Tokyo, Bloomberg (15/05) – Nikkei 225 stock average Jepang tutup diatas level 15000 untuk pertama kalinya sejak tahun 2007 setelah yen menyentuh level terendah 4,5 tahun terhadap dollar. Index Nikkei 225 gain 2.3 persen dan berakhir pada posisi 15096.03 di Tokyo, tertinggi sejak 28 Desember 2007 silam. Volume perdagangan bursa mencapai 54 persen diatas rata-rata 30 hari. Sementara, index Topix ditutup 1.8 persen lebih tinggi di posisi 1,252.85. "Setiap kali yen jatuh di bawah level kunci, Nikkei melewati tertinggi sebelumnya karena penurunan yen bisa meningkatkan keuntungan perusahaan, terutama bagi produsen," kata Masaru Hamasaki, senior strategist dari Sumitomo Mitsui Asset Management Co. "Saham-saham akan meningkat lebih lanjut karena investor menyadari dampak dari kebijakan pelonggaran pemerintah Jepang. Dan berdasar pada hal itu, saya berpikir saham-saham belum mahal." Yen menyentuh 102,43 per dolar, terendah sejak Oktober 2008, sebelum diperdagangkan pada 102,24 per dollar. Saham Sony melonjak hingga 10 persen di 2.072 yen, perolehan saham tertinggi sejak 22 Juli 2011 setelah Loeb, pendiri Third Point LLC, merekomendasikan jual sebanyak 20 persen dari unit Sony Entertaiment dalam initial public offering yang akan membebaskannya dari kebangkrutan bisnis elektroniknya. Dari 754 perusahaan di Topix yang telah melaporkan laba setahun penuh sejak 1 April, dan yang memiliki estimasi dari Bloomberg, sebanyak 452 telah mengalahkan proyeksi analis.
15 Mei 2013
Mizuho perkirakan laba menurun dari tertinggi 6-tahun
Mei 15, 2013
News Market
Ekspansi ekonomi Jerman menyusut di kuartal pertama
Mei 15, 2013
News Market
Bloomberg, (15/5) - Perekonomian Jerman, terbesar di Eropa tumbuh kurang dari perkiraan ekonom pada kuartal pertama. Produk domestik bruto (GDP) naik 0,1 persen dari kuartal keempat ketika direvisi turun ke 0,7 persen berdasarkan rilis dari Kantor Statistik Federal di Wiesbaden hari ini. Para ekonom memperkirakan untuk kenaikan sebesar 0,3 persen, menurut median dari 41 ekonom dalam survei Bloomberg News. Sementara itu, perekonomian Prancis jatuh ke resesi kedua dalam satu tahun, dengan output produksi yang terkontraksi sebesar 0,2 persen di kuartal pertama. Pemulihan ekonomi Jerman mungkin mengalami penundaan karena musim dingin yang sangat panjang, yang meredam kegiatan konstruksi dan kepercayaan bisnis, kata Bundesbank. Hasil GDP yang lebih lemah dari perkiraan ini tetap menyoroti risiko terhadap prospek ekonomi 17-negara pengguna mata uang tunggal tersebut yang hampir pasti masih terjebak dalam resesi. (brc)
Langganan:
Postingan (Atom)













