Disclaimer : Semua artikel dan konten yang terdapat dalam portal ini hanya bersifat informasi saja. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari portal kami.

17 Desember 2014

Harga emas turun untuk sesi kelima jelang pernyataan Fed

KONTAK PERKASA FUTURES - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun pada Rabu pagi untuk sesi kelima berturut-turut, ketika Federal Reserve AS memulai pertemuan kebijakan dua hari untuk membahas langkah menaikkan suku bunganya. Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Februari kehilangan 13,4 dolar AS atau 1,11 persen, menjadi menetap di 1.194,3 dolar AS per ounce, lapor Xinhua. Catatan pertemuan, yang diharapkan akan dirilis pada Rabu pukul 14.00 waktu AS bagian timur, akan memberi para investor indikasi berapa lama lagi bank sentral AS akan mempertahankan suku bunganya mendekati nol. Emas berjangka juga mengalami tekanan dari kekhawatiran bahwa Rusia kemungkinan menjual cadangan emasnya. Rubel Rusia jatuh selama akhir pekan dan kehilangan 8,0 persen dari nilai pada Senin, karena harga minyak anjlok. Bank sentral Rusia pada Selasa pagi mengumumkan kenaikan suku bunga utamanya menjadi 17 persen, langkah dramatis yang datang beberapa hari setelah menaikkan tingkat menjadi 10,5 persen. Analis mengatakan bahwa ekonomi Rusia bergantung pada harga minyak yang tetap tinggi. Bank sentral Rusia menghabiskan puluhan miliar dolar AS tahun ini mencoba untuk memperlambat penurunan rubel, memicu spekulasi bahwa Rusia kemungkinan terpaksa menjual cadangan logam mulianya. Harga emas mungkin telah dicegah dari kejatuhan lebih lanjut karena para analis mencatat sebuah penurunan dalam indeks spot dolar AS, ukuran dolar terhadap mata uang utama lainnya. Komoditas seperti emas yang diperdagangkan dalam dolar sering diuntungkan dari greenback yang melemah. Perak untuk pengiriman Maret kehilangan 81,1 sen atau 4,90 persen, menjadi ditutup pada 15,752 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari kehilangan 18,4 dolar AS atau 1,51 persen, menjadi ditutup pada 1.196,5 dolar AS per ounce.

Wall Street berakhir melemah setelah sesi fluktuatif

KONTAK PERKASA FUTURES - Saham-saham di Wall Street ditutup melemah pada Rabu pagi, setelah menjalani sesi fluktuatif di tengah kegelisahan atas terjunnya harga minyak dan kejatuhan rubel Rusia. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 111,97 poin (0,65 persen) menjadi berakhir di 17.068,87. Indeks saham unggulan (blue-chip) ini sempat naik setinggi 17.427,44 menjelang siang sebelum jatuh kembali, lapor AFP. Indeks berbasis luas S&P 500 turun 16,89 poin (0,85 persen) menjadi 1.972,74, sedangkan indeks teknologi komposit Nasdaq merosot 57,32 poin (1,24 persen) menjadi 4.547,83. Harga minyak AS stabil, namun kontrak acuan Eropa jatuh di bawah 60 dolar AS per barel. Sementara itu, mata uang rubel Rusia jatuh ke posisi terendah ekstrim pada Selasa, diperdagangkan pada 80 rubel terhadap dolar dan 100 rubel terhadap euro. Menambah bervariasi, investor sedang mengincar pertemuan Federal Reserve AS yang akan berakhir Rabu dengan pengumuman kebijakan yang bisa menyesuaikan prospek bank sentral untuk menaikkan suku bunganya pada 2015. "Ada banyak potongan dalam bermain," kata Jack Ablin, direktur investasi di BMO Private Bank. Sebuah aksi jual di saham teknologi antara lain memukul Apple turun 1,4 persen, Facebook melemah 3,0 persen dan Google jatuh 3,6 persen. Microsoft turun 3,2 persen karena penurunan peringkat dari Bank of America Merrill Lynch, yang mengutip sebuah "prospek suram" dan "penilaian tinggi" sahamnya. Citigroup turun 3,1 persen di tengah kekhawatiran bahwa pihaknya lebih terpapar kondisi ekonomi Rusia daripada bank-bank besar lainnya. Beberapa saham terkait minyak menguat karena harga minyak AS stabil. Komponen Dow Chevron naik 0,8 persen, Apache naik 2,7 persen dan perusahaan jasa minyak Schlumberger naik 0,4 persen. Anggota Dow Boeing naik 1,8 persen setelah mengumumkan kenaikan dividen kuartalannya sebesar 25 persen dan meningkatkan rencana pembelian kembali sahamnya menjadi 12 miliar dolar AS. Raksasa kedirgantaraan itu memiliki 4,8 miliar dolar AS sisa hak pembelian kembali sahamnya. Toko obat atau apotek CVS Health naik 2,7 persen karena memproyeksi laba 2015 sebesar 5,05-5,19 dolar AS per saham. Analis memperkirakan 5,11 dolar AS per saham pada laba tahun depan. Harga obligasi naik. Imbal hasil pada obligasi 10-tahun pemerintah AS turun menjadi 2,07 persen dari 2,12 persen pada Senin, sementara pada obligasi 30-tahun turun menjadi 2,70 persen dari 2,75 persen. Imbal hasil dan harga obligasi bergerak terbalik.

Presiden Jokowi nilai fundamental ekonomi nasional kuat

KONTAK PERKASA FUTURES - Presiden Joko Widodo menilai fundamental ekonomi nasional kuat untuk menghadapi tekanan terhadap mata uang rupiah sehingga dalam jangka panjang kondisinya dapat membaik."Dengan fundamental ekonomi kita, dengan perbaikan ruang fiskal kita semoga untuk Indonesia (pelemahan mata uang terhadap dolas AS-red) itu tidak berjalan lama," kata Presiden usai menghadiri rapat kerja Badan Pemeriksa Keuangan di Gedung BPK Jakarta, Selasa malam.Presiden mengatakan semua mata uang negara lainnya juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS."Ini memang di seluruh negara pelemahan mata uang, negara-negara lain terutama karena ada penarikan kembali (uang-red) ke Amerika," paparnya.Dengan fundamental ekonomi nasional dan juga perbaikan ruang fiskal, kata Presiden, pada 2015 diharapkan tidak lagi mengalami tekanan yang berkepanjangan."Mulai tahun depan kita harapkan dalam jangka yang agak panjang untuk neraca kita akan terus kita dorong industri-industri yang ke ekspor dan tentu mengerem barang-barang impor. Jalan yang paling baik," kata Kepala Negara.Presiden Joko Widodo juga mengatakan Bank Indonesia telah melakukan upaya dalam masalah ini antara lain dengan melakukan intervensi pasar.