Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

12 April 2017

China Hentikan Perdagangan Batubara dengan Korea Utara | PT. KONTAK PERKASA

PT. KONTAK PERKASA - Kesepakatan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Republik Rakyat China Xi Jinping, untuk menekan ambisi nuklir Korea Utara sepertinya mulai terlihat. Melansir dari Reuters, Selasa (11/4/2017), China memerintahkan kapal kargo Korea Utara yang membawa batubara untuk kembali ke negaranya setelah sempat memasuki pelabuhan Nampo.

Kecaman internasional atas tes rudal yang berulang kali dilakukan Korea Utara, membuat China menghentikan semua impor batubara dari Negeri Kim Jong-un. Bahkan Departemen Bea Cukai China sudah mengeluarkan perintah resmi pada 7 April lalu, agar mengembalikan kargo batubara Korea Utara. 

Penerbitan perintah resmi itu bersamaan dengan pertemuan Xi dengan Trump di resor Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida. Namun pihak berwenang China menolak untuk menanggapi spekulasi tersebut. Simak juga : PT. KONTAK PERKASA | Izinkan Ekspor, Bukti Pemerintah Keok Lawan Freeport

Selain menghentikan perdagangan batubara dengan Korea Utara, China dan Korea Selatan pada Senin kemarin sepakat menjatuhkan sanksi lebih keras kepada Korut bila melakukan tes rudal lagi. 

Kembali ke soal bisnis batubara, sebuah sumber di Dandong Chengtai membisikkan bahwa China merupakan pembeli terbesar batubara Korea Utara. Data Eikon menunjukkan bahwa gara-gara larangan itu, sebanyak 600.000 ton batubara Korea Utara tertahan di China dan 2 juta ton terdampar di pelabuhan China.

Korea Utara memang dikenal pemasok utama batubara ke China, terutama dari jenis yang digunakan untuk pembuatan baja, yang dikenal sebagai batubara kokas. Selain Korut, pemasok batubara lainnya untuk China adalah Australia dan Rusia.

Untuk mengisisi kekosongan yang ditinggalkan Korea Utara, China telah dan akan menggenjot impor dari Amerika Serikat, seiring kesepakatan Trump dan Xi untuk mempersempit defisit perdagangan kedua negara. Hal ini sejalan dengan rencana Trump yang ingin menghidupkan kembali sektor batubara di negaranya.

Kesepakatan Trump dan Xi dianggap bisa meningkatkan pasokan batubara dari Amerika Serikat, yang sejak tahun 2014-2016 sempat terhenti. Dan mulai tahun ini, AS memasok batubara sebanyak 400.000 ton ke China. 


Simak juga : PT. KONTAK PERKASA
Sumber : ekbis.sindonews

10 April 2017

Rupiah Awal Pekan Dibuka Perkasa, USD Mencoba Menguat | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan awal pekan, Senin (10/4/2017) dibuka menguat saat mata uang Negeri Paman Sam masih mencoba menguat. Rupiah pagi ini menguat ke kisaran level Rp13.320/USD. 

Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka menguat ke level Rp13.323/USD. Posisi ini lebih baik dari akhir pekan kemarin yang berakhir di level Rp13.341/USD.

Penguatan juga terlihat pada data Bloomberg yang menunjukkan rupiah pada awal perdagangan berada di posisi Rp13.320/USD dengan kisaran harian Rp13.318-Rp13.333/USD. Rupiah sendiri terlihat membaik dibandingkan sebelumnya Rp13.321/USD. 

Posisi rupiah menurut Yahoo Finance pada pagi ini juga menanjak naik ke level Rp13.315/USD dibanding penutupan akhir pekan kemarin di level Rp13.320/USD. Pada hari ini pergerakan mata uang Garuda berada di kisaran level Rp13.313-Rp13.328/USD.

Selain itu, data SINDOnews bersumber dari Limas rupiah juga dibuka positif, saat rupiah bertengger ke level Rp13.320/USD. Poisisi ini menguat dibanding penutupan sebelumnya pada level Rp13.345/USD.

Seperti dilansir Reuters hari ini, USD mencoba menguat terhadap beberapa mata uang utama, setelah diperkuat komentar pejabat The Fed yang menegaskan Bank Sentral AS berkomitmen untuk menaikkan suku bunga acuan. Indeks USD yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama bertambah 0,1% ke level 101.260, mendekati posisi terbaik sejak 15 Maret. 

Pasar keuangan terlihat masih memantau perkembangan perang saudara di Suriah setelah AS melayangkan serangan rudal pekan lalu dari sebuah pangkalan udara di Syria. Kondisi ini membuat USD sedikt mendatar 0,3% menjadi 111.43 saat melawan yen. Sementara euro mengalami penurunan sebesar 0,1% menjadi 1.0580 terhadap USD, ketika sebelumnya sempat menyentuh level 1.0570 atau terendah sejak 9 Maret. 



Sumber : ekbis.sindonews

06 April 2017

Trump Anggap Indonesia Curang dalam Perdagangan, BI Angkat Bicara

PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang gundah gulana. Pasalnya, data perdagangan AS mengalami defisit hingga USD500 miliar atau setara dengan Rp6.650 triliun.

Trump pun memerintahkan untuk menyelidiki negara-negara mitra dagang yang dianggap penyebab perdagangan Negeri Paman Sam menjadi defisit. Ada 16 negara yang dituding: China, Jepang, Jerman, Meksiko, Irlandia, Vietnam, Italia, Korea Selatan, Malaysia, India, Thailand, Prancis, Swiss, Taiwan, Kanada dan Indonesia. 

Defisit AS tertinggi datang dari China yang mencapai USD300 miliar dan defisit perdagangan AS dengan Indonesia mencapai USD8,84 miluar. Media setempat lantas menyatakan negara tersebut melakukan "kecurangan". 

Menanggapi hal itu, Bank Indonesia langsung angkat bicara. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, ada executive order dari Trump pada tanggal 31 Maret, soal penyelidikan terhadap negara-negara di atas. 

"Pemerintah harus mencermati AS terutama executive order dari Trump, yang paling penting dari Kementerian Perdagangan harus melakukan monitoring. BI juga memonitoring karena terkait kurs," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Rabu (5/4/2017).

Mirza menengarai keluarnya daftar tersebut pada 31 Maret 2017, seiring rencana kedatangan Presiden RRC Xi Jinping ke Amerika Serikat. "Saya melihat kenapa kok excecutive orders Trump itu tanggal 31 Maret, dalam rangka kedatangan Presiden Xi Jinping ke Amerika," ujarnya.
 
Terkait Indonesia yang masuk daftar pemeriksaan Trump, Mirza menjelaskan, sebenarnya ada tiga kriteria yang menjelaskan suatu negara dianggap melakukan kecurangan dan merugikan AS secara perdagangan. Pertama, kata Mirza, negara itu punya surplus lebih dari USD20 miliar terhadap AS. "Nah Indonesia tidak, hanya USD13 miliar," terangnya.

Kedua, negara yang current account-nya bersifat surplus, itu adalah negara dengan kegiatan eskpor impornya surplus pada AS. Indonesia memiliki current account defisit 1,8% atau 2% dari PDB, jadi dengan demikian tidak termasuk.

Ketiga negara yang intervensi kursnya satu arah secara terus menerus dalam setahun, yang besarnya sampai 2% dari PDB. "Artinya, intervensi kurs itu sengaja dilemahkan, sehingga ekspornya lebih murah ke AS. Indonesia kan kalau terjadi gejolak, BI masuk ke pasar, yang terjadi malah cegah rupiah terlalu lemah. sedangkan yang disasar Trump adalah yang sengaja buat lemah currency-nya," kata dia. 

Adanya tiga kriteria tersebut, seharusnya tidak membuat Indonesia masuk dalam daftar Trump. Namun, lanjut Mirza, pemerintah dan BI tetap harus mencermati kondisi ini agar tidak mengganggu kegiatan perdagangan Indonesia ke luar negeri terutama AS.

"Jadi dari tiga kriteria itu, Indonesia harusnya enggak masuk. Tapi pemerintah harus terus cermati AS, karena dari executive order itu. Tiga bulan itu akan keluar laporan mengenai negara yang dianggap melakukan unfair subsidies. Yang paling berkepentingan itu teman-teman Kemendag yang harus lakukan monitoring. BI juga monitoring karena terkait kurs," pungkasnya. 



Sumber : ekbis.sindonews