Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

03 Januari 2017

Hari Pertama 2017, Pasar Asia Dibuka Menguat | KONTAK PERKASA FUTURES

KONTAK PERKASA FUTURES - Hari pertama tahun 2017, bursa saham Asia dibuka menguat pada perdagangan Selasa (3/1/2017), yang salah satu faktornya adalah menjelang pengumuman data PMI China dan kesepakatan perbankan antara Australia dan Selandia Baru.

Melansir dari CNBC, Selasa (3/1/2017), Australia ASX 200 dibuka naik 0,96%, didukung oleh keuntungan semua sub indeks. Kenaikan bursa Australia di tahun 2017 ini seolah melanjutkan kenaikan indeks di akhir 2016, yang secara keseluruhan naik 6,99%, kondisi terbaik sejak 2013 yang ketika itu bullish sebesar 15,13%.

Di Korea Selatan, Kospi dibuka naik 0,23%, memanfaatkan keuntungan dari eksportir automotif mereka, dimana saham Hyundai naik 0,33% dan afiliasinya Kia Motors bertambah 1,52%. Awal 2017 ini, Hyundai Motor dan Kia Motors mengumumkan target penjualan sebesar 8,25 juta unit kendaraan secara global, lebih tinggi dibandingkan 2016 sebesar 8,13 juta unit.

Adapun, indeks Shanghai China dibuka datar di level 3.103,64. Investor masih menunggu data Manufacturing Purchasing Manager's Index (PMI) pada Desember kemarin. Sementara itu, bursa Selandia Baru, Jepang, dan Thailand masih ditutup karena libur nasional. 



Sumber : ekbis.sindonews

30 Desember 2016

Pasar Indonesia Makin Terbuka Bikin Barang Impor Mudah Masuk | PT. KONTAK PERKASA

PT. KONTAK PERKASA -  Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pasar Indonesia saat ini semakin terbuka luas. Sehingga, banyak barang impor dengan begitu mudah masuk ke dalam negeri.

Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, pada saat barang asing membanjiri pasar Indonesia, produk lokal justru susah bersaing di global. Inilah yang membuat angka impor masih tinggi.

"Tingginya impor ke Indonesia terjadi akibat minimnya hambatan nontarif, itu yang membuktikan pasar kita semakin liberal. Bahkan lebih liberal dibanding Amerika Serikat (AS)," ujarnya di Jakarta, Kamis (29/12/2016).

Heri menjelaskan, Indonesia hanya mempunyai 272 barang yang masuk non tariff measures (NTM). Artinya, hanya sebanyak itu barang yang dilindungi dari puluhan ribu produk yang masuk ke Indonesia.

Sementara, lanjut dia, di AS sudah ada 4.780 produk, Uni Eropa sebanyak 6.805 produk, dan China mencapai 2.194 produk. Daya saing yang melemah ini dinilai dapat membuat laju ekspor masih rendah beberapa tahun terakhir.

"Memang karena global melambat menyebabkan industri kita alami kontraksi. Di saat yang sama, pemerintah lambat dalam mencari potensi pasar baru yang potensial," kata Heri.

Menurutnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan mengalami surplus. Namun, banyaknya impor terutama barang konsumsi membuat surplus yang terjadi dinilai tidak sehat.

"Tahun depan jangan ada lagi kondisi seperti ini. Pemerintah harus memperbanyak kebijakan NTM tapi dibarengi dengan data yang kuat dan kebijakan itu mestinya jangan sampai mudah dibuat partner kita di WTO," ujar dia.

Simak juga : PT. KONTAK PERKASA

Sumber : ekbis.sindonews

29 Desember 2016

Rupiah Diramal Sulit Berbalik Melawan Dominasi USD | PT. KONTAK PERKASA FUTURES

PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Pergerakan rupiah diprediksi akan dapat kembali bertahan dari dominasi penguatan laju dolar Amerika Serikat (USD) yang masih berlangsung. Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memperkirakan rupiah akan bergerak dengan kisaran support Rp13.472/USD dan resisten Rp13.440/USD.

"Minimnya sentimen dari dalam negeri membuat laju rupiah minim perlawanan untuk berbalik naik. Diharapkan pelemahan rupiah dapat lebih terbatas," ujarnya di Jakarta, Kamis (29/12/2016).

Sementara, laju rupiah kemarin masih melanjutkan pergerakan negatif seiring imbas masih menguatnya laju USD terhadap sejumlah mata uang. Pada data ekonomi AS, indeks Kepercayaan Konsumen yang dirilis The Conference Board di level 113,7 pada Desember, naik dari 109,4 pada November membuat laju USD percaya diri melanjutkan penguatannya sehingga berimbas pada tertahannya laju rupiah. 

Dari dalam negeri tidak jauh berbeda dari sehari sebelumnya dimana tidak banyak sentimen yang secara signfikan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah untuk menjadi lebih positif. Apalagi Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyampaikan, pencapaian uang tebusan pada periode dua pengampunan pajak atau amnesti pajak tidak terlalu spektakuler seperti realisasi periode satu yang sempat mencapai kisaran Rp97,2 triliun.

"Hingga 28 Desember 2016, realisasi uang tebusan berdasarkan penerimaan Surat Setoran Pajak baru mencapai Rp105 triliun, atau hanya naik sekitar Rp7,8 triliun dari pencapaian uang tebusan pada akhir periode satu sebesar Rp97,2 triliun," paparnya. 



Sumber : ekbis.sindonews