingkan pesaing-pesaingnya. Cakupan Telkom lebih luas," kata Alfred.

Analis dari Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengakui, beredar berbagai spekulasi perihal pergerakan saham Telkom kemarin.  “Mulai dari antisipasi keluarnya kinerja Telkom untuk kuartal III-17, ada yang bilang saham Telkom sudah overvalue, dan lainnya. Kalau saya lihat ini lebih ke antisipasi keluarnya laporan kinerja,” jelas dia.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Tasrul mengatakan, secara teknikal, justru ini menjadi momentum untuk masuk membeli saham Telkom.

Dia memprediksi, koreksi harga saham ini mulai tertahan. Jika dilihat, distribusi volume saham Telkom sejak naik 105 minggu terakhir berada di kisaran level Rp 3.900-Rp 4.200. Level ini menjadi area support, dengan catatan level support terdekat Rp 4.350 tidak mampu dipertahankan.

Sementara, selama 11 pekan terakhir, harga saham Telkom turun di kisaran Rp 4.650-Rp 4.700 per saham. Level ini menjadi resistance area. Sehingga, rekomendasi buy on weakness dengan posisi normal trading range di level Rp 4.200-Rp 4.700 per saham.

Selain saham Telkom, Saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) ikut tergelincir 4,68 persen ke posisi Rp 3.460 per saham. Saham EXCL sempat berada di level tertinggi 3.620 dan terendah 3.400. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 3.211 kali dengan nilai transaksi Rp 31,6 miliar.

Gerak dua saham telekomunikasi itu berbeda dengan saham PT Indosat Tbk (ISAT). PT Indosat Tbk mencatatkan kenaikan harga saham 2,81 persen ke posisi Rp 6.400 per saham. Saham ISAT sempat berada di level tertinggi 6.400 dan terendah 6.175. Total nilai transaksi harian saham Rp 1,4 miliar.

12 Oktober 2017

PT KONTAK PERKASA FUTURES | Pebisnis Indonesia Tawarkan Diri ke Alibaba

Kontak Perkasa - Tangerang Selatan, Pebisnis Indonesia dari Rarali.com dan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) menawarkan potensi yang dapat dikembangkan kepada Alibaba.com dalam ajang Trade Expo Indonesia ke-32 bertempat di ICE (Indonesia Convention Exhibition), Kota Tanerang Selatan, Banten.

"Kegiatan temu bisnis ini tidak hanya sebatas perkenalan, tetapi juga dalam rangka meningkatkan hubungan dagang kedua negara," kata Atase Perdagangan Kedutaan Besar RI di Beijing Dandi S Iswara di ICE-BSD, Rabu.

Menurut Dandi, kegiatan ini menghadirkan sejumlah pengusaha dari segi bidangnya potensial untuk dikerjasamakan secara bisnis dengan Alibaba.com, laman perdagangan elektronik global asal Tiongkok.

Kegiatan temu bisnis ini dapat terselenggara melalui kerja sama dengan Red and White China Cultural Development Co. Ltd. yang memfasilitasi pertemuan pengusaha Indonesia dengan Alibaba.com.

Chief Operating Officer (COO) Ralali.com, Alexander Lukman menyatakan kesiapannya untuk menjalin kerja sama bisnis dengan Alibaba.com terutama untuk memenuhi kebutuhan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.

Bagi Ralali.com temu bisnis dengan Alibaba.com merupakan pertama kalinya diharapkan semakin banyaknya variasi produk global untuk memenuhi kebutuhan usaha kecil dan memengah yang selama ini digarap perusahaan.

11 Oktober 2017

PT KONTAK PERKASA FUTURES | 3 Investor Berminat Bangun Pesawat R-80






Kontak Perkasa - Jakarta - Sebanyak tiga investor menyatakan minat untuk membangun pesawat R-80, buatan Indonesia. Nilai investasi untuk membangun pesawat tersebut di atas US$ 1 miliar.

Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Habibie masih enggan menyebut investor tersebut. "Ada 3, Indonesia enggak ada yang membuat pesawat, selain PTDI. Beda, kalau PTDI kalau menurut saya sebaiknya menjadi partner di pihak kita sama-sama perusahaan Indonesia," kata di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Dia memperkirakan, keputusan untuk menggandeng mitra itu pada 2018. Dengan begitu, pesawat bisa uji terbang pada 2022.

"Tahun depan mestinya selesai. Biar bisa on target pesawat terbang 2021-2022 kan tinggal 4 tahun. Sampai terbang belum sertifikasi," ujar dia.

Dia menambahkan, untuk sertifikasi membutuhkan waktu setahun hingga satu setengah tahun. Setelah itu, produk tersebut dipasarkan ke pelanggan.

Meski begitu, dia menuturkan, investasi di pesawat berbeda dengan investasi di bidang lain. Lantaran, risiko dan pendapatan ditanggung bersama.

"Jadi investor ambil bagian, tapi dia menanggung biaya sendiri. Risk and revenue sharing. Jadi menanggung risiko menanggung revenue. Kalau menjual, dia mendapat bagian daripada pendapatan," ujar dia.

Ilham Habibie Angkat Bicara soal Donasi Peawat R-80

Masyarakat bisa berpartipasi dalam membangun pesawat dalam negeri yakni R-80. Pasalnya, PT Regio Aviasi Industri (RAI) menggagas penggalangan dana melalui Kitabisa.com.

Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Habibie mengatakan, penggalangan dana ini sejatinya bukan semata-mata untuk membangun pesawat. Namun, untuk mencari dukungan untuk membangun pesawat tersebut.

"Buat kami crowdfunding lebih untuk menunjukkan kepada siapa pun bahwasanya rakyat mendukung. Namanya donasi, bukan investasi," kata dia saat berkunjung di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Ilham tak mengetahui posisi terakhir dana yang terkumpul. Namun, antusias masyarakat sangat besar.

"Crowdfunding donasi, jadi terus terang enggak tahu status terakhirnya, tapi dalam seminggu kita sudah mengumpulkan Rp 1,3 miliar. Cepat sekali," ujar dia.

Ilham menuturkan, meski dana yang terkumpul relatif besar, itu tak akan cukup untuk menutup biaya pembangunan pesawat yang sangat besar. Menurut Ilham, biaya yang dibutuhkan untuk membangun pesawat di atas US$ 1 miliar.

"US$ 1 miliar ke atas, di antara US$ 1,1 miliar-1,5 miliar," ujar dia.

Di Amerika Serikat (AS) saja, kata dia, penggalangan dana belum pernah mencapai US$ 100 juta.

"Crowdfunding bukan untuk kebutuhan, ada kebutuhan tentunya, tidak akan mungkin bisa mengumpulkan US$ 1 miliar dengan crowdfunding. Dengan crowdfunding di dunia, di AS bisa puluhan juta dolar tapi lebih US$ 100 juta belum pernah ada. Itu di AS di mana peraturannya lebih progresif, ekonomi lebih kaya jadi partisipasinya lebih substansial," kata dia.