Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

27 September 2017

PT Kontak Perkasa Futures | Miliarder Terkaya Ternyata Punya Profesi Awal yang Sama, Apa Itu?

Kontak Perkasa - Jakarta - Jadi orang kaya atau miliarder adalah mimpi yang ingin diwujudkan banyak orang. Tapi untuk bisa mencapainya, perlu usaha dan ketekunan yang sangat besar. Tak jarang, berbagai kegagalan pun harus dihadapi.

Sebuah fakta menarik terungkap dari survei yang dilakukan oleh lembaga riset independen Aaron Waliis. Penelitian yang menilik 100 orang paling kaya di muka bumi ini menemukan ada kesamaan dari pekerjaan pertama para miliarder tersebut.

Dilansir dari usatoday.com, Selasa (26/9/2017), 53 dari 100 orang terkaya dunia ternyata memulai kariernya sebagai pegawai dan bekerja untuk orang lain. Sebagian besar dari mereka ternyata banyak yang bekerja sebagai sales. Profesi ini dinilai mampu memberi pengaruh besar yang akhirnya menjadikan mereka sebagai seorang miliarder.

Selain menjadi sales, profesi awal para miliarder yang lain adalah broker saham, pengembang piranti lunak, insinyur, analis hingga akuntan.

Ranking 17 miliarder teratas memulai karier mereka sebagai seorang pegusaha. Contohnya seperti Mark Zuckerberg dan Bill Gates.

Berikut pekerjaan pertama dari para miliarder dunia:

1. Bill Gates

Pekerjaan pertama: pengusaha piranti lunak

2. Warren Buffet

Pekerjaan pertama: Sales produk investasi

 3. Jeff Bezos

Pekerjaan pertama: pengembang piranti lunak

 4. Amancio Ortega

Pekerjaan pertama: pegawai toko ritel


 5. Mark Zuckerberg

Pekerjaan pertama: pengusaha sosial media

25 September 2017

PT Kontak Perkasa Futures | Cara Top Up Gratis Uang Elektronik dengan Jumlah Besar

Kontak Perkasa - Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah mengatur biaya pengisian saldo uang elektronik atau top up. Meski telah diatur, namun pemilik kartu elektronik bisa terbebas dari biaya top up tersebut, bahkan dalam jumlah besar. Bagaimana caranya?

Kepala Pusat Program Transformasi BI Onny Widjanarko mengatakan, top up dengan nilai hingga Rp 200 ribu melalui kanal yang sama dengan penerbit kartu tidak dikenakan biaya. Jadi, isi ulang dengan jumlah besar tidak akan dikenai biaya top up jika dilakukan secara mencicil.

"Kita pastikan dulu, kalau mau isi ketengan Rp 1 juta 5 kali sepanjang pada device dengan penerbit On Us kita pastikan nggak kena biaya," kata dia di Gedung BI Jakarta, Jumat (22/9/2017).

Lebih lanjut, dia mengatakan, penetapan batas Rp 200 ribu tersebut dengan memperhatikan karakter masyarakat Indonesia. Dia mengatakan, selama ini rata-rata masyarakat Indonesia melakukan top up di bawah Rp 200 ribu. Dia bilang, batas Rp 200 ribu tersebut sebagai salah satu cara melindungi konsumen.

"BI ada kajian akan melihat rata-rata masyarakat di Indonesia yang top up berapa sih itu yang dilindungi. Ternyata 96 persen top up itu yang paling rata-ratanya antara Rp 100 ribu- Rp 200 ribu. Tapi yang paling banyak Rp 100 ribu- Rp 50 ribu jadi kita ambil paling aman untuk konsumen ya udah Rp 200 ribu," jelas dia.

Dia menambahkan, BI juga menerapkan batas itu dengan menimbang frekuensi top up uang elektronik masyarakat. "Kita mengambil keputusan dari kajian-kajian frekuensi dan pola masyarakat ketika top up," ujar dia.

22 September 2017

PT Kontak Perkasa Futures | Sekuritisasi Aset BUMN Dorong Orang RI Berinvestasi

Kontak Perkasa - Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, dengan adanya sekuritisasi aset yang dilakukan oleh beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mendorong masyarakat berinvestasi di pasar keuangan. Selama ini memang minat investasi masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar keuangan masih cukup rendah.

D‎armin menjelaskan, dengan adanya sekuritisasi aset yang dilakukan perusahaan BUMN, tidak hanya memperdalam pasar keuangan Indonesia, tetapi juga akan membuat masyarakat tertarik untuk berinvestasi pada instrumen tersebut.

"Itu tidak hanya berarti semakin besar market size kita, lebih dari pendalaman itu membuat semakin banyak tertarik bagian dari masyarakat kita,‎" kata Darmin, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (20/9/2017).

Instrumen investasi pasar keuangan sempat tidak dilirik masyarakat. Bahkan pengelola dana besar juga tidak berminat untuk memutar uangnya pada instrumen investasi tersebut.

"‎Jangankan perorangan. pas kita terbitkan obligasi, itu namanya asuransi, dana pensiun tidak mau. Lebih senang di deposito meski bunganya lebih kecil," papar Darmin.

Menurut Darmin, agar investasi pada pasar keuangan menarik maka dibuat kebijakan pembatasan besaran bungan deposito. Dampaknya, investasi pada pasar keuangan mulai dilirik dan setelah mendapat imbal hasil yang lebih besar dari deposito banyak pihak mulai berinvestasi pada instrumen tersebut.

"Masyarakat begitu mencicipi bunga lebih tinggi dia tahu ini lebih menarik. Apalagi kalau ada desain bayar kupon dan bunga per bulan," tutup Darmin.