Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

19 September 2016

Data inflasi AS tekan harga emas

KONTAK PERKASA FUTURES – Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir turun pada Jumat (Sabtu pagi WIB), karena data inflasi AS memberikan tekanan terhadap logam mulia.
Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Desember turun 7,8 dolar AS, atau 0,59 persen, menjadi 1.310,2 dolar AS per ounce.
Sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS, Jumat, menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) meningkat lebih besar dari yang diperkirakan 0,2 persen selama Agustus, merupakan peningkatan 1,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Para analis mencatat bahwa sebagian besar sub-pengukur juga menunjukkan peningkatan harga. Hal ini memberikan amunisi untuk “hawks” di Federal Reserve AS, karena dua tugas utama bank sentral AS adalah meningkatkan lapangan pekerjaan dan menjaga inflasi di bawah kendali.
“Hawks” adalah sebuah kebijakan ekonomi suatu negara yang lakukan untuk menyeimbangkan harga-harga barang dengan cara menaikkan suku bunga.
Ekspektasi saat ini adalah bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dari 0,50 ke 0,75 selama pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember.
Menurut alat Fedwatch CME Group, probabilitas tersirat saat ini untuk menaikan suku bunga dari 0,50 ke 0,75 adalah sebesar 15 persen pada pertemuan September 2016, 22 persen pada pertemuan November 2016, dan 52 persen pada pertemuan Desember 2016.
Para analis percaya Fed bermaksud untuk menyerap dana sekitar 2,5 triliun dolar AS dari kelebihan cadangan bank-bank. Karena ekonomi AS mulai pulih, bank-bank menjadi lebih berani mengambil risiko dalam ekonomi yang “bullish“, dan sebagai hasilnya berpotensi melepaskan beberapa cadangan berlebihan mereka, membanjiri ekonomi dengan uang tunai, sehingga menyebabkan inflasi.
Selain itu, indeks dolar AS naik 0,84 persen menjadi 96,08 pada pukul 17.15 GMT. Indeks adalah ukuran dari dolar terhadap sekeranjang mata uang utama.
Emas dan dolar biasanya bergerak berlawanan arah, yang berarti jika dolar naik maka emas berjangka akan jatuh, karena emas yang diukur dengan dolar menjadi lebih mahal bagi investor.
Perak untuk pengiriman Desember turun 17,9 sen, atau 0,94 persen, menjadi ditutup pada 18,862 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober turun 16,2 dolar AS, atau 1,57 persen ditutup pada 1.017,6 dolar per ounce. KONTAK PERKASA FUTURES
COPYRIGHT © ANTARA 2016

 KONTAK PERKASA FUTURES

03 November 2015

Emas turun

KONTAK PERKASA FUTURES - Emas berjangka di divisi New York Mercantile Exchange berakhir turun pada Selasa pagi, karena perdagangan teknikal dan data AS yang positif menekan logam mulia. Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Desember turun 5,5 dolar AS, atau 0,48 persen, menjadi menetap di 1.135,90 dolar AS per ounce, lapor Xinhua. Logam mulia berada di bawah tekanan sebagai Institute for Supply Management (ISM) mengatakan pada Senin bahwa PMI Oktober tercatat 50,1 persen, turun dari angka September di 50,2 persen, tetapi di atas ekspektasi pasar 50,0 persen. Emas selanjutnya tertekan lagi ketika Departemen Perdagangan AS mengatakan Indeks Pembelian Manajer (PMI) sektorMANUFAKTUR naik menjadi 54,1, yang merupakan angka terkuat sejak April 2015. Data positif memicu spekulasi tentang kemungkinan Federal Reserve AS untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember. Alat Fedwatch CME Group menempatkan peluang saat ini untuk kenaikan suku bunga pada 47 persen. Peningkatan suku bunga Fed mendorong investor menjauh dari emas dan menuju aset-aset dengan imbal hasil, karena logam mulia tidak mengenakan suku bunga. Ekspektasi semula untuk penundaan kenaikan suku bunga sampai 2016. Belum ada peningkatan suku bunga The Fed sejak Juni 2006, sebelum awal krisis keuangan Amerika. Perak untuk pengiriman Desember turun 15,9 sen, atau 1,02 persen, menjadi ditutup pada 15,408 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 10,7 dolar AS, atau 1,08 persen, menjadi ditutup pada 978,40 dolar AS per ounce.

Harga minyak turun tertekan data Tiongkok dan Rusia

KONTAK PERKASA FUTURES - Harga minyak duni turun pada Selasa pagi, setelah data menunjukkan produksiMANUFAKTUR Tiongkok terus mengalami kontraksi dan produksi minyak Rusia mencapai rekor tertinggi baru. Prospek melemahnya permintaan di Tiongkok, konsumen energi terbesar di dunia, dan peningkatan produksi Rusia menambah kekhawatiran tentang kelebihan pasokan minyak global yang telah mendorong harga lebih rendah lebih dari 50 persen sejak pertengahan 2014, lapor AFP. Setelah tiga sesi berturut-turut naik pekan lalu, patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember ditutup pada 46,14 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, turun 45 sen dari penutupan Jumat lalu. Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Desember, patokan minyak dunia, jatuh 77 sen menjadi 48,79 dolar AS di perdagangan London. "Ini secara keseluruhan hanya sebuah pasar yang kelebihan pasokan dengan permintaan yang tidak benar-benar cukup untuk membuat orang bersemangat," kata Kyle Cooper di IAF Advisors. Indeks pembelian manajer (PMI) resmi Tiongkok untuk sektorMANUFAKTURmenunjukkan aktivitas menyusut pada Oktober untuk bulan ketiga berturut-turut. "PMI Tiongkok hanya sedikit mengecewakan, tapi itu cukup untuk memperbaharui sentimen bearish di seluruh pasar minyak," kata John Kilduff dari Again Capital. Tim Evans dari Citi Futures mengatakan "tidak ada urgensi" untuk melakukan penjualan pada Senin meskipun ada berita Tiongkok dan Rusia atau Iran bergerak lebih dekat dengan pencabutan sanksi internasional, yang telah membuat ekspornya tertatih-tatih. "Sebuah pelambatan ekonomi di Tiongkok dan perkembangan nuklir Iran rupanya tidak membuat berita lebih panjang, setidaknya sejauh pasar minyak yang bersangkutan," kata Evans. "Kami melihat kepuasan berisiko mengenai kelebihan fisik yang sedang berlangsung." Produksi minyak Rusia memecahkan rekor pasca-Soviet pada Oktober, naik menjadi 10,78 juta barel per hari, menurut Bloomberg News. Meskipun produksi Arab Saudi berkurang pada bulan lalu, sekitar 10,1 juta barel per hari, kerajaan ini tetap eksportir minyak mentah terbesar di dunia.