Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

12 Mei 2017

Harga Minyak Dunia Bangkit Saat Saudi Pangkas Pasokan ke Asia | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES - Harga minyak mentah dunia pada perdagangan hari ini meningkat, bahkan Brent mampu kembali melewati level USD50 per barel. Hal ini terimbas dari penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) dan lebih dari yang diharapkan Arab Saudi memangkas pasokan ke AS dalam upaya memperketat pasar. 

Seperti dilansir Reuters, Kamis (11/5/2017) harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan internasional berada di posisi USD50,33 per barel, pada pukul 00.39 GMT atau naik 11 sen mendekati 0,2% dari sesi terakhir. Sedangkan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada level USD47,46 per barel dengan tambahan 13 sen atau 0,3% dibandingkan sesi sebelumnya. 

"Kami melihat dorongan terbesar adalah persedian untuk tahun lalu yang telah turun lebih dari 5 juta barel. Mulai terlihat upaya pemotongan produksi yang dilakukan OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Dunia) mulai menggigit," ujar Strategi Pasar CFD and FX provider AxiTrader Greg McKenna. 

Seperti diketahui OPEC ditambah produsen minyak lainnya termasuk Rusia telah berjanji untuk mengurangi produksi hampir lebih dari 1,8 juta barel per hari (bpd) selama paruh pertama tahun 2017. Namun sejauh ini telah ada beberapa sinyal bahwa dalam pasar global sebagian produsen masih melindungi pelanggan terbesar mereka terutama dari Asia, menjaga imbas dari pengurangan produksi. 

Tapi setelah harga minyak Brent kembali jatuh di bawah level USD50 per barel pekan lalu, analis mengatakan produsen merasa dipaksa untuk bertindak. Salah satunya eksportir minyak terbesar dunia Arab Saudi yang telah memberitahukan kepada beberapa penyuling Asia terkait pengurangan alokasi regional. 

Reuters melaporkan pada tengah pekan kemarin, bahwa Saudi Aramco akan mengurangi persediaan minyak untuk pelanggan Asia pada kisaran 7 juta barel di bulan Juni. Di Amerika Serikat, stok minyak mengalami penurunan terbesar dalam satu pekan sejak Desember saat impor menurun tajam dan persedian produk olahan juga menyusut. Persediaan minyak mentah jatuh 5,2 juta barel seperti disampaikan administrasi informasi energi AS, pekan lalu.


Sumber : ekbis.sindonews

10 Mei 2017

Harga Kebutuhan Pokok Mulai Merangkak Naik Jelang Ramadan | PT. KONTAK PERKASA FUTURES

PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Lonjakan harga kebutuhan pokok mulai terlihat pada beberapa kota menjelang memasuki bulan Ramadan, seperti yang terjadi di Kota Semarang. Sejumlah kebutuhan yang sudah mengalami kenaikan di antara telur ayam, daging ayam hingga cabai merah dan bawah putih. 

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Peterongan yakni Suparmi mengatakan telur ayam dari sebelumnya Rp17.000 sudah mengalami kenaikan menjadi Rp22.000 per kilogram. Selain telur, kenaikan juga terjadi pada daging ayam, dari Rp27.000 menjadi Rp32.000 per ekornya.

Dia menambahkan beberapa bumbu dapur juga tidak ketinggalan juga naik, seperti cabe merah kriting, dari sebelumnya Rp20 ribu kini menjadi Rp35 ribu, serta bawang putih yang biasanya Rp30 ribu menjadi Rp60 ribu per Kg. 

Menurut Suparmi kenaikan harga dagangan tersebut karena dipicu meningkatnya permintaan masyarakat. "Setiap menjelang Ramadan kan biasanya warga banyak melakukan acara hajatan, sehingga permintaan daging dan telur mengalami kenaikan," ungkapnya. 

Sementara pendagang di Pasar Bulu, Tun juga mengakui, kenaikan harga sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya hal itu sudah menjadi hal biasa setiap kali menjelang bulan Puasa.

Menurutnya, meski sudah ada kenaikan, beberapa kebutuhan rumah tangga masih cukup stabil bahkan ada yang mengalami penurunan, seperti cabai rawit setan yang sebelumnya sempat mencapai harga Rp125 ribu saat ini sudah mengalami penurunan menjadi Rp70 ribu. "Harga daging sapi juga masih stabil," imbuhnya. 

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto mengaku, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan seluruh Dinas dan instansi terkait untuk mengendalikan kenaikan harga bahan pokok selama Ramadan. "Kami melakukan beberapa upaya agar harga kebutuhan pokok di pasaran pada H-5 puasa sudah stabil. Salah satu di antaranya siap berkoordinasi dengan Bulog untuk menggelar operasi pasar apabila kenaikan harga sudah terlalu tinggi," katanya. 

Terang dia, seluruh petugas yang berada di pasar tradisional akan setiap hari melakukan pemantuan harga kebutuhan pokok untuk memantu kenaikan yang terjadi. "Begitu terjadi kenaikan, harga kebutuhan pokok yang tinggi, pihaknya akan langsung melakukan komunikasi dengan Wali Kota dan Bulog untuk melaksanakan operasi pasar," papar Fajar. 



Sumber : ekbis.sindonews

09 Mei 2017

Indonesia Dinilai Tak Sanggup Beli Saham Freeport | PT. KONTAK PERKASA

PT. KONTAK PERKASA - Center Indonesia Taxation Analysis (CITA) menilai, Indonesia tidak akan sanggup membeli saham 51% yang wajib didivestasikan oleh PT Freeport Indonesia (PTFI). Pembelian saham PTFI hanya akan memicu peningkatan utang luar negeri oleh pemerintah.

Berdasarkan hitungan PTFI, nilai sahamnya sekitar USD15,9 miliar atau hampir Rp200 triliun. Berarti, 51% sahamnya dihargai sebesar USD8,11 miliar atau sekitar Rp105 triliun.

Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo mengungkapkan, pemerintah berencana membeli saham divestasi Freeport lewat holding BUMN tambang yang akan dibentuk. Namun dia menilai, aset PT Inalum (Persero), PT Bukit Asam (Persero), PT Timah (Persero) dan PT Aneka Tambang (Persero) tidak akan mampu membeli 51% saham tersebut.

"Kalau menghitung dari cadangan dan ekspektasi yang ada, setidaknya keseluruhan saham freeport kalau dinilai saat ini hampir Rp200 triliun lebih. Kalau 51% nya sekitar Rp105 triliun. Kemampuan BUMN itu Rp50 triliun. Dia tidak bisa melakukan pinjaman lebih tinggi, karena peminjamnya juga enggak mau," katanya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Sementara, jika divestasi saham Freeport dibeli bank-bank pelat merah, kata Yustinus, mereka sanggup namun hal tersebut justru akan mengakibatkan bank-bank negara melakukan pelanggaran terhadap aturan Bank Indonesia (BI).

Sebab, perbankan dilarang investasi di sektor lain termasuk sektor pertambangan. "Bank BUMN enggak bisa karena akan melanggar aturan BI, mereka tidak boleh invest ke sektor lain termasuk pertambangan," imbuh dia.

Menurutnya, cara yang paling mudah sejatinya adalah masyarakat bergotong royong membeli saham Freeport. Dia mencontohkan, saat ini dana repatriasi yang dikumpulkan pemerintah melalui program pengampunan pajak (tax amnesty) mencapai Rp145 triliun.

Namun, hal tersebut belum tentu bisa dilakukan mengingat tidak seluruh peserta tax amnesty sepakat dana repatriasinya dilarikan ke sektor pertambangan.

"Cara paling mungkin, kalau negara gotong royong bisa, tapi itu justru hal yang paling sulit untuk negara ini. Dana tax amnesty misalnya, kita ada repatriasi Rp145 triliun. Itu kalau semua sepakat digunakan (untuk divestasi Freeport) itu mungkin. Tapi ini soal trust," tuturnya.

Sementara dana dari uang tebusan tax amnesty mencapai Rp135 triliun. Sejatinya, uang tersebut cukup untuk membeli saham divestasi Freeport. Sayangnya, uang tersebut sudah digunakan untuk menambal defisit dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 yang mencapai Rp300 triliun.

Atas dasar itu, dia menilai bahwa pembelian saham divestasi perusahaan tambang kelas kakap tersebut hanya akan meningkatkan porsi utang luar negeri pemerintah atau bahkan pengalihan anggaran infrastruktur yang telah dipetakan pemerintah.

"Jadi, kita punya beban seperti itu. Itu yang jadi tidak reasonable. Kalau mau undang investor asing lagi, isunya nanti sama saja. Hanya ganti pemain. Seolah kita punya pikiran lebih baik ganti orang atau meneruskan investor yang sama," tutur Yustinus. 


Simak juga : PT. KONTAK PERKASA
Sumber : ekbis.sindonews