Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

30 November 2016

Harga minyak merosot di tengah pesimisme pengurangan produksi | PT. KONTAK PERKASA

PT. KONTAK PERKASA - Harga minyak dunia merosot hampir empat persen pada Selasa (Rabu pagi WIB), di tengah berita bahwa produsen-produsen minyak utama tidak setuju tentang distribusi pengurangan produksi.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, turun 1,85 dolar AS menjadi menetap di 45,23 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari, berkurang 1,86 dolar AS menjadi ditutup pada 46,38 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. 

Laporan-laporan media mengatakan pada Selasa bahwa Iran dan Irak telah menolak tekanan dari Arab Saudi untuk memangkas produksi minyak mentah, sehingga sulit bagi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencapai kesepakatan pembatasan produksi global ketika bertemu pada Rabu.

Sumber-sumber OPEC mengatakan kepada Reuters, pertemuan para ahli di Wina pada Senin gagal menjembatani perbedaan antara pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi, dengan kelompok produsen kedua dan ketiga terbesar atas mekanisme pemotongan produksi.

"Pemulihan pangsa Iran yang hilang di pasar minyak adalah kehendak nasional dan tuntutan rakyat Iran," kantor berita Iran Shana mengutip perkataan menteri minyak negara itu Bijan Zanganeh, yang dijadwalkan tiba di Wina pada Selasa.

OPEC, yang menyumbang sepertiga produksi minyak dunia,pada September menyepakati untuk membatasi produksi pada sekitar 32,5-33,0 juta barel per hari dibandingkan dengan saat ini 33,64 juta barel per hari untuk menopang harga minyak, yang telah terbelah sejak pertengahan 2014.

Iran berpendapat pihaknya ingin menaikkan produksi untuk mendapatkan kembali pangsa pasarnya yang hilang di bawah sanksi-sanksi Barat, ketika rival politiknya Arab Saudi meningkatkan produksi.

Dalam beberapa pekan terakhir, Riyadh menawarkan untuk memangkas produksinya sendiri sebesar 0,5 juta barel per hari, menurut sumber-sumber OPEC, dan menyarankan pembatasn produksi Iran di bawah empat juta barel per hari. Teheran telah mengirimkan sinyal beragam termasuk ingin memproduksi 4,2 juta barel per hari.

Irak juga telah menekankan untuk batas produksi yang lebih tinggi, mengatakan bahwa negaranya perlu lebih banyak uang untuk melawan kelompok militan Negara Islam (ISIS).

Argumen antara Irak dan Arab Saudi terutama berfokus pada apakah Baghdad harus menggunakan perkiraan produksinya sendiri untuk membatasi produksi atau mengandalkan angka yang lebih rendah dari para ahli OPEC.

Sementara itu, Rusia mengatakan tidak akan menghadiri pembicaraan utama dengan OPEC pada Rabu di Wina, Austria.

Beberapa analis termasuk Morgan Stanley dan Macquarie telah mengatakan harga minyak akan terkoreksi tajam jika OPEC gagal untuk mencapai kesepakatan, berpotensi akan mencapai serendah 35 dolar AS per barel, demikian Xinhua. 

PT. KONTAK PERKASA
COPYRIGHT © ANTARA 2016

29 November 2016

Wall Street turun akibat aksi ambil untung | PT. KONTAK PERKASA FUTURES

PT. KONTAK PERKASA FUTURES - Saham-saham di Wall Street berakhir lebih rendah pada Senin (Selasa pagi WIB), karena para investor melakukan aksi ambil untung setelah kenaikan kuat baru-baru ini.

Xinhua melaporkan, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 54,24 poin atau 0,28 persen menjadi ditutup pada 19.097,90 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 11,63 poin atau 0,53 persen menjadi berakhir di 2.201,72 poin, dan indeks komposit Nasdaq turun 30,11 poin atau 0,56 persen menjadi 5.368,81 poin.

Dipicu oleh apa yang disebut "Trump Rally" setelah pemilihan presiden AS, saham-saham AS telah naik selama tiga minggu berturut-turut sampai Jumat lalu (25/11).

Pada Jumat (25/11), semua tiga indeks utama ditutup di rekor tertinggi mereka, dengan kedua Dow dan Nasdaq memperpanjang rekor lari mereka ke sesi keempat berturut-turut.

Para pedagang juga terus mengawasi volatilitas pada harga minyak menjelang pertemuan penting Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pekan ini (30/11).

OPEC telah sepakat pada September untuk memangkas produksi mereka di tengah banjir pasokan global, tetapi meninggalkan rincian tentang berapa banyak pengurangan tersebut untuk pertemuan di Wina pada Rabu (30/11).

Harga minyak meningkat secara substansial pada Senin setelah awalnya jatuh sebanyak dua persen, karena Irak dan Iran keduanya menyatakan kesediaan untuk memangkas produksi minyak mentah mereka.

Tidak ada data ekonomi utama yang dirilis pada Senin. Wall Street akan fokus pada laporan penggajian (payrolls) non pertanian untuk November pada Jumat (2/12) untuk indikasi lebih lanjut tentang waktu kenaikan suku bunga berikutnya.

Federal Reserve AS secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember. Menurut alat FedWatch CME Group pada Senin, ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga Desember mencapai 95,9 persen. 

PT. KONTAK PERKASA FUTURES
COPYRIGHT © ANTARA 2016

28 November 2016

Harga emas turun tertekan penguatan ekuitas AS | KONTAK PERKASA FUTURES MAKASSAR

KONTAK PERKASA FUTURES - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir lebih rendah pada Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah pasar ekuitas AS menyentuh rekor tertinggi baru.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Desember turun 10,9 dolar AS, atau 0,92 persen menjadi 1.178,40 dolar AS per ounce.

Emas diletakkan di bawah tekanan lebih luas karena Dow Jones Industrial Average (DJIA) AS mencapai rekor tertinggi 19.152,14 poin, meningkat 68 poin atau 0,36 persen dari hari sebelumnya.

Analis mencatat bahwa ketika ekuitas AS membukukan kerugian maka logam mulia biasanya naik, karena investor mencari tempat yang aman. Sementara itu, sebaliknya ketika ekuitas AS membukukan keuntungan maka logam mulia biasanya turun. 

Dalam hal ini, DJIA mencapai rekor tertinggi, mendorong investor beralih ke ekuitas karena emas merupakan aset yang tidak memberikan suku bunga.

Namun, logam mulia dicegah dari penurunan lebih lanjut karena indeks dolar AS turun 0,2 persen menjadi 101,49 pada pukul 18.45 GMT. Indeks adalah ukuran dari dolar terhadap sekeranjang mata uang utama.

Emas dan dolar biasanya bergerak berlawanan arah, yang berarti jika dolar naik maka emas berjangka akan jatuh, karena emas yang diukur dengan dolar menjadi lebih mahal bagi investor.

Emas juga diletakkan di bawah tekanan lebih lanjut karena laporan yang dirilis pada Jumat oleh Markit Economics yang berbasis di Inggris menunjukkan PMI Sektor Jasa AS berada di 54,7 pada November, angka yang dicatat analis menunjukkan pertumbuhan bisnis baru pada tingkat tercepat sejak tepat satu tahun sebelumnya. Para analis yang sama mencatat bahwa "backlog " (jaminan simpanan) telah menurun, tetapi bahwa pesanan baru naik.

Perak untuk pengiriman Desember naik 7,9 sen, atau 0,48 persen ditutup pada 16,47 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 22,8 dolar AS, atau 2,45 persen ditutup pada 908,30 dolar AS per ounce, demikian Xinhua melaporkan. 

Baca juga : PT. KONTAK PERKASA FUTURES MAKASSAR
COPYRIGHT © ANTARA 2016