Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

06 Februari 2017

Harga Minyak Dunia Naik Usai AS Beri Sanksi kepada Iran | PT. KONTAK PERKASA

PT. KONTAK PERKASA - Harga minyak dunia naik setelah sebelumnya juga melompat karena Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi pada beberapa individu dan entitas Iran terkait uji coba rudal balistik.

Seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (4/2/2017), harga minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak bulan depan naik 29 sen ke level USD53,83 per barel. Kondisi ini membuat harga minyak AS naik sekitar 1% dalam pekan ini.

Sementara, harga minyak brent juga tercatat naik 24 sen menjadi USD56,80 per barel. Brent berada di jalur untuk kenaikan 2% persen pekan ini, kenaikan signifikan pertama mingguan tahun ini.

Volume minyak mentah AS relatif rendah kemarin sekitar 335.000 kontrak berpindah tangan berada di jalur untuk turun dari rata-rata 200 hari sebesar 528.000.

Ini adalah langkah pertama pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Iran. Ini sesuai janjinya saat kampanye tahun lalu sulit di Teheran. Di bawah sanksi, Departemen Keuangan AS mengumumkan, sebanyak 13 individu dan 12 entitas tidak dapat mengakses sistem keuangan AS atau kesepakatan dengan perusahaan AS.

Seorang senior pemerintahan AS mengatakan bahwa sanksi itu merupakan langkah awal dalam menanggapi perilaku provokatif Iran, untuk mengikuti jika Teheran tidak menghentikan program rudal balistik dan terus mendukung milisi Houthi di Yaman.


Simak juga : PT. KONTAK PERKASA
Sumber : https://ekbis.sindonew

03 Februari 2017

Kesenjangan Sosial di Yogyakarta Semakin Parah | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES - Kesenjangan antara warga kaya dan miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta kian melebar. Bila sebelumnya, gap alias jarak antara si kaya dan si miskin berada di urutan kedua terburuk, kini menjadi peringkat satu dari seluruh wilayah di Indonesia. Sebuah peringkat yang tentu tidak diinginkan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Yogyakarta, J.B. Priyono mengungkapkan, kesenjangan antara warga kaya dan miskin di Yogyakarta memang paling parah. Meski demikian, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebabnya.

Hanya saja, berdasarkan analisa sementara karena profesilah yang mengakibatkan kesenjangan antara warga miskin dan kaya cukup lebar. "Warga miskin itu sebagian besar adalah buruh tani," tuturnya, Kamis (2/2/2017).

Upah buruh tani di Yogyakarta selama ini memang tergolong kecil. Diperparah lagi, pekerjaan dari para buruh tani tersebut tidak selalu ada karena tergantung sekali dengan musim. Upah mereka bahkan terbilang lebih kecil dibanding dengan tukang batu sekalipun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Budi Hanoto mengaku kesenjangan antara keluarga miskin dan kaya yang begitu besar merupakan pekerjaan rumah bagi stakeholder perekonomian di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pihaknya juga belum mengetahui penyebab kesenjangan yang terlalu lebar tersebut.

Ia menduga, sebenarnya orang yang sangat kaya di Yogyakarta hanya segelintir orang. Dan mereka menguasai beberapa perusahaan ataupun usaha yang lainnya. Namun untuk memastikannya, BI akan mencoba melakukan pendataan guna mengetahui aliran permodalan yang masuk ke wilayah ini. "Kami akan lihat sebenarnya asalnya dari pengusaha Yogyakarta atau dari luar Yogyakarta," tuturnya.

Jika dari luar Yogyakarta, maka kemungkinan besar manfaat dari modal yang ditanam di Yogayakarta sangat kecil. Karena sebagian keuntungan dari investasi tersebut lari ke luar daerah. Berbeda dengan ketika pemilik modal yang menguasai sektor bisnis di Yogyakarta tersebut berasal dari Yogyakarta sendiri, tentu aliran dananya akan kembali ke daerah.

Oleh karena itu, ia sangat mendukung langkah yang dilakukan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Yogyakarta yang membentuk Jogja Incorporated. Jogja Incorporated dibentuk dengan tujuan menjadikan pengusaha lokal menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Gerakan tersebut juga menegaskan langkah pengusaha lokal untuk bisa terlibat dalam proses pembangunan ekonomi di wilayah ini.

"Saya sangat setuju dengan Jogja Incorporated tersebut agar bisa memeratakan pendapatan. Sehingga ke depan jarak antara si kaya dan si miskin akan berkurang," tambahnya. 



Sumber : ekbis.sindonews

01 Februari 2017

Lapangan Kerja di Jepang Meningkat, Tertinggi Dalam 25 Tahun | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES - Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang mengumumkan pada Selasa (31/1/2017) bahwa jumlah ketersediaan lapangan kerja meningkat tajam, mencapai level tertinggi sejak 1991. Melansir dari Nikkei Asian Review, hal ini membuat tingkat pengangguran juga turun ke level terendah dalam 22 tahun terakhir.

Meningkatnya pasar tenaga kerja disebabkan mulai pulihnya perekonomian Jepang. Indikator ketersediaan lapangan kerja di Jepang pada tahun 2016 berada di angka 1,36, naik 0,16 poin dari tahun sebelumnya, sekaligus menandai peningkatan selama tujuh tahun berturut-turut.

Tingkat lowongan kerja untuk pencari kerja baru juga naik menjadi 2,04, tertinggi sejak 1991. Lowongan kerja baru yang meningkat adalah di bidang pendidikan, yang naik 8,9% dan lowongan kerja bidang medis yang bertambah 7,1%.

Sementara itu, jumlah pengangguran turun 140.000 orang menjadi 2,08 juta. Dan jumlah orang yang bekerja meningkat menjadi 640.000 orang, dengan 170.000 adalah laki-laki dan 470.000 adalah perempuan. Berdasarkan kelompok usia, antara 15-64 tahun, jumlah pekerja mencapai 270.000 orang, sedangkan 370.000 orang adalah pekerja dengan kelompok usia 65 tahun ke atas.

Masalah terakhir ini agak miris bagi Jepang. Sejak 1968, jumlah populasi Jepang menyusut karena warga Jepang memilih menunda untuk menikah dan menghindari mempunyai keturunan. Alhasil Jepang kekurangan angkatan muda yang menyebabkan Negeri Sakura kekurangan tenaga kerja usia produktif.

Tingginya pekerja di usia lansia berbanding terbalik dengan kondisi 1968. Saat itu, jumlah pekerja di usia produktif di Jepang mencapai 74,3%. Namun pada dekade lalu, jumlah penduduk usia produktif di negara yang dipimpin Kaisar Akihito itu, menyusut menjadi 7,7 juta jiwa dari total 76,3 juta populasi Jepang. Data NHK tahun lalu, jumlah penduduk usia di atas 65 tahun meningkat menjadi 34,61 juta jiwa atau 27,3% dari total penduduk Jepang. 



Sumber ; ekbis.sindonews